NewsTicker

Keok di Yaman, Arab Saudi Fokus ke Irak dan Lebanon

Perang Yaman

Keok di Yaman, Arab Saudi Fokus ke Irak dan Lebanon Penguasa Saudi

Riyadh – Keok di Yaman, Arab Saudi fokus ke Irak dan Lebanon. Perang di Yaman telah memasuki tahun kelima, namun Arab Saudi belum dapat mengukir prestasi untuk dirinya dan sekutu-sekutunya. Bukti kurangnya keberhasilan Arab Saudi adalah kelompok Houthi Ansarullah yang semakin kuat, dengan segudang kemajuan dalam bidang pertahanan, baik drone maupun berbagai jenis rudal, seperti dilansir Al-AlamTv.

Kegagalan kesepakatan Swedia pada tahun lalu, serta kesepakatan Riyadh yang menemui jalan buntu dalam sebulan terakhir, juga menunjukkan daya tawar Houthi dalam kancah politik. Arab Saudi juga gagal memberangus gerakan Houthi Ansarullah dan membawa mantan presiden Mansour Hadi kembali berkuasa. Riyadh dan Abu Dhabi juga gagal membagi Yaman menjadi dua negara, selatan dan utara.

Baca: Saudi Dirikan Pangkalan Militer di Pulau Strategis Yaman, dekat Selat Bab Al-Mandeb

Sejak awal, diputuskan bahwa wilayah minyak di Mahra dan Hadhramaut di bawah kendali Saudi dan pelabuhan Aden di bawah kendali Yaman, yang dipimpin presiden boneka Mansour Hadi. Ada juga pakar yang mengatakan bahwa negara ketiga akan mengambil alih Bab al-Mandab dan Taiz.

Kegagalan memalukan ini, dikarenakan Saudi dan sekutunya tak mampu menghentikan serangan rudal dan pesawat tak berawak dari Houthi, terutama terhadap fasilitas Aramco dan daerah lain di Emirat.

Baca: Kekalahan Saudi-UEA di Yaman

Arab Saudi terpaksa harus mendinginkan front Yaman sampai pertemuan negara-negara anggota G8 dan pemilihan presiden AS mendatang. Di sisi lain, Riyadh mengalihkan  fokus masyarakat dunia pada kerusuhan di Irak dan Lebanon, dengan biaya lebih murah dan diklaim lebih mudah mencapai kemenangan.

Arab Saudi meyakini bahwa keberhasilannya di Lebanon dan Irak akan mengembalikan reputasinya yang hilang dalam perang Yaman, dan di sisi lain, menantang Republik Islam Iran di front terdepan.

Baca: Analis: Eropa dan AS Tuding Iran karena Malu Dikalahkan Yaman

Pengalaman sebelumnya menunjukkan kesalahan berulang Arab Saudi dalam perhitungannya dan kegagalannya di bidang ini. Sebagaimana, Riyadh tidak bisa menaruh harapan pada kevakuman front Yaman, karena pejabat senior Houthi telah menyatakan ketidakpatuhan Saudi terhadap perjanjian Stockholm dan ketidakseriusan terhadap upaya gencatan senjata yang diserukan setelah serangan ke fasilitas Aramco.

Sementara situasi politik di Irak dan Lebanon mulai membaik dan stasbil. Tentu dengan pemilihan perdana menteri baru di kedua negara ini (dalam waktu dekat), impian dan khayalan Bin Salman akan sirna. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: