NewsTicker

Mark Esper: AS Tak Pernah Janjikan Kurdi Suriah Dirikan Wilayah Otonom

AMERIKA SERIKAT – Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada hari Jumat (13/12) mengatakan bahwa Washington tidak pernah menjanjikan Kurdi Suriah bahwa mereka akan membantu Kurdi membangun negara otonom, meskipun bertahun-tahun AS memberi sinyal sebaliknya.

“Tidak pernah, kapan pun kami memberi tahu orang-orang Kurdi, bahwa kami akan membantu kalian mendirikan negara Kurdi yang otonom di Suriah, dan kami juga tidak akan berperang melawan sekutu lama Turki atas nama kalian,” ujar Esper kepada wartawan sebagaimana dikutip Russia Today.

“Kami memenuhi kewajiban kami. Dan kewajiban kami, perjanjian kami, pemahaman kami dengan Kurdi adalah ini: bahwa kami akan bekerja bersama untuk berjuang di Suriah untuk mengalahkan ISIS,” jelasnya. Tapi sekarang ISIS dinyatakan mati hampir sebanyak pemimpinnya, Baghdadi, apakah sudah berakhir untuk kemitraan AS-Kurdi?

Baca: Erdogan Tuntut NATO Dukung Turki Perangi Kurdi di Suriah Utara

Kata-kata Esper tidak diragukan lagi mengejutkan bagi siapa pun yang mengharapkan kelanjutan dari kebijakan Assad-Must-Go dari pemerintahan Obama, di mana dipahami bahwa Pasukan Demokrat Kurdi Suriah atas bantuannya kepada AS akan diganjar sebuah negara semi-berdaulat mereka sendiri sebagaimana Kurdistan Irak.

Media AS telah lama menyanyikan pujian ‘Rojava’ sebagai semacam utopia feminis, tetapi “eksperimen sosial yang berani” ini sekarang terancam oleh penolakan keras kepala pemerintahan Trump untuk terus mengobarkan perang mereka yang telah kalah di Suriah.

Baca: Trump Tikam Kurdi, Netanyahu Tak Punya Pilihan Selain Tunggangi Macan Kertas

Sebelum ini, SDF sudah menjadi proksi Anti-Assad yang sempurna bagi AS, yang melaluinya AS dapat menduduki daerah-daerah kaya sumber daya Suriah, sebuah pekerjaan yang jika tidak dengan proksi, akan dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Tapi kemudian setelah AS membuat langkah mengejutkan dengan menarik diri dari Suriah Utara dan memberi lampu Hijau pada Turki untuk menyerang Kurdi, mereka terpaksa menjilat ludah dan memohon perlindungan dari Assad dan Rusia. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: