NewsTicker

Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur

Mahasiswi Indonesia di China Ungkap Fakta Sebenarnya Soai Uighur Fakta Uighur

Jakarta – Sebuah kesaksian dari mahasiswi Indonesia yang berada di China. Melihat situasi yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan isu Muslim Uighur, Laila Fakhriyatus Zakiyah, juga turut memberika komentar tentang apa yang sebenarnya yang terjadi disana.

Sosok mahasiswi kedokteran di Hubei Polytechnic University China asal Kecamatan Randuagung Lumajang ini juga turut prihatin dengan isu Uighur di Indonesia.

Baca: Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina?

Berikut, Komentar Laila yang ditulis dari Asrama tempat tinggalnya di Kota Wuhan Provinsi Hubei China seperti dilansir NU.Lumajang.co.id:

Banyak media lokal Indonesia yang memakan mentah-mentah berita tentang Muslim Uighur yang disebarkan oleh media-media barat yang lalu menimbulkan banyak kisruh, protes dan demo oleh masyarakat di beberapa titik wilayah Indonesia.

Padahal andaikan mereka benar-benar tahu kondisi muslim Uighur sendiri di Cina, akankah mereka menertawakan aksi tidak berasaskan fakta di lapangan yang mereka elu-elukan sebagai patriotisme HAM tersebut?

Baca: Rekam Jejak Jaringan Teroris Uyghur di Indonesia

Mari simak lebih lanjut bukti-bukti di lapangan..

Pusat re-edukasi yang diberitakan dengan incommunicado detention (penahanan tanpa akses dunia luar) dan komunikasi dengan keluarga terputus jelas hanya “Perception without stimulus” atau dalam bahasa psikologi berarti halusinasi.

Mengapa? Karena sudah jelas pengimplementasian salah satu peraturan kamp tersebut di lapangan yang merujuk pada asasnya mereka diperbolehkan untuk melakukan komunikasi melalui telpon atau video call satu kali dalam seminggu melakukan setiap bulannya. Mereka bahkan boleh dijenguk, melakukan pertemuan dan makan bersama keluarga.

Bagaimana bisa di Xinjiang, tempat muslim Uighur tinggal terdapat sebanyak lebih dari 20.000 masjid, 29.000 fakultas islam dan 103 asosiasi islam jika Islam benar-benar di bombardir keberadaanya?

Baca: Isu Genosida Muslim Uyghur adalah Hoax :Video

Bahkan kepergiaan haji dan asuransinya pun dijamin dengan sangat baik oleh pemerintah Cina. Ini semua menandakan bahwa kebebasan beragama benar-benar terimplementasi dengan sempurna.

Lalu siapa yang di hukum? Mereka yang dihukum adalah mereka yang memiliki pemikiran radikal, yang memberontak dan yang berasakan terorisme.

Bisakah anda fikirkan, bagaimana bisa orang luar yang bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di Urumqi membuat informasi layaknya mereka sudah melakukan penelitian dan kajian lapangan berkali-kali?

Baca: 4 Kejanggalan Donasi ACT-UII Soal Penggalangan Dana Peduli Uyghur

Apakah anda yakin bahwa keyakinan anda bukan hasil dari pemikiran yang tidak kritis tanpa menelaah informasi berdasarkan fakta?

Sebagai Penutup tulisan saya, tiba-tiba saya teringat ucapan mas menteri Nadiem Makariem dalam salah satu pidatonya “Kita perlu critical thinking agar anak-anak kita mampu melihat dari dua sudut pandang masalah, bukan hanya menelannya mentah-mentah”. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: