News Ticker

Denny Siregar: Kisah Rini Mantan Polwan, Pelaku Bom Bunuh Diri

Bom bunuh diri, teroris, radikal Pelaku "Pengantin" bom bunuh diri

Arrahmahnews.com, Jakarta – Kisah miris Rini seorang wanita mantan anggota Polwan yang salah ikut pengajian dan pergaulan yang akhirnya direkrut kelompok teroris untuk dijadikan pelaku “pengantin” bom bunuh diri, doktrinisasi kelompok radikal semakin hari semakin merisaukan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sangat beragam ini.

Jelas. Betapa mudahnya seseorang dari yang awalnya punya tekad untuk membela negara menjadi musuh negara. Ini karena kosongnya pengetahuan agama secara hakikat dan sibuk belajar ritual sehingga otaknya mudah dicuci

Berikut kisahnya yang dikutip dari DennySiregar.id:

Rini adalah seorang Polwan.. Ia masuk menjadi anggota polisi dengan semua pemahaman tentang Pancasila dan keinginan membela tanah air.

Baca: Polwan “Pengantin Bom” yang Terpapar Radikalisme Dipecat

Sesudah bertugas beberapa tahun, ia tertarik belajar agama. Maka ia datang ke sebuah masjid dan bertanya-tanya. Lalu ikutlah dia ke sebuah pengajian. Dari pengajian itu Rini berubah. Di rumah, Rini memakai cadar sesudah mengganti seragam polisinya.

Sesudah bercerai dengan suaminya, Rini semakin aktif ke pengajian. Ia lalu dimasukkan ke grup-grup WA dan Telegram untuk mengikuti kajian. Jaringan Rini semakin luas. Posisinya sebagai abdi negara menarik perhatian beberapa orang untuk menariknya “lebih dalam”.

Rini dihubungi lewat private message oleh seseorang bernama, sebut saja Kumbang. Si Kumbang ini mengaku sebagai duda yang mencari istri. Perkenalan berlanjut dan si Kumbang mengajak Rini lari dari rumah dan memulai hidup baru bersamanya.

Mereka kemudian dinikahkah secara siri oleh seorang “ustad”. Sejak itu, Rini tidak pernah lagi datang ke kantor dan memenuhi tugasnya. Semua komunikasi diputus dan hape dibuang.

Baca: Kenapa Semua Serangan Bom Bunuh Diri Pelakunya Wahabi?

Bersama suami siri yang baru dikenalnya, Rini kemudian disiapkan menjadi “pengantin” bunuh diri. Rini dipersiapkan untuk sebuah misi dengan janji akan masuk ke surga jika berhasil mengorbankan banyak nyawa. Terutama nyawa para petugas Polisi.

Tetapi kepolisian berhasil mencium jejak Rini. Ia kemudian diburu oleh pasukan khusus dan ditangkap dalam kondisi sudah siap secara mental untuk berangkat. Rini hanya membutuhkan waktu kurang dari setahun mulai ingin belajar Islam sampai siap menjadi bom manusia.

Mengerikan?

Jelas. Betapa mudahnya seseorang dari yang awalnya punya tekad untuk membela negara menjadi musuh negara. Ini karena kosongnya pengetahuan agama secara hakikat dan sibuk belajar ritual sehingga otaknya mudah dicuci.

Dan yang lebih mengerikan, disekitar kita banyak Rini Rini lainnya yang kerja di TNI, di BUMN, sebagai ASN. Itu belum terhitung yang kerja di sektor swasta atau yang mengundurkan diri dari Bank tempatnya dulu bekerja karena cuci otak bahwa ia melakukan riba.

Radikalisme di negeri ini sudah berada pada zona merah karena longgarnya pengawasan dan gamangnya pimpinan bertindak karena takut berbenturan dengan “agama”. Atau mungkin pimpinan tempat ia bekerjalah salah satu anggota jaringan.

Baca: Pengantin Bom Istana Dapat Perintah Langsung dari Bahrun Naim Melalui Telegram

Radikalisme di Indonesia sudah harus dimasukkan sebagai “kejahatan luar biasa”. Harus ada perhatian khusus dan team khusus juga komitmen kuat untuk memberantasnya.

Dimulai dari screening ditubuh aparat dan pegawai pemerintah. Harus dibuat payung hukum supaya mudah menjalankannya. Dan disini pemerintah dan DPR punya tanggung jawab besar untuk memikirkannya.

Apa harus tunggu “bom Bali” kembali meledak karena kita masih ragu dan lunak? Apa menunggu seorang pejabat terluka baru kita sibuk mencerca?

Semua peristiwa pasti ada pembelajaran di dalamnya. Kecuali kita tidak mau belajar dan rela menjadi bodoh sampai muncul korban-korban jiwa. Seruput kopinya. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: