NewsTicker

Yusuf Muhammad: Waspada! Syariah Jadi Alat untuk Menipu, Kenapa Kadrun Diam?

Yusuf Muhammad: Waspada! Syariah Jadi Alat untuk Menipu, Kenapa Kadrun Diam? Pelaku Penipuan Berkedok Syariah

Surabaya – Maraknya kelompok sok peduli agama menggunakan kedok keyakinannya untuk berpolitik dan menipu, seperti diungkap oleh pegiat medsos Yusuf Muhammad dalam akun fanpage facebooknya.

Jujur saya sangat prihatin dengan adanya penipuan investasi rumah berkedok syariah:

Pertama, prihatin karena si penipu dan yang ditipu sama-sama seiman.

Kedua, prihatin karena gerombolan kadrun yang gemar demo dan teriak takbir bela saudara seiman-pun faktanya bungkam.

Kenapa mereka bungkam?

Karena gerombolan Kadrun juga suka menipu pakai kedok syariah dan embel-embel agama. Jadi, jika ada penipuan yang modusnya serupa maka mereka tidak akan peduli dan terkesan menutupi.

Baca: Ketika Agama Dijadikan Tunggangan Politik

Mereka lebih peduli dengan maslalah lain yang jauh di luar negeri, seperti halnya kasus Uighur. Anehnya, ketika kita mengecam keras terhadap kejahatan berkedok syariah, justru kita dituding menjelek-jelekkan agama, dan dianggap ghibah terhadap saudara seimannya. Kan vangke!

Penipuan berkedok syariah ini sebenarnya sudah sering terjadi, dan korbannya kebanyakan dari kalangan umat muslim. Mereka rata-rata tergiur karena adanya iming-iming investasi syariah tanpa riba (tanpa bunga kredit).

Baca: Alwi Shihab: Jangan Gunakan Teks Keagamaan Untuk Politik

Tapi tolong dicatat, disini saya tidak berniat untuk memukul rata bahwa bisnis yang pakai embel-embel syariah semua abal-abal. Banyak juga kok yang jujur dan profesional. Tapi dengan adanya kasus penipuan ini, tentu akan berdampak negatif pada mereka yang sedang berbisnis secara jujur dan profesional di sektor investasi properti.

Tapi masalahnya, apakah mereka yang berbisnis secara jujur dan profesional tersebut bersuara keras mengecam penipuan ini?

Memang harus diakui, bisnis dengan embel-embel syariah di Indonesia akhir-akhir ini sedang banyak diminati. Terutama oleh mereka yang sedang semangat-semangatnya berhijrah. Hijrah yang seperti apa? Ya, tentu saja hijrah menurut versi mereka karena memang hijrah ada beberapa versi.

Perlu diketahui, sebagian kelompok memaknai hijrah yang paling utama adalah merubah penampilannya, bukan pada akhlaq dan perilakunya. Banyak juga kita temui mereka yang penampilannya agamis, tapi kelakuannya bau amis.

Baca: Denny Siregar: Isu Uighur Propaganda AS dan Kadrun Indonesia Serang NU-Muhammadiyah

Coba perhatikan pelaku penipuan yang selama ini berkedok syariah, semua rata-rata sok agamis. Mulai dari penipuan soal investasi rumah syariah, hingga investasi syariah kebun kurma.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak netizen dan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan investasi. Jangan tergiur hanya karena embel-embel syariah tanpa riba. Kelemahan umat muslim ini gampang percaya jika sesuatu sudah dilabeli syariah dan bumbu-bumbu agama, tapi anehnya jika sudah tertipu, sebagian dari mereka suka menganggap semua itu terjadi sudah atas izin-Nya.

Tidak perlu heran jika ujung-ujungnya Tuhan yang selalu menjadi sasaran atas kekhilafan kita. Memang inilah uniknya warga +62.

Baca: Khawarij Cikal Bakal Kelompok Pemberontak Pemerintah dan Khalifah Berkedok Agama

Memang benar semua itu atas izin Tuhan, tapi apa kita gak mau intropeksi bahwa sebelum semua itu terjadi, kita memang kurang berhati-hati. Perlu diketahui juga bahwa kita bukan hidup di zaman Nabi yang segala sesuatunya serba terbatas. Mobil tidak ada, pesawat tidak ada, HP tidak ada, telivisi tidak ada, uang tidak ada, bank juga tidak ada dan masih banyak lagi.

Jadi, segala fasilitas yang ada saat ini bukan seharusnya untuk diharam-haramkan atau dibid’ahkan, namun demikian harusnya dapat memanfaatkan dan memudahkan segala aktifitas kita, dengan catatan, tetap dalam batasan aturan agama.

“Sungguh Tuhan menghendaki kemudahan bagi kita, bukan kesulitan …”. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: