NewsTicker

Bedah Buku Daulah Islamiyah, Lakpesdam NU Subang Hadirkan Mantan Petinggi HTI

Kupas Tuntas Buku Daulah Islamiyah

Bedah Buku Daulah Islamiyah, Lakpesdam NU Subang Hadirkan Mantan Petinggi HTI Halaqoh Kabangsaan

SUBANG – Sistem pemerintahan Khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang diklaim oleh mereka sebagai sebuah sistem yang bagus dan sangat Islami sekali padahal sistem ini tidak ada dalam Islam, namun sebagian umat Islam saat ini mempercayainya, bahkan sistem Khilafah ini juga dipakai sebagai kedok untuk menggulingkan rezim di sebuah negara dengan mengatasnamakan agama.

Sehingga siapapun yang menentangnya maka akan dianggap sebagai musuh. Sekalipun dari kalangan Muslim, jika berbeda pendapatnya akan dibunuh

Untuk menghadapi propaganda mereka Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Subang, Jawa Barat menggelar halaqah dan bedah buku Daulah Islamiyah di Pesantren Pagelaran 3 Desa Gardusayang Kec Cisalak, Subang, Sabtu (23/11).

Baca: Sejarah Berdarah Khilafah

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Harakatuna Jakarta ini dibedah langsung oleh penulisnya, Muhammad Najih Arromadloni atau dipanggil Gus Najih. Bedah buku ini dipanelkan dengan dihadirkannya pemateri dari mantan Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bangka Belitung, Ayik Heriansyah.

“Dengan dihadirkannya Kang Ayik sebagai mantan Ketua HTI Bangka Belitung diharapkan melalui bedah buku ini bisa membuka pemahaman dan wawasan tentang apa khilafah dan HTI sehingga keberadaannya di negara ini,” ujar Ketua Lakpesdam NU Subang, Asep Alamsyah Heridinata. Selain itu, lanjut Asep, dalam buku tersebut juga dijelaskan bagaimana konsep khilafah yang tepat dalam kondisi hari ini yang dijabarkan oleh penulis buku tersebut.

Baca: Jawaban Menohok Gus Nadir ke HTI

“Dalam buku tersebut, Gus Najih (Penulis, red) menjabarkan bagaimana seharusnya kita bisa menjalankan konsep khilafah yang tepat di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjutnya. Asep berharap, dengan terselenggaranya bedah buku ini memberikan pencerahan yang lengkap kepada para peserta halaqah, terutama para santri di Kabupaten Subang sehingga tidak tergiur dengan HTI yang berkedok agama tersebut.

“Mudah-mudahan para santri, khususnya di wilayah Subang Selatan ini menjadi tercerahkan wawasannya mengenai konsep khilafah yang digaungkan oleh kelompok HTI sehingga wawasan kebangsaan tetap terjaga,” pungkasnya.

Halaqah yang bertema Khilafah, Tinjauan Alquran dan Sunnah itu diikuti oleh sedikitnya 500 peserta terdiri dari kaum santri. Hadir juga para Pengurus PCNU Kabupaten Subang beserta seluruh badan otonomnya. Semuanya mendapatkan bukunya secara gratis.

Dijelaskan, organisasi Daulah Islamiyah yang populer dengan nama Islamic State Of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim legitimasi Al Qur’an dan Hadits yang pemahamannya banyak berseberngan dengan mayoritas islam.

“Sejak awal sejarah di dirikannya, ISIS mengklaim paling benar ihwal pemahaman Agama Islam,” ujar Muhammad Najih. Pria yang akrab disapa Gus Najih tersebut menilai jika pemahaman yang berbeda dari mayoritas pemeluk Agama Islam itu berdampak pada perilaku yang salah. “Sehingga siapapun yang menentangnya maka akan dianggap sebagai musuh. Sekalipun dari kalangan Muslim, jika berbeda pendapatnya akan dibunuh,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan jika kajian penafsiran dan pemahaman teks Agama (Alquran dan hadits) yang dilakukan ISIS merupakan upaya politisasi fakta.

Baca: Eko Kuntadhi: Ideologi Para Zombie Khilafah Hantui Indonesia

“Bahwa Alquran dan hadits itu merupakan perangkat teologis yang menjadi rujukan umat Islam sedunia. Tentunya hal itu mempunyai nilai politis sekaligus tarikan magnetik bagi pihak-pihak yang berkepentingan,” jelas Gus Najih.

Akibatnya, lanjut Gus Najih, politisasi Alquran dan hadits dalam dimensi sosial menjadi resiko yang tak terhindarkan. “Kita lihat rentetan sejarah dari konflik Suriah misalnya. Negara itu kini hancur lebur karena keterlibatan ISIS beserta afiliasinya yang mengusung konsep khilafah,” tuturnya.

Untuk itu, dirinya berpesan kepada segenap generasi muda khususnya agar berhati-hati dalam memilih sebuah organisasi. “Bahwa memilih jam’iyah bukan sekedar berjama’ah namun harus sejalan antara harakah, fikrah, dan amaliyah. Dari semua itu Nahdlatul Ulama (NU) lah solusinya,” pungkasnya. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: