News Ticker

Maulid Nabi dan Kisah Kecintaan Seorang Nenek kepada Nabi Muhammad SAW

  • Purwaji, Ketua GP Ansor Riau
  • Makar Sri Bintang Pamungkas
  • Presiden Prancis
  • UNICEF
  • Timur Tengah
  • Serigala berbulu domba
  • Pertemuan di Astana
  • Zarif, Menlu Iran
Maulid Nabi, Kecintaan, Nabi Muhammad SAW Kecintaan

Arrahmahnews.com, Jakarta – Setiap Maulid Nabi SAW, saya teringat dengan kisah seorang wanita tua renta penyapu masjid. Nenek yang tak pernah diketahui asal-usulnya, tapi di setiap pagi sering terlihat menyapu masjid.

Hingga suatu ketika, para jamaah masjid merasa kasihan terhadap nenek tersebut. Mereka sepakat untuk menyapu bersih pekarangan masjid sebelum nenek itu tiba.

Singkat cerita, nenek itu, seperti biasanya, tiba di masjid dan menemukan pekarangan telah bersih. Mengejutkan, ia bukan bahagia. Sebaliknya, ia menangis tersedu-sedu. Tangisannya menyayat hati dan membuat para jamaah bertanya kepada sang nenek. Namun nenek itu bungkam.

Baca: Kisah Ketika Cucu Nabi Muhammad SAW Tak Punya Baju Lebaran

MAulid

Hingga ajal menjemput si nenek. Rahasia ia menangis kala itu-pun terkuak. Ia sedih saat mendapati pekarangan masjid telah bersih dari daun-daun. Sebab, setiap ia memunguti helai demi helai daun, di saat itu pula ia bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Ada banyak contoh seperti layaknya nenek itu di sekitar kita. Individu-individu yang tak mengerti dan paham mengenai dalil-dalil shahih Alquran dan Hadis mengenai cinta terhadap Nabi SAW. Namun, mereka mewujudkan kecintaannya dengan cara mereka sendiri. Bagi nenek tua pada kisah di atas, bershalawat kepada Nabi adalah bentuk terbaik mewujudkan cinta kepada Nabi SAW.

Sama seperti kisah nenek tua, nenek saya di kampung juga menunjukkan kecintaannya kepada kanjeng Nabi SAW. Setiap hari ia senantiasa membaca kitab “Dalalil Khairat”. Kitab yang memuat berbagai hizib dan kumpulan shalawat kepada Nabi SAW berdasarkan hari.

Berbeda dengan kita. Iya, kita yang mengaku sebagai umatnya dan cinta terhadapnya. Membaca shalawat dan merayakan Maulid Nabi dikecam sebagai perbuatan Bid’ah. Pelakunya diancam dengan siksa neraka yang paling pedih dan niscaya berkumpul dengan para pelaku syirik.

Baca: Mufti Wahabi; Maulid Nabi Syirik, Hari Jadi Kerajaan Saudi Wajib

Coba anda tanyakan apa itu Bid’ah kepada nenek saya. Ia akan menggeleng tak mengerti. Ia tak paham bahwa mambaca shalawat dan merayakan Maulid adalah Bid’ah. Ia hanya paham bahwa ketika seseorang jatuh cinta, maka ia harus menunjukkan kecintaannya.

Nenek tua penyapu masjid dan nenek saya telah memahami arti cinta kepada Nabi SAW, meski mereka tak paham dalil-dalil shahihnya. Dengan cara sederhana mereka menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Bandingkan oleh anda dengan orang-orang yang mengecam mereka dan menyatakan perbuatan itu sebagai Bid’ah.

Nenek tua penyapu masjid tak mengantongi ribuan dalil, namun ia tahu satu dalil yang “dipungutnya” dari majelis-majelis pengajian para Kiai, bahwa “Barang Siapa Mencintaiku (Nabi), maka ia akan bersamaku di surga”. Nenek tua itu tahu, bahwa “Seorang pecinta akan senantiasa bersama dengan orang yang dicintainya”.

Baca: Wahabi Takfiri Anti Ukhuwah

Menjelang akhir hayat, nenek saya ingin bersama dengan orang yang paling dirindukan dan dicintainya, yakni Muhammad SAW. Ia tak tahu Bid’ah. Ia hanya ingin bersama dengan Nabi SAW. Ia hanya ingin menunjukkan kecintaannya terhadap Nabi SAW. Dan ia menunjukkan dengan cara yang sederhana, yaitu bershalawat, bergembira serta merayakan atas hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Duhai Rassul, tak ada yang bisa menggantikan kecintaanku terhadapmu. Meski seluruh semesta ditawarkan kepadaku, niscaya aku akan tetap memilih bersamamu. Aku akan tetap memendam kerinduan bertemu denganmu.

Duhai Rassul, aku datang ke hadiratmu. Aku persembahkan shalawat dan salam kepadamu dan keluarga sucimu. (ARN)

Shallu Ala Nabi Wa Alihi…. Ditulis sebagai tanggapan atas Maulid Nabi Muhammad Saww.

Sumber : Kompasiana

Iklan
  • HTI Benalu Indonesia
  • Pawai Khilafah
  • Politik
  • Menag Lukman Hakim Saifuddin dan Habaib
  • Kerusuhan 22 Mei
  • Muljamisme Ideologi Horor dalam Islam

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: