NewsTicker

Pengunduran Diri Presiden Irak Langgar Konstitusi dan Tekanan AS

Pengunduran Diri Presiden Irak Langgar Konstitusi dan Tekanan AS Mike Pompeo dan Barham Salih

Baghdad  Kelompok-kelompok perlawanan Irak mengecam pengunduran diri Presiden Barham Salih sebagai bentuk pelanggaran terhadap konstitusi dan menuduhnya mengalah pada tekanan Amerika Serikat.

Kelompok-kelompok itu mengatakan dengan pengunduran diri presiden, secara efektif menolak untuk menjalankan tugas hukumnya menunjuk calon yang diajukan oleh blok terbesar parlemen untuk bertindak sebagai perdana menteri, sebagaimana disyaratkan oleh konstitusi, seperti dilansir PressTV.

Baca: AS-Israel Percepat Kebangkitan ISIS Takfiri di Tengah Kerusuhan di Irak

Salih mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Kamis, dan menjelaskan bahwa ia mengambil tindakan karena konstitusi tidak mengizinkannya untuk menolak jabatan perdana menteri Assad al-Eidani, yang dicalonkan oleh blok parlemen Fatah.

“Lebih baik bagi saya mengundurkan diri daripada menugaskan seorang individu yang ditolak oleh para demonstran untuk membentuk pemerintahan,” klaimnya, merujuk pada segelintir para pengunjuk rasa yang anarkis dan brutal. Presiden Irak Barham Salih telah mengajukan pengunduran dirinya ke parlemen setelah menolak untuk menunjuk calon perdana menteri.

Kelompok perlawanan Irak Kata’ib Hizbullah, yang merupakan bagian dari Unit Mobilisasi Populer (PMU) anti-teror Irak dan berafiliasi dengan blok Fatah, menggambarkan tindakan itu sebagai “kecurigaan”.

Baca: Puluhan Mantan Tentara Elit Prancis Gabung Teroris di Suriah dan Irak

“Kami tahu bahwa ia sedang melaksanakan wasiat Amerika yang bertujuan membawa negara ke jurang kekacauan,” katanya.

Pernyataan itu menambahkan bahwa dengan tunduk pada tekanan dari Washington dan pasukan lain yang mencoba mengeksploitasi protes anti-pemerintah, Salih mendorong negara itu ke arah krisis dan sedang menyiapkan langkah bagi intervensi AS di negara itu.

Kelompok itu juga menyerukan pemilihan cepat yang dapat mencegah partai-partai tertentu untuk memaksakan pemimpin yang lemah dan elemen-elemen yang disukai oleh AS atau pihak-pihak yang memiliki kepentingan partisan dan korup.

Baca: Al-Kindi: AS Sebar Genk Kriminal di Irak

Anggota parlemen Irak Odai Awad, yang merupakan anggota kelompok perlawanan Asaib Ahl al-Haq yang berafiliasi dengan Fatah dan PMU, juga dengan keras menolak pengunduran diri presiden. Dia menggambarkan Salih sebagai seorang pengecut yang harus dibuang oleh “orang Irak”.

Penolakan Salih untuk menunjuk perdana menteri yang dicalonkan parlemen terjadi setelah Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi mengundurkan diri pada bulan lalu di tengah demonstrasi anti-pemerintah yang sedang berlangsung. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: