NewsTicker

Analis: Revolusi Berkedok Agama di Bolivia, Suriah dan Indonesia

Revolusi Berkedok Agama

Arrahmahnews.com, Jakarta – Pengamat geopolitik Timur Tengah Dina Sulaeman dalam akun facebooknya membahas bagaimana agama dijadikan senjata dan kedok untuk melakukan revolusi atau penggulingan rezim, contoh nyatanya adalah di negara Suriah, Bolivia dan Indonesia. Contohnya adalah kelompok Wahabi Takfiri mereka menggunakan senjata “Agama” untuk menjelek-jelekkan rezim saat ini dengan bahasa sok Islami seperti “Rezim Thoghut”, Berikut ulasannya:

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia), saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul (AS) menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Baca: Dina Sulaeman: Waspadai Bisnis Penggulingan ‘Rezim’

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS. Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

 

Sementara para pendukung ISIS/Al Qaida jelas tidak mau terima kalau dibilang antek AS, karena karena merasa sedang berjihad. Padahal, yang namanya proxy, tentu ada 2 level, yaitu elit (penerima dana) dan pelaku (mereka yang berdarah-darah di lapangan). Si pelaku mungkin merasa jihad lillahi ta’ala dan tidak terima duitnya (malah merogoh kocek untuk menyumbang). Makanya, supaya tidak dibodoh-bodohi melulu oleh “industri radikalisme”, kita perlu paham geopolitik.

Nah di Bolivia, ternyata, proxy AS adalah kelompok yang diberi istilah “ultra kanan” atau “sayap kanan”. Maksudnya adalah kelompok penganut Kristen yang radikal/fundamentalis/tekstualis. Mereka ini merasa hanya Kristen (versi mereka) yang berhak berkuasa di Bolivia. Mereka benci sekali pada suku Indian yang menurut mereka “melakukan ritual setan”.

Baca: Prof Sumanto Al-Qurtuby: Bisnis Agama Untuk Kekuasaan

Mirip sekali kan dengan perilaku Wahabi/takfiri di Indonesia? Bencinya setengah mati pada orang-orang yang menurut mereka “sesat” dan “pelaku bid’ah”. Dengan alasan bahwa “rezim Assad kafir” maka mereka angkat senjata berupaya menggulingkan Assad. Di Indonesia, narasi mereka adalah “rezim thoghut” dan “rezim pendukung penista agama”.

Di video ini disebutkan: pemimpin kudeta “sayap kanan” Bolivia adalah Luis Fernando Camacho, seorang miliarder Kristen fundamentalis, yang punya ikatan mendalam dengan kelompok paramiliter ultra-kanan, Santa Cruz Youth Union (UJC). UJC punya rekam jejak kekerasan rasisme dan bahkan terlibat dalam upaya pembunuhan kepada Evo Morales.

Baca: Perang Saudara di Sudan Dipicu Isu Agama dan Tegakkan Syariat

Ketika Morales menyatakan diri mundur untuk menghentikan kekerasan yang terjadi pada kaum pribumi (Indian), Camacho menyerbu istana presiden dan menyatakan bahwa “Bolivia adalah milik Kristus”. Tujuannya adalah untuk membubarkan kepemimpinan orang-orang pribumi [Indian] di Bolivia.

Pendukung Camacho antara lain adalah Branko Marinkovich, orang kaya raya yang juga berpaham Kristen fundamentalis. Marinkovich adalah “korban” nasionalisasi tambang & tanah yang dilakukan Morales.

Umat Islam yang rahmatan lil alamin tentu saja menolak paham kekerasan ala Wahabi/takfiri, sebagaimana kaum Kristiani yang berpegang pada ajaran kasih Yesus pasti tidak sepakat dengan kelompok “ultra kanan” ala Bolivia ini.

Menarik untuk dicermati juga: kelompok Kristen fundamentalis biasanya sangat fanatik pada Israel (atas dasar keyakinan teologis), sebaliknya, Evo Morales secara terang-terangan pro Palestina dan menyatakan bahwa Israel adalah “negara teroris”. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: