News Ticker

Innalillah! Selamat Jalan Pahlawan “Suriah” Djoko Harjanto Mantan Dubes RI untuk Suriah

  • Akun penyebar kajian UAS menghilang
  • Agenda CIA Lemahkan Jokowi
Mantan Dubes Indonesia di Suriah, Djoko Harjanto Meninggal Dunia Bapak Djoko Harjanto

Arrahmahnews.com, Jakarta – Innalillaahi wa innaa ilaihi roojiun. Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriah, Bapak Djoko Harjanto Meninggal Dunia pada Rabu 13 November 2019 jam 01.45 dini hari. Dan yang menyedihkan sekali tidak ada satu mediapun memberitakan tentang kematian beliau.

Menurut info dari fanpage PPI Suriah, mantan Dubes RI untuk Suriah (2013-2019), Bapak Djoko Harjanto, meninggal dunia. Beliau salah satu pejabat pemerintah yang berani berbicara blak-blakan tentang fakta perang Suriah. Beliau adalah pahlawan “Suriah” dari Indonesia.

Baca: Fakta-fakta Perang Suriah yang Tak Terbantahkan

PPI Suriah beserta Dubes RI dan para stafnya yang juga dihadiri salah satu ulama Suriah Syaikh Abdul Razaq An Najm melaksanakan shalat ghaib dan tahlil atas wafatnya Duta besar RI periode 2013-2019, Drs. Djoko Harjanto di Kedutaan Besar Republik Indonesia Damaskus, Suriah. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Amin. Semoga husnul khatimah Bapak, alfaatihah buat beliau.

Berikut salah satu penjelasan beliau terkait fakta perang Suriah:

Dubes Indonesia untuk Suriah Ungkap Fakta Perang Suriah dan Bashar Assad

Ada alasan yang cukup kuat, mengapa Pemerintah Republik Indonesia, hingga saat ini masih menempatkan duta besarnya di Suriah. Padahal, separuh dari 63 kedutaan besar di negara yang dirundung konflik itu, sudah tidak beroperasi.

Selain itu, saat muncul persoalan Timor-Timor, dukungan Suriah ke RI, sangat kuat. “Disuruh apa saja untuk mendukung kita, mereka mau,” katanya kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah.

Dalam perbincangan singkat saat kunjungannya ke Tanah Air saat menghadiri seminar internasional ihwal Konflik Suriah dan gejolak Timur Tengah yang dihelat Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) beberapa waktu lalu, pria asal Jawa Tengah ini pun, mengingkatkan umat Islam Indonesia, agar tak terseret dalam pusaran konflik dan mengimpornya ke Indonesia. Berikut petikan perbincangannya:

Bagaimana Anda melihat Pemerintah Suriah saat ini?

Pertama, orang sudah terlanjur menganggap pemerintah Suriah Syiah. Itu yang harus saya luruskan. Bashar Assad itu Alawie (Sayyid), yang terdiri antara lain dari Druze. Ia seorang bermadzhab Sunni.

Saya lihat langsung. Mufti Syekh Adnan al-Fayouni, yang diundang beberapa kali ke Indonesia oleh ICIS, dan belum lama ini ke Indonesia, memimpin mengimami shalat pada acara Maulid Nabi, di belakangnya Assad, shalatnya sendakep berarti bukan Syiah. Itu kita luruskan dulu.

Baca: Suriah Sahkan UU Larang Ulama Mengobarkan Perpecahan Sektarian

Kedua, informasi yang menyatakan pemerintah Assad membunuhi rakyatnya. Itu tidak benar. Bagaimana mungkin, wong pemerintah solid didukung rakyatnya. Jadi jika memang ada yang meninggal, itu karena perang dua kubu, namanya perang.

Kalau dulu perang itu antar prajurit, tak boleh menyerang rumah sakit dan lain-lain, rumah ibadah, sekolah. Nah sekarang jihadis di Suriah yang fanatis dengan ISIS, Al-Qaeda, saling berperang. Bukan hanya pemerintah. Itu yang harus diketahui. Saya langsung disana, melihat dengan mata saya, mengamati detik demi detik dan melaporkan ke pemerintah RI.

Menurut Anda, mengapa muncul kesimpangsiuran informasi terkait Suriah?

Media dikuasai Barat milik Yahudi, dikuasai oleh miliader Yahudi George Soros, berarti agendanya harus sesuai kepentingan mereka. Aljazeera milik Qatar, yang memusuhi Suriah, tak mungkin dia berpihak ke Assad. Ini saya sampaikan apa adanya secara pribadi dan tidak memihak.

Baca: 22 Pertanyaan Untuk Musuh-Musuh Bashar Assad

Dan itu memang tugas pemerintah, tidak boleh macam-macam, fokus perlindungan dan  bantuan kemanusiaan.

Apakah bantuan kemanusiaan RI sudah mengalir untuk Suriah?

Alhamdulillah sudah mengalir, setelah sekian lama, lewat Lembaga Koordinasi Bantuan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang tidak memihak. Tapi soal sampai tidaknya wallahua’lam, sudah 500 juta USD mengalir, belum ada satu bulan ini.

Kalau memang mau aman memang lewat pemerintah. Anda sudah dengar, dari Palang Merah Internasional (ICRC) enam orang hilang, sampai sekarang tidak ketemu. Conflict is conflict, bantuan kemanusiaan perlu, tetapi persoalannya yang lama sejak 2012, bantuan biasanya tidak sampai, di tengah perjalanan sudah diserobot oleh pemberontak. Itu yang jadi persoalan. Jadi sensitif di luar negeri.

Baca: 10 Fakta Suriah Yang Tak Terbantahkan

Begitu bantuan pertama masuk melalui OCHA, saya sudah punya impian untuk mendorong bantuan kemanusiaan ke Suriah. Kita sudah menghubungi Palang Merah mereka, tidak minta macam-macam. Obat tidak terlalu diperlukan karena disana murah, saya cek up sebagai dubes hanya 100 dolar tidak habis, meliputi semua. Kalau membantu yang diperlukan ambulans, kita sudah sampaikan.

Indonesia Serukan Solusi Damai

Bagaimana dengan upaya diplomasi damai di Suriah?

Sejak konflik mulai 2012, kita serukan damai karena konflik apapun akan selesai dengan perindungan, praktiknya di lapangan sulit, memang realitanya begitu. Politik juga begitu kan, lihat sendiri di Indonesia, Anda tahu sendiri. Yang kita khawatirkan, menurut Gajah Mada dan UMS, adalah perseteruan Sunni-Syiah, bahkan di Indonesia. (ARN)

Iklan
  • Pengamat Ekonomi Bongkar Kebusukan Sudirman Said
  • Prabowo Bukan Mulsim yang Taat
  • Jokowi Pemberani
  • Muhammadiyah
  • Ganti Presiden, Jebakan Demokrasi Ala Kelompok Radikal
  • Sidang MK
  • IHH
  • Suami Iis Dahlia Pilot Garuda yang Angkut Harley Davidson Ari Askhara
  • Cuitan Habib Think
  • Ninoy Karundeng, Penculikan, Penyiksaan, persekusi

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: