Yaman Dilupakan Uighur Diramaikan, Kenapa?

Jakarta – Anda mungkin kenyang atau bleneg dengan tingkah ormas-ormas di negeri ini yang sok islami dan sok paling membela agama, padahal terbukti berkali-kali berbohong. WSJ pun dengan liciknya menyeret NU dan Muhammadiyah ke dalam konflik ini, bahkan dituduh menerima dana dari China sehingga diam soal Uighur.

Desember ini pemberitaan tentang muslim Uighur lebih marak daripada peristiwa nyata lain yang menimpa umat muslim. Jakarta kembali dihiasi demo kelompok tertentu untuk membela muslim Uighur.

Baca: Studi Ungkap Sumber Tak Masuk Akal Media Barat Soal Penahanan Uyghur di Xinjiang

Secara logika, sebetulnya ini agak mengherankan mengapa masalah Uighur diviralkan. Padahal tragedi yang jauh lebih buruk telah terjadi di Timur Tengah dengan jumlah korban ribuan orang.

Sekedar mengingatkan, negeri Yaman sudah lima tahun menderita akibat gempuran pasukan Saudi Arabia dan UEA. Menurut Proyek Data Lokasi dan Peristiwa Konflik Bersenjata yang bermarkas di AS (ACLED), sebuah organisasi penelitian konflik nirlaba, memperkirakan bahwa perang telah merenggut lebih dari 100.000 nyawa selama empat setengah tahun terakhir. Data PBB mencatat, lebih 10.000 anak tewas karena perang tersebut. 25.000 anak lainnya terancam kelaparan.

Perang di Yaman tidak memperdulikan jatuhnya korban wanita dan anak-anak. Bahkan juga menyasar fasilitas umum yang digunakan masyarakat. Peristiwa terbaru, 27 Desember yang lalu, sebuah pasar dibom dan menewaskan 17 warga sipil.

Baca: Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina?

Mengapa tidak ada demonstrasi yang membela Yaman? Apakah karena pelakunya adalah dua negara Islam yang dipuja kelompok yang suka mendemo? Perbuatan mereka lebih zalim, memusnahkan sesama umat muslim.

Sementara di sisi lain, penindasan yang dilakukan Israel berjalan terus. Selain mencaplok wilayah Palestina, pasukan Israel juga membunuh warga Palestina. Mereka juga membatasi segala aktivitas masyarakat Palestina.

Tahun lalu, pasukan Israel mengusir 472 warga Palestina dari rumahnya sendiri. Sedangkan selama tahun 2019, meningkat menjadi 642 orang. Dan selama lima tahun terakhir, Israel mencekal 7984 orang Palestina sehingga tidak bisa melintas batas, meski untuk ibadah haji atau umroh.

Lalu dimana posisi orang Indonesia yang katanya membela saudaranya dari Palestina? Ya, pernah ada demonstrasi untuk itu, tapi sepertinya tidak serius, lenyap ditelan isu lain.

Baca: Wartawan Turki Ungkap Isu Kamp Penyiksaan di Uighur Adalah Propaganda Teroris

Jadi kenapa pula membela muslim Uighur yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan Yaman dan Palestina? Nah, ini patut diselidik motivasi yang sesungguhnya, atau siapa (dan negara mana) yang bermain dalam hal ini.

Pernyataan pesepakbola Turki, Mesut Ozil menjadi salah satu alasan untuk memicu protes tentang Uighur. Tapi perhatikan dengan baik, adakah pemerintah Turki, secara resmi membela Uighur? Tidak ada sama sekali. Jadi, Mesut Ozil bukan representasi dari pemerintah Turki.

Pemerintah Turki tidak gegabah untuk menyatakan membela muslim Uighur. Secara politik, posisi muslim Uighur adalah sebagai separatis, pemberontak yang minta merdeka.

Pemerintah Turki tidak pernah menolerir pemberontak. Di negara Turki senang, pemerintahan Erdogan dengan tegas membasmi kelompok PKK yang terdiri dari sebagian masyarakat suku Kurdi.

Jika negara membiarkan kelompok pemberontak berusia merdeka berarti menciptakan adanya negara dalam negara. Ini sangat tidak mungkin. Karena itu pemerintah Turki tidak ikut campur soal Uighur.

Baca: Pemerintah China Undang Mezut Ozil untuk Tabayyun Kondisi Muslim Uyghur

Mesut Ozil bukan politikus, ia tidak mengerti permasalahan. Kemungkinan ia terdorong menyatakan pembelaan karena muslim Uighur, nenek moyangnya berasal dari Turki.

Kalau soal kemanusiaan, tragedi kemanusiaan jelas terjadi di Yaman dan Palestina. Itulah sebabnya Turki memberikan bantuan kemanusiaan kepada dua negara ini.

Namun konflik di Timur Tengah, dan juga soal Uighur di Cina, sejatinya bukan permasalahan agama. Kembali lagi pada persoalan utama dunia global, yaitu masalah ekonomi.

Jalur minyak dan gas yang melewati Taman adalah yang sedang diupayakan oleh Saudi Arabia dan UEA dengan dukungan Amerika Serikat serta Israel. Sedangkan di Palestina, Israel mencaplok wilayah Palestina untuk pemukiman dan perkebunan.

Baca: Denny Siregar: Isu Uighur Propaganda AS dan Kadrun Indonesia Serang NU-Muhammadiyah

Bagaimana dengan Uighur? Tidak terlepas dari perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Negara adidaya ini menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Ingat, Amerika sedang membangun sentimen anti China, dan dianggapnya propaganda membawa agama akan berhasil menekan China. Jadi, jangan mudah termakan oleh propaganda Amerika seperti yang mereka lakukan di Libya, Iran, Irak, Suriah, Yaman dan banyak negara Timteng lainnya.

Memainkan isu Libya, Iran, Irak, Suriah dan Yaman justru akan membongkar kejahatan Amerika, Zionis dan Arab Saudi. Oleh sebab itu, isu tersebut juga gak direspon di Indonesia, karena bisa memutus aliran dana Saudi ke kelompok-kelompok Islam garis keras di Indonesia. Apalagi isu Yaman tidak bisa digunakan untuk menembak Jokowi. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: