NewsTicker

Yusuf Muhammad: Bela Pemprov DKI, GNPF-Ulama Dukung Tempat “Maksiat” dan Coreng Wajah Islam

Yusuf Muhammad: Bela Pemprov DKI, GNPF-Ulama Dukung Tempat GNPF Ulama

Surabaya – Salah satu penghargaan Anugerah Adikarya Wisata 2019 oleh Dinas Pariwisata & Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta diberikan kepada Colosseum Club 1001. Hal ini memicu perdebatan di lini masa media sosial.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Provinsi DKI Jakarta, klub malam Colosseum Club 1001 memenangkan penghargaan untuk kategori hiburan dan rekreasi-klab malam dan diskotik yang diberikan pada Jumat (6/12/2019).

Pemberian penghargaan ini dipertanyakan oleh warganet. Pasalnya Colosseum Club 1001 termasuk dalam bisnis Alexis Group, sama dengan Alexis Hotel yang ditutup Gubnernur Anies Baswedan tahun lalu.

Baca: Ada Yusuf Martak di Lumpur Lapindo dan GNPF Ulama

Anugerah Adikarya Wisata 2019 diberikan kepada pelaku usaha pariwisata dan jasa yang telah berkontribusi nyata dalam mempromosikan pariwisata Jakarta kepada masyarakat Indonesia dan turis asing. Piagam pernghargaan tersebut ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Salah satu pegiat medsos Yusuf Muhammad ikut memberikan komentar yang cukup pedas terkait masalah ini. Siapa GNPF-Ulama yang membela pemberian penghargaan diskotik dari pemprov DKI?

GNPF-Ulama adalah kepanjangan dari gerakan nasional pengawal fatwa ulama. Kelompok ini yang menjadi penggerak saat pelengseran Ahok dengan isu penistaan agama. Sebelumnya namanya GNPF-MUI, tapi sudah berubah nama karena mendapat protes dari MUI.

Ketua GNPF-Ulama adalah Yusuf Martak. Ia salah satu mantan petinggi di PT. Lapindo Brantas yang hingga sekarang masih punya tunggakkan hutang ke pemerintah Rp 773,38 Miliar. Hutang tersebut sudah jatuh tempo sejak 10 Juli 2019 dan baru dibayar Rp 5 miliar ke pemerintah.

Berawal dari masalah lumpur lapindo, Yusuf Martak kemudian banting setir menjadi ustadz dan bergabung dalam barisan GNPF-Ulama. Modal tampang ngarab memang bikin Yusuf Martak mujur untuk berkecimpung di dunia perulamaan.

Baca: Kupas Tuntas Hubungan Teroris dengan IHH dan IHR Milik Bachtiar Nasir

Tapi alhamdulillah, kebenaran telah menemukan jalannya.

Umat muslim sekarang jadi smakin paham siapa sebenarnya komplotan mereka ini. Saya jadi teringat perkataan Habib Ahmad bin Jindan:

“Umat lain (non-muslim) tidak akan sanggup hancurkan Islam, yang menghancurkan islam itu tangan-tangan kita (umat muslim) sendiri.”

Siapakah yang dimaksud? Publik tentu sudah tahu dan paham.

Sebelumnya, dagangan yang paling laku di Indonesia adalah dagangan agama. Tapi semakin hari umat dan rakyat Indonesia semakin muak. Apalagi dengan adanya berita soal GNPF-Ulama yang mendukung penghargaan yang diberikan pemprov DKI kepada Diskotek Colesseum.

Baca: Ketua GNPF-U Bogor Jadi Tersangka terkait Video Ajakan Jihad

Asal tahu saja. Diskotek Colesselum sebelumnya pernah terjaring penggrebekan narkoba pada 2015 dan ditemukan beberapa orang positif menggunakan narkoba.

Tapi ini bukan soal diskoteknya, namun yang terpenting adalah soal konsistensi dari kelompok GNPF-Ulama. Mengapa GNPF-Ulama yang sebelumnya paling keras suarakan membela ulama, bela Islam, bela Al-Qur’an, dan menyerang Ahok soal penistaan tapi sekarang justru mendukung penghargaan diskotek yang diberikan pemprov DKI?

Bukankah secara syariat keberadaan diskotek ini bertentangan dengan Islam ? Apakah ini yang namanya bela Islam ?

Jawabannya tentu tidak! Karena sejak awal mereka tidak pernah membela Islam. Yang mereka bela sejatinya adalah kepentingan politik untuk kelompoknya saja.

Apa sih keahlian agama dari Yusuf Martak sehingga bisa menjabat sebagai ketua GNPF-Ulama?

Jujur saja saya siap jika dites keilmuan agama dengan ketua GNPF-Ulama Yusuf Martak. Mau tes soal apa saja monggo. Mau diskusi soal ushul fiqh monggo, mau diskusi soal kitab fathul qorib juga monggo. InsyaAllah saya siap.

Surabaya – Salah satu penghargaan Anugerah Adikarya Wisata 2019 oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta diberikan kepada Colloseum Club 1001. Hal ini memicu perdebatan di lini masa media sosial.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Provinsi DKI Jakarta, klub malam Colloseum Club 1001 memenangkan penghargaan untuk kategori hiburan dan rekreasi-klab malam dan diskotek yang diberikan pada Jumat (6/12/2019).

Pemberian penghargaan ini dipertanyakan oleh warganet. Pasalnya Colloseum Club 1001 termasuk dalam bisnis Alexis Group, sama dengan Alexis Hotel yang ditutup Gubnernur Anies Baswedan tahun lalu.

Anugerah Adikarya Wisata 2019 diberikan kepada pelaku usaha pariwisata dan jasa yang telah berkontribusi nyata dalam mempromosikan pariwisata Jakarta kepada masyarakat Indonesia dan turis asing. Piagam pernghargaan tersebut ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Siapa GNPF-Ulama yang membela pemberian penghargaan diskotek dari pemprov DKI?

GNPF-Ulama adalah kepanjangan dari gerakan nasional pengawal fatwa ulama. Kelompok ini yang menjadi penggerak saat pelengseran Ahok dengan isu penistaan agama. Sebeumnya namanya GNPF-MUI, tapi sudah berubah nama karena mendapat protes dari MUI.

Ketua GNPF-Ulama adalah Yusuf Martak. Ia salah satu mantan petinggi di PT. Lapindo Brantas yang hingga sekarang masih punya tunggakkan hutang ke pemerintah Rp 773,38 Miliar. Hutang tersebut sudah jatuh tempo sejak 10 Juli 2019 dan baru dibayar Rp 5 miliar ke pemerintah.

Berawal dari masalah lumpur lapindo, Yusuf Martak kemudian banting setir menjadi ustadz dan bergabung dalam barisan GNPF-Ulama. Modal tampang ngarab memang bikin Yusuf Martak mujur untuk berkecimpung di dunia perulamaan.

Tapi alhamdulillah, kebenaran telah menemukan jalannya.

Umat muslim sekarang jadi smakin paham siapa sebenarnya komplotan mereka ini. Saya jadi teringat perkataan Habib Ahmad bin Jindan:

“Umat lain (non-muslim) tidak akan sanggup hancurkan Islam, yang menghancurkan islam itu tangan-tangan kita (umat muslim) sendiri.”

Siapakah yang dimaksud ? Publik tentu sudah tahu dan paham.

Sebelumnya, dagangan yang paling laku di Indonesia adalah dagangan agama. Tapi semakin hari umat dan rakyat Indonesia semakin muak. Apalagi dengan adanya berita soal GNPF-Ulama yang mendukung penghargaan yang diberikan pemperov DKI kepada Diskotek Colesseum.

Asal tahu saja. Diskotek Colesseilum sebelumnya pernah terjaring penggrebekan narkoba pada 2015 dan ditemukan beberapa orang positif menggunakan narkoba.

Tapi ini bukan soal Diskoteknya, namun yang terpenting adalah soal konsistensi dari kelompok GNPF-Ulama. Mengapa GNPF-Ulama yang sebelumnya paling keras suarakan membela ulama, bela Islam, bela Al-Qur’an, dan menyerang Ahok soal penistaan tapi sekarang justru mendukung penghargaan diskotek yang diberikan pemprov DKI?

Bukankah secara syariat keberadaan diskotek ini bertentangan dengan Islam? Apakah ini yang namanya bela Islam?

Jawabannya tentu tidak! Karena sejak awal mereka tidak pernah membela Islam. Yang mereka bela sejatinya adalah kepentingan politik untuk kelompoknya saja.

Apa sih keahlian agama dari Yusuf Martak sehingga bisa menjabat sebagai ketua GNPF-Ulama?

Jujur saja saya siap jika dites keilmuan agama dengan ketua GNPF-Ulama Yusuf Martak. Mau tes soal apa saja monggo. Mau diskusi soal ushul fiqh monggo, mau diskusi soal kitab fathul qorib juga monggo. InsyaAllah saya siap. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: