News Ticker

Wahyu Sutono: BTP “Ahok” Mimpi Buruk Jajaran BUMN Nakal

Wahyu Sutono: BTP Ahok Akan Jadi Bos Pertamina

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pagiat medsos Wahyu Sutono dalam akun facebooknya menjelaskan tentang Ahok yang akan direkrut oleh Erick Thohir masuk dalam kementerian BUMN, namun anehnya ada serikat federasi pekerja Pertamina bersatu menolaknya dan bahkan akan melakukan demo, setelah dibongkar oleh netizen ternyata Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) adalah gerombolan alumni 212 dan pendukung “Khilafah”, berikut ulasannya:

Baca: Netizen Bongkar Rekam Jejak ‘Khilafah’ Ketua Serikat Pekerja Pertamina yang Tolak Ahok

Ketika Presiden Jokowi mengumumkan Erick Thohir menjadi Menteri BUMN, yakinlah ada banyak pihak yang langsung panas dingin, utamanya dengan program bersih-bersihnya. Apalagi kini akan ditambah lagi dengan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok yang diminta untuk ikut menangani salah satu BUMN, jelas ini akan jadi mimpi buruk jajaran BUMN yang nakal.

Sosok mantan Gubernur DKI Jakarta yang satu ini memang selalu dirindukan pendukungnya yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga WNI yang berada di luar negeri. Jadi memang bukan hanya 48% warga Jakarta saja, hal itu dimungkinkan karena sepak terjang dan prestasinya yang luar biasa.

Sebaliknya bagi para koruptor, pengusaha nakal yang hobby kongkalingkong, dan mereka yang tidak memilih atau mendukungnya, tentu ini jadi kabar yang menyesakkan. Walau benar jumlahnya terus menurun seiring kepemimpinan Anies Baswedan yang mengecewakan, terlebih dengan kejadian di Sunter Jaya yang menjadi basis pemilihnya.

Baca: Duet Erick Thohir dan Ahok Siap “Obrak-abrik” BUMN

Namun kali ini penulis tidak akan mengulas kinerja BTP, karena bagi yang realistis tentu sangat tahu kualitas dan prestasi BTP, baik saat menjadi anggota dewan, terlebih lagi saat menjadi Wakil Gubernur dilanjut kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Penulis pun tidak akan membahas detail pihak yang menolak BTP masuk ke BUMN untuk ikut membenahi BUMN yang selama ini selalu menjadi sorotan karena terlalu lama tidak menunjukkan performa yang diharapkan. Sebab pihak penolak ini tidak memiliki hak ikut campur dalam hal penunjukkan BTP ini.

“Logika sederhananya, bila tidak ada persoalan mendasar, lalu mengapa ada sekelompok kecil karyawan BUMN yang belum apa-apa sudah seperti cacing kepanasan dan menolak kehadiran BTP, seolah seperti ada yang ingin ditutup-tutupi”

Sebenarnya bila kinerjanya baik, seharusnya justru berterima kasih, karena pastilah kehadiran BTP untuk meningkatkan performa perusahaan, yang dampaknya nanti pasti kepada kesejahteraan karyawan, selain sebagai salah satu sumber devisa negara.

Begitu pun penolakan dari luar BUMN, apa urusannya? Mereka kan tidak terlibat langsung dengan operasionsl BUMN. Oleh sebab itu pihak Polri harus tegas menolak ijin demo terkait BTP, karena semua sudah diatur dalam undang-undang (UU). Jadi tidak dibenarkan pihak manapun memaksakan kehendak, karena itu artinya melanggar hak ajasi manusia seseorang yang statusnya merdeka.

Baca: Luhut Angkat Suara Soal Serikat Pekerja Pertamina Tolak Ahok Jadi Bos Pertamina

Apalagi bila hal itu dikaitkan dengan status BTP yang pernah dipenjara, jelas itu tidak relevan. Mungkin mereka lupa bahwa tidak sedikit di negeri ini yang pernah dipenjara karena merugikan negara, namun kemudian maju sebagai wakil rakyat, dan mereka selama ini diam saja. Sementara BTP tidak pernah melawan dan merugikan negara, dan hanya mendapat pidana ringan, karena delik aduan orang per orang. Selain itu bahwa posisi di BUMN bukanlah termasuk pejabat publik.

“Hal ini pun sesuai dengan UU No 19/2003 tentang BUMN, Pasal 45 ayat (1), larangan bagi seseorang untuk menjadi calon direksi BUMN adalah pernah melakukan tindak pidana yang merugikan negara”.

Baca: Muhammad Zazuli: Kenapa Jokowi dan Ahok Dibenci Kelompok Radikal?

Namun yang ingin menjadi fokus penulis kali ini adalah terkait dengan semangat dan kepribadian BTP. Pertama, penulis ingin mengingatkan BTP agar tetap tegar dan jangan hiraukan mereka yang menolak atau menentang, karena itu justru yang melanggar hukum. Kedua, bila terwujud masuk dalam jajaran BUMN, jangan pernah segan-segan mereformasi BUMN, karena rakyat mendukung.

Ketiga. Belajarlah dari pengalaman di masa lalu. Teladani Jokowi yang menjadi sahabat sekaligus mentormu. Silahkan tetap keras dan itu harus, tapi gunakanlah kosa kata yang lebih mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, serta jangan singgung hal-hal yang di negeri ini sedang sensitif. Harap dimaklum bahwa politik identitas di negeri ini sedang berkembang.

“Selamat mereformasi BUMN, dan kami yakin Anda sangat mampu, karena ini demi bela negara. Anda pun direstui oleh Presiden, MUI, dan sebagian besar rakyat Indonesia”. (ARN)

Iklan
  • Gerakan Islam Cinta
  • Cerita Menag Ada "Pengantin" Bom Bunuh Diri di Instansi Pemerintah: Untung Terungkap
  • Habib Ali Al-Jufri

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: