Artikel

Dina Sulaeman: Inilah ‘Senjata’ Canggih Iran yang Ditakuti AS

Dina Sulaeman: Inilah ‘Senjata’ Canggih Iran yang Ditakuti AS

Jakarta – Pengamat politik Timur Tengah Dina Sulaeman dalam akun fanpage facebooknya menjelaskan “Soft Power Iran”, Dina menjelaskan tiga kekuatan yang dimiliki oleh Iran yang tidak dimiliki oleh AS dan jelas sekali AS ketakutan oleh ‘senjata’ canggih Iran ini.

Dina Menjelaskan, kemarin ada beberapa komentator bertanya, apakah kekuatan (power) militer Iran mampu melawan AS?

Sebelum dijawab, saya jelaskan sedikit, dalam studi Hubungan Internasional, power dibagi dua: hard power dan soft power. Hard power dimaknai sebagai kekuatan material, misalnya senjata, jumlah pasukan, dan uang yang dimiliki sebuah negara.

Baca: Update Berita Iran-Irak, Rekam Jejak Hitam AS di Timur Tengah

Bila memakai kalkulasi hard power, faktanya, kekuatan Iran masih jauh di bawah AS. Apalagi, doktrin militer Iran adalah defensive (bertahan, tidak bertujuan menginvasi negara lain). Iran hanya menganggarkan 14 miliar USD (2,5% GDP) untuk belanja militer (dan ini hanya sepersepuluh dibanding total belanja militer gabungan semua negara Teluk). Sebaliknya, AS adalah negara dengan anggaran militer terbesar di dunia, 3,1% GDP atau setara 610 miliar USD (Dilema Keamanan dalam Ketegangan AS-Iran Setelah Serangan Tanker di Teluk Oman). Bahkan, AS telah membangun pangkalan-pangkalan militer di berbagai negara di sekeliling Iran.

Di video ini, ada penjelasan dari Menlu Iran, Javad Zarif, bagaimana dan mengapa Iran membangun hard powernya (membuat senjata).

Tapi, ada bentuk power yang lain, yaitu soft power. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa substansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain; sementara hard power menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan.

Professor HI dari Tehran University, Manouchehr Mohammadi, mengidentifikasi ada 10 sumber kekuatan soft power Iran, saya bahas tiga saja, selebihnya silakan baca di artikel aslinya. (The Sources of Power in Islamic Republic of Iran)

1. Rahmat Tuhan

Faktor Tuhan memang jarang disebut-sebut dalam analisis politik. Tapi, kenyataannya, memang inilah yang diyakini oleh rakyat Iran, dan inilah sumber kekuatan mereka. Menurut Mohammadi, bangsa Iran percaya bahwa orang yang berjuang melawan penentang Tuhan, pastilah dibantu oleh Tuhan. Dengan kalimat yang indah, Mohammadi mendefinisikan keyakinan ini sebagai berikut, “Kenyataannya, mereka (yang berjuang di jalan Allah) bagaikan tetesan air yang bergabung dengan lautan luas, lalu menghilang dan menyatu dalam lautan, kemudian menjelma menjadi kekuatan yang tak terbatas”.

Baca: Amerika: Pasukan Rudal Iran dalam Keadaan Siaga Penuh

Iran pasca Revolusi berkali-kali meraih kemenangan dalam melawan berbagai serangan dari pihak musuh, yang di atas kertas sepertinya tidak mungkin. Misalnya, invasi Irak (1980-1988). Hitungan awal Presiden Irak saat itu, Saddam, ia bisa segera menguasai Teheran (yang masih menjalani masa konsolidasi pasca Revolusi). Namun ternyata Iran bisa bertahan dan perang berlanjut 8 tahun dalam keadaan yang di atas kertas sebenarnya tidak seimbang (Irak didukung suplai dana dan senjata dari AS, Eropa, Arab, dan Soviet; sementara Iran malah diembargo).

Salah satu kejadian legendaris adalah kegagalan operasi rahasia Eagle Claw tahun 1980. Saat itu Presiden AS Jimmy Carter mengirimkan 8 helikopter dengan misi menyelamatkan 52 warga AS yang disandera para mahasiswa Iran di Teheran. Operasi itu gagal ‘hanya’ karena angin topan menyerbu kawasan Tabas, gurun tempat helikopter itu ‘bersembunyi’ sebelum meluncur ke Teheran. Angin topan dan pasir membuat helikopter itu saling bertabrakan dan rusak parah. Mengomentari kejadian ini, Imam Khomeini mengatakan, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan’ Allah dalam operasi ini”.

2. Kepemimpinan dan Otoritas

Peran kepemimpinan dan komando adalah faktor yang sangat penting dalam situasi konflik, baik itu militer, politik, atau budaya. Pemimpinlah yang menjadi penunjuk arah dalam setiap gerakan perjuangan. Dialah yang menyusun rencana dan strategi untuk berhadapan dengan musuh. Menurut Mohammadi, hubungan yang erat dan solid antara pemimpin dengan rakyatnya adalah sumber power yang sangat penting.

Baca: Pemimpin Tertinggi Iran: Amerika Musuhi Iran sejak Awal

Di Iran, karena yang menjadi pemimpin tertinggi adalah ulama yang memiliki kredibilitas tinggi, kepatuhan kepada pemimpin bahkan dianggap sebagai sebuah gerakan relijius, dan inilah yang menjadi sumber utama kekuatan soft power Iran. Dalam kalimat Mohammadi, “Inilah sumber power Iran yang menjamin (ketenangan) kawan dan menakutkan lawan”.

3. Mengubah Ancaman Menjadi Kesempatan

Revolusi Islam Iran telah menggulingkan Shah Pahlevi yang didukung penuh oleh Barat. Tergulingnya Shah membuat berbagai kepentingan Barat terganggu (terutama penguasaan sumber-sumber minyak). AS dan Eropa kemudian menerapkan berbagai sanksi dan embargo; berusaha meminggirkan Iran dalam pergaulan internasional, bekerjasama dengan Saudi untuk mempropagandakan citra buruk Iran (menyebarkan hoax seputar teologi, perseteruan mazhab), dll.

Baca: Rusia: Iran Takkan Sendirian Hadapi Kegilaan Amerika

Semua tekanan itu justru dijadikan kesempatan untuk maju dan berdikari. Diembargo senjata, bikin senjata sendiri. Diembargo obat, bikin pabrik farmasi sendiri. Mereka pakai istilah “jihad” untuk semua itu: jihad pembangunan [ketika giat membangun infrastruktur setelah porak-poranda akibat perang]; jihad pertanian (supaya swasembada pangan), jihad ekonomi (supaya tidak bergantung impor), dll.

Tahun 2011-2012, terjadi pembunuhan terhadap pakar-pakar nuklir Iran (dilakukan agen Mossad), respon yang muncul adalah: jumlah pendaftar kuliah di jurusan teknik nuklir justru semakin meningkat. Semakin ditekan, justru semakin bersemangat untuk berjuang. (ARN)

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: