NewsTicker

The Guardian: Waktunya Minta Pertanggung-jawaban AS atas Kejahatan Perang di Yaman

Arrahmahnews.com, AMERIKA SERIKAT – Sejak Arab Saudi dan sekutunya campur tangan dalam perang saudara Yaman pada Maret 2015, Amerika Serikat memberikan dukungan penuh untuk serangan udara brutal tanpa henti di mana pesawat tempur dan bom Saudi mengenai ribuan sasaran, termasuk situs sipil dan infrastruktur, dengan impunitas.

Mereka sengaja menargetkan warga sipil dan infrastruktur Yaman sejak masa-masa awal perang – dan para pejabat AS telah menyadari hal ini namun tidak banyak berbuat untuk menghentikannya.

Sebuah tim penyelidik PBB, yang ditugaskan oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB, mempresentasikan laporan yang menyedihkan di Jenewa pada awal September yang merinci bagaimana AS, bersama dengan Inggris dan Prancis, kemungkinan terlibat dalam kejahatan perang di Yaman karena penjualan senjata dan dukungan intelijen yang berkelanjutan.

Baca: Jet Tempur Saudi Lakukan 39 Serangan dalam 12 Jam Terakhir di Yaman

Jika dewan melakukan investigasi agresif berdasarkan laporan setebal 274 halaman itu, dunia mungkin pada akhirnya akan melihat siapa yang harus bertanggung-jawab atas kejahatan perang yang dilakukan di Yaman selama lima tahun terakhir.

Penulis laporan menyerahkan daftar rahasia orang-orang yang mungkin bertanggung jawab atas kejahatan perang kepada komisioner HAM PBB, Michelle Bachelet. Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan yang memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa di Yaman dapat meningkat menjadi 233.000 jiwa pada akhir 2019, jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Proyeksi itu mencakup kematian akibat pertempuran serta 131.000 kematian tidak langsung karena kekurangan makanan, krisis kesehatan seperti wabah kolera, dan kerusakan infrastruktur Yaman.

Baca: Anak-anak Yaman Harus Membayar Mahal Blokade Saudi atas Hodeidah

Sementara Arab Saudi dengan cepat mengundang para ahli Amerika dan PBB untuk membantu menyelidiki serangan terhadap fasilitas minyaknya. Ironisnya, para pejabat Saudi itu telah menolak untuk bekerja sama dengan sebagian besar penyelidikan internasional atas tindakan mereka di Yaman.

Laporan PBB mendokumentasikan bagaimana koalisi pimpinan Saudi telah menewaskan ribuan warga sipil dalam serangan udara; Sengaja membuat orang-orang Yaman kelaparan sebagai taktik perang; dan memberlakukan blokade laut dan udara atas negara termiskin di Semenanjung Arab itu, dimana hal tersebut secara drastis membatasi pengiriman bantuan kemanusiaan.

Salah satu argumen palsu yang paling gigih dikemukakan oleh pejabat administrasi Trump terhadap upaya untuk mengakhiri keterlibatan AS di Yaman adalah bahwa Saudi membutuhkan dukungan dan pelatihan Amerika untuk mencegah lebih banyak lagi warga sipil tewas. Tetapi laporan PBB terbaru menolak argumen itu, menunjukkan bahwa Saudi belum melakukan investigasi yang kredibel terhadap serangan mereka terhadap warga sipil atau mengambil langkah-langkah yang cukup untuk meminimalkan korban, bahkan dengan pelatihan AS dan Inggris.

Baca: Ketua DPR AS: Trump Tutup Mata atas Kekejaman Saudi di Yaman

Terlepas dari meningkatnya bukti kejahatan perang, Trump masih dengan kuat mendukung Mohammed bin Salman, putra mahkota Saudi yang kejam yang merupakan arsitek perang Yaman. Sejak April, Trump telah menggunakan kekuatan veto empat kali untuk mencegah Kongres menarik dukungan militer AS dan mengakhiri penjualan senjata ke Arab Saudi dan sekutunya. Kongres tidak dapat mengumpulkan cukup suara untuk mengungguli veto Trump. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: