News Ticker

Bos Twitter Temui Putra Mahkota Saudi Pasca Skandal Spionase Terbongkar

Spionase Twitter Putra Mahkota Mohammed bin Salman

Arrahmahnews.com, Arab Saudi – CEO Twitter Jack Dorsey bertemu dengan Mohammed bin Salman enam bulan setelah raksasa media sosial itu mengetahui bahwa seorang mata-mata, dibawah perintah oleh rekan dekat pemimpin Saudi itu, telah menyusup ke perusahaan mereka.

Menurut pengaduan yang diajukan di pengadilan distrik AS di California bulan lalu, Twitter menemukan bahwa salah satu insinyurnya, seorang warga negara Saudi bernama Ali Alzabarah, telah mengakses data pribadi pengguna pada Desember 2015.

Baca: Kepala CIA Temui Raja Salman Pasca Terungkap Kasus Spionase di Twitter

Seminggu kemudian, perusahaan itu memperingatkan kepada para pengguna bahwa akun mereka adalah di antara kelompok kecil yang “mungkin telah ditargetkan oleh aktor yang disponsori oleh negara itu”.

Yang menjadi permasalahannya adalah, peretasan diketahui pada Desember 2015 dan pada Juni 2016, Dorsey terlihat duduk bersama MbS yang saat itu masih menjabat sebagai wakil putra mahkota dalam sebuah pertemuan resmi.

Sejak menjadi pemimpin kerajaan pada tahun 2017, putra mahkota Saudi itu telah melakukan tindakan keras terhadap aktivis HAM dan siapapun yang berani berseberangan dengannya. Sebagian “pembangkang” kerajaan itu aktif  secara online.

Pengacara dari salah satu aktivis Saudi yang menjadi target MbS dalam operasi itu mengatakan bahwa  pertemuan Dorsey dan Mohammed bin Salman menimbulkan pertanyaan tentang apa saja yang diketahui oleh CEO Twitter itu dan kapan ia mengetahuinya.

Saat itu, dikatakan bahwa mereka berdiskusi mengenai bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk “melatih dan membentuk kader-kader Saudi” yang memenuhi syarat serta mengobrol tentang investasi teknologi.

Baca: Mata-matai Pengguna, Saudi Rekrut Karyawan Twitter

Fakta lainnya adalah bahwa obrolan mereka di New York City itu didokumentasikan dalam foto-foto yang diposting di media sosial oleh Bader al-Asaker, kepala kantor pribadi Mohammed bin Salman dan pria yang dalam catatan pengadilan itu diyakini sebagai pemimpin operasi pengumpulan data di Twitter.

Alzabarah dituding telah mengakses (meretas) sekitar 6.000 akun Twitter pada tahun 2015 atas permintaan Arab Saudi, dan bukan akun biasa yang diretas, namun sejumlah akun Twitter ternama yang kerap melontarkan komentar negatif terhadap pemerintahan Arab Saudi.

Baca: Peneliti Terkemuka Ungkap Gerakan Tagar Anti-Sekjen Hizbullah di Twitter

Salah satu akun yang diretas itu adalah akun seorang jurnalis (dengan jumlah pengikut mencapai 1 juta) yang sempat dekat dengan Jamal Khashoggi, jurnalis yang tewas dibunuh di tangan pemerintah Arab Saudi pada Oktober lalu.

“Sulit membayangkan bahwa [Dorsey] belum pernah mendengar soal ini enam bulan kemudian,” katanya.

Marc Owen Jones, seorang analis media sosial dan asisten profesor di Universitas Hamad bin Khalifa di Qatar, mengatakan bahwa “sangat tidak mungkin” bahwa Dorsey tidak tahu jika agen intelijen AS telah memperingatkan perusahaannya bahwa ada aktor yang disponsori negara telah menyusup ke Twitter.

“Beratnya tuduhan ini dan perlunya diskusi seputar keamanan dan privasi di tingkat tinggi tentu akan membuatnya menjadi item teratas dalam agenda apapun,” kata Jones kepada MEE. (ARN)

Iklan
  • Keluarga Uno Dukung Jokowi-Ma'ruf
  • Ninoy Karundeng, Penculikan, Penyekapan, ISIS
  • Almarhum Sutopo Purwo Nugroho Saat di Rumah Sakit
  • Harimau Jokowi Somasi Fadli Zon
  • Jokowi naik andong
  • Polri Cinta Sunnah
  • Fatwa MUI Jatim
  • MAN 1 Sukabumi
  • Terorisme

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: