News Ticker

Mantan Budak Seks ISIS: Kematian Baghdadi Tak Cukup

Arrahmahnews.com, IRAK – Mantan budak ISIS, pemenang Hadiah Nobel dan aktivis Yazidi, Nadia Murad pada Hari Rabu (30/10), menyambut kematian pemimpin Daesh/ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi, tetapi memperingatkan bahwa ada “ribuan” militan garis keras yang siap menggantikannya.

Berbicara kepada wartawan di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Murad, yang selamat dari perbudakan seksual di tangan Daesh/ISIS, menyerukan upaya berkelanjutan untuk menghapus para ekstremis dan untuk memastikan mereka yang menciptakan kekhalifahan untuk mendapatkan keadilan.

“Kami tidak ingin hanya melihat [anggota] ISIS seperti Baghdadi terbunuh, kami ingin melihat keadilan,” kata Murad dalam bahasa Inggris, menggunakan nama lain untuk Daesh. “Ada ribuan ISIS, mereka bergabung dengan al-Baghdadi dan mereka terus melakukan apa yang dia lakukan.”

Baca: Trump Gunakan Kematian Al-Baghdadi Sebagai Token untuk Kampanye Pemilu

Menurut klaim Amerika, Al-Baghdadi terbunuh setelah meledakkan rompi bunuh dirinya dalam operasi militer di barat laut Suriah. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Baghdadi pada hari Minggu. Masih belum jelas siapa yang akan mengambil alih sebagai komandan ISIS.

“Ini hanya Baghdadi dan bagaimana dengan semua anggota ISIS [lainnya],” kata Murad.

“Bagaimana dengan semua yang memperkosa kami, menjual kami, mereka masih menahan anak-anak perempuan kami, mereka masih memiliki anak-anak kami,” katanya. “Ada ribuan ISIS, seperti Baghdadi, dan mereka siap untuk melakukan apa yang dia lakukan dan mereka sudah melakukannya dan mereka tidak menyerah. Jadi kami ingin melihat lebih banyak dan kami ingin melihat keadilan.”

Baca: Rusia: Tidak Ada Konfirmasi Kematian Al-Baghdadi

Kelompok teror ISIS mengamuk di seluruh Sinjar, di Irak utara, pada tahun 2014, membantai laki-laki dan remajanya dan mengubah ribuan perempuan serta anak perempuan dari kelompok agama minoritas Yazidi menjadi budak seks. Tragedi itu oleh PBB ditetapkan sebagai genosida.

Murad, yang diculik dengan saudara perempuannya, beberapa keponakan dan teman-temannya, ditahan di Mosul, Irak, tempat ia dilecehkan dan disiksa sebelum berhasil melarikan diri.

Teroris Daesh / ISIS juga membantai ibunya, enam saudara laki-laki dan kerabat lainnya. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: