NewsTicker

Palestina: Kesepakatan Abad Ini Trump Adalah Proposal Apartheid Zionis Israel

Warga Gaza Bakar Bendera Amerika dan Poster Trump

Palestina – Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh secara bulat menolak Kesepakatan Abad Ini Trump, dan menyatakan bahwa inisiatif tersebut hanyalah sebuah proposal untuk sistem apartheid yang melegitimasi proyek kolonial Israel di Palestina.

Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan jaringan berita televisi CNN pada hari Kamis, Shtayyeh mengatakan rakyat dan pemimpin Palestina menolak kesepakatan itu karena “hanya memberikan al-Quds (Yerusalem) sepenuhnya kepada Israel, dan melegitimasi pemukiman di tanah Palestina, di mana 720.000 pemukim akan tetap tinggal secara ilegal di tanah kami”.

Baca Juga:

Kesepakatan Abad Ini, Hamas: Palestina Tak Akan Lupakan Para Pengkhianat

Iran: Pembebasan Al-Quds adalah Prioritas Utama Dunia Islam

Dia juga menolak klaim Trump bahwa proposalnya “bisa menjadi kesempatan terakhir” untuk Palestina, dengan menyatakan, “Ini bukan kesempatan, juga bukan awal negosiasi, melainkan jebakan secara terang-terangan meskipun dengan sebutan negara Palestina”.

“Rencana ini 100% bias, dan sepenuhnya selaras dengan apa yang [PM Israel Benyamin Netanyahu] inginkan. Dia adalah penulis asli [dari rencana tersebut]. Rencananya membawa bahasa, ide, dan pidato yang sama yang kami dengar dan baca sebelumnya,” Shtayyeh menunjukkan.

Perdana Menteri Palestina menggarisbawahi bahwa “Israel seharusnya tidak diizinkan berada di atas hukum. Ini melanggar hak asasi manusia, merampas tanah Palestina, dan secara ilegal membangun pemukiman”.

Baca Juga:

Peran Penting Putra Mahkota Saudi dalam Kesepakatan Abad Ini Trump

Reaksi Dunia atas Pengumuman Kesepakatan Abad Ini Trump, UEA, Mesir dan Saudi Bahagia

“Amerika Serikat tidak bisa mengabulkan hal-hal yang tidak dimilikinya. Ini adalah tanah Palestina, dan Israel tidak dapat mencaplok bagian mana pun dari dari tanah ini … Apa yang terjadi sekarang adalah bahwa pemerintah AS sedang berusaha membuat referensi baru untuk solusi [perdamaian] dan memberikan legitimasi pada aneksasi ini. Ini adalah situasi yang sangat berbahaya,” kata Shtayyeh.

Dia juga menolak rencana Trump yang menggambarkan ibukota Palestina yang diusulkan berlokasi di Abu Dis, sebuah lingkungan di pinggiran Yerusalem al-Quds.

“Al-Quds (Yerusalem) bukan bagian dari Yerusalem. Al-Quds adalah kota tua dan daerah sekitarnya serta seluruh lembah kota Suci, tempat tinggal 300.000 orang. Al-Quds adalah kota yang diduduki pada tahun 1967,” kata Shtayyeh. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: