News Ticker

TERBONGKAR! Regu Kematian CIA yang Beroperasi Secara Global

  • Pemakaman Gus Dur dan Mbah Moen
  • Mabes Polri
  • Kepulan Asap di Hodeida
  • ACT dan Dompet Dhuafa
CIA, Agen, Amerika Serikat CIA

Arrahmahnews.com, Washington – Mendiang Chalmers Johnson, seorang konsultan CIA dari tahun 1967-1973, menyerukan penghapusan Langley, menekankan bahwa demokrasi dan keberadaan agensi tersebut tidak sesuai.

Seiring dengan pengumpulan dan penyebaran intelijen, agen-agen “melakukan fungsi dan tugas lain yang terkait dengan intelijen yang mempengaruhi keamanan nasional seperti yang diarahkan oleh Dewan Keamanan Nasional.”

Kutipan di atas adalah tentang sisi gelap CIA, kekuatan yang tidak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, yang beroperasi secara luar biasa di seluruh dunia.

Baca: Upaya CIA “Hancurkan” Jokowi

Mendiang William Blum mendokumentasikan keterlibatannya dalam pembunuhan para pemimpin asing, menyingkirkan lainnya dengan kudeta, menopang para diktator, menjalankan penjara penyiksaan rahasia, dan praktik-praktik ilegal lainnya. Agendanya mencakup hampir semua bentuk pelanggaran yang bisa dibayangkan.

ketika mencoba atau berhasil menggulingkan sejumlah pemerintah di seluruh dunia, Blum mengatakan:

“Jika Anda melihat kembali kebijakan luar negeri Amerika Serikat (sepanjang) abad yang lalu, inilah yang akan terlihat; invasi, pemboman, (subversi), menggulingkan pemerintah, menekan gerakan (populer) untuk perubahan sosial, membunuh para pemimpin politik, menyelewengkan pemilihan, memanipulasi serikat buruh, memproduksi berita, regu pembunuh, penyiksaan, perang (kimia), biologis (dan nuklir), (kontaminasi radiologis), perdagangan narkoba, tentara bayaran,” represi dan perang tanpa akhir terhadap kemanusiaan.

Dari tahun 1968-1973 di Asia Tenggara, CIA menjalankan atau terlibat dalam Program Phoenix dengan Pasukan Khusus AS dan Komando Bantuan Militernya dari Kelompok Operasi Khusus Vietnam (MACV-SOG).

Baca: TERUNGKAP! Bantuan Saudi dan CIA Untuk Teroris Jauh Lebih Besar Dari Yang Pernah Diperkirakan

Misi mereka adalah menghancurkan perlawanan Front Pembebasan Nasional (Viet Cong) terhadap imperialisme AS. Salah satu individu yang terlibat program ini menyebutkan “pembunuhan yang di depersonalisasikan (kehilangan rasa memiliki identitas pribadi)” untuk menghilangkan unsur-unsur oposisi dan meneror penduduk agar tunduk.

Seorang analis mengatakan itu adalah “program pembunuhan politik paling biadab dan masif sejak kamp kematian Nazi dalam perang dunia kedua”. Bahkan personel militer AS dan anggota pemerintah Vietnam Selatan menjadi sasaran eliminasi jika dianggap membahayakan keamanan.

Diperkirakan 80.000 korban dibunuh sebelum Operasi Phoenix berakhir. Pada 1980-an, regu kematian yang direkrut CIA bertanggung jawab atas kematian lebih dari 300.000 orang di Nikaragua, Honduras dan Guatemala, ribuan korban lagi yang tak terhitung jumlahnya disiksa secara brutal, dan jutaan orang dipaksa ke pengasingan.

Pengadilan Internasional tentang Genosida di Amerika Tengah, mengatakan kekerasan selama bertahun-tahun selama periode tersebut bertanggung jawab atas “genosida dan etnosida … terhadap kelompok-kelompok pribumi,” akuntabilitas tidak pernah muncul.

Kejahatan tingkat tinggi termasuk pembantaian, penyiksaan, dinas militer paksa, perampasan tanah, penangkapan dan pemenjaraan sewenang-wenang, relokasi penduduk, dan serangan genosida di bawah Konvensi PBB.

Sejak Bush/Cheney lebih dulu menyerang Afghanistan tanpa alasan yang adil dan jelas pada Oktober 2001, CIA dan pasukan khusus AS terlibat dalam pembunuhan di luar proses hukum, penyiksaan dan kekejaman lainnya di negara itu, sehingga unsur-unsur yang menentang agresi dan pendudukan AS dihilangkan.

Baca: The Guardian: Waktunya Minta Pertanggung-jawaban AS atas Kejahatan Perang di Yaman

Jurnalis investigasi Seymour Hersh sebelumnya mengatakan AS bertanggung jawab atas pembunuhan yang ditargetkan dan tindakan melanggar hukum lainnya di banyak negara.

“Sudah berlangsung dan terus,” katanya, tidak peduli partai sayap kanan AS yang berkuasa.

Pada hari Kamis, Middle East Eye (MEE) melaporkan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh CIA di Afghanistan. Bahkan selama perundingan rezim Trump-Taliban, mencari akomodasi antara kedua belah pihak, para pejabatnya menjadi sasaran pembunuhan, salah satu contoh yang tak terhitung jumlahnya mengapa AS tidak pernah bisa dipercaya.

Maret lalu, MEE melaporkan bahwa Mohammed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota Abu Dhabi di UEA, menawarkan untuk membunuh para pejabat senior Taliban selama pertemuan dengan Pompeo.

Sejak di dirikan pada tanggal 18 September 1947, CIA telah terlibat dalam mengatur pembunuhan yang ditargetkan dan kejahatan berat lainnya di seluruh dunia dalam skala besar.

Baca: Howard Nema: Tragedi Paris! Operasi Hitam CIA, MOSSAD Wujudkan Tatanan Dunia Baru

Pasukan Afghanistan yang direkrut dan dilatih oleh AS telah terlibat dalam kekejaman CIA. MEE mengatakan “petugas kesehatan dan lainnya” menceritakan “fakta kehidupan sehari-hari” di negara itu, pembunuhan regu kematian yang merupakan spesialisasi Langley.

Badan tersebut secara keliru mengklaim operasinya mematuhi aturan hukum. Namun Kebalikannya.

Direktur Badan Intelijen Pusat Gina Haspel adalah “penjahat dan pembunuh yang menjijikkan,” kata seorang sarjana AS.

Stephen Lendman, lahir pada tahun 1934 di Boston, mulai menulis tentang masalah-masalah besar dunia dan nasional dimulai pada musim panas 2005. Pada awal 2007, mengikuti radio hosting.

Lendman sekarang menjadi tuan rumah Progressive Radio News Hour di Progressive Radio Network tiga kali seminggu siaran. Dan mengundang para tamu terhormat. (ARN)

Iklan
  • Jangan Ulamakan Para Kriminal
  • Bom Bunuh Diri Medan
  • Kerusuhan di Gedung DPR
  • Bung Karno Sungkem

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: