Amerika

PLIN PLAN! Trump Ganti Alasan Pembunuhan Jenderal Soleimani

PLIN PLAN! Trump Ganti Alasan Pembunuhan Jenderal Soleimani

Washington Presiden AS Donald Trump sekali lagi mengganti pembenarannya dalam memerintahkan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani. Ia mengklaim bahwa komandan anti-teror terkemuka itu sudah”mengatakan hal-hal buruk tentang negara kita.”

Saat berbicara di acara penggalangan dana Partai Republik pada hari Jumat di Mar-a-Lago, Florida, Trump tidak lagi menyebutkan “ancaman segera” sebagaimana klaim sebelumnya yang menyebabkan keputusannya memerintahkan pembunuhan Jenderal Soleimani.

Dalam pidatonya yang diadakan di dalam ballroom berlapis emas di Mar-a-Lago, ia mengklaim bahwa Soleimani mengatakan hal-hal buruk tentang Amerika Serikat sebelum serangan, yang menyebabkan keputusannya untuk mengesahkan pembunuhannya.

Baca Juga: 

Pernyataan terakhir Trump itu bertentangan dengan justifikasi administrasi Trump yang dinyatakan kepasa publik dalam memerintahkan serangan drone AS, yang telah mengundang kemarahan internasional.

Pembenaran “ancaman yang akan segera terjadi” telah digunakan oleh para pejabat AS setelah pembunuhan itu, tetapi gagal total memberikan bukti untuk klaim mereka.

NBC News melaporkan pada hari Senin bahwa Trump telah memberikan wewenang kepada militer AS untuk membunuh Jenderal Soleimani tujuh bulan lalu, yang secara otomatos menggurkan alasan pembenaran Trump mengenai “ancaman yang akan segera terjadi”.

Soleimani, komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), dan Abu Mahdi al-Muhandis, komandan kedua dari Mobilisasi Populer Irak (PMU), dibunuh di ibukota Irak, Baghdad awal 3 Januari

Iran merespons dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS.

Trump menceritakan detil pembunuhan yang ia perintahkan, bermula ketika ia melihat Jendral Iran Soleimani bertemu dengan pimpinan Hashd al-Shaabi Abu Mahdi Mohandes, namun dalam sambutannya, dengan konyol Presiden AS itu keliru menyebut bahwa Jenderal Soleimani bertemu dengan kepala gerakan perlawanan Libanon Hizbullah di Baghdad.

Trump mengakui juga pada acara penggalangan dana tersebut bahwa pembunuhan Jenderal telah “mengguncang dunia.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali saat mendengarkan pejabat militer AS ketika mereka menyaksikan serangan dari “kamera yang berjarak bermil-mil di langit.”

“Mereka bersama-sama, Pak,” ujar Trump mengingat ucapan para pejabat militernya.

“Pak, mereka punya dua menit dan 11 detik.

Tidak ada emosi.

“2 menit dan 11 detik untuk hidup, Pak,” Trump menirukan ucapan pejabatnya.

“Mereka di dalam mobil, mereka di dalam kendaraan lapis baja. Pak, mereka memiliki sekitar satu menit untuk hidup, Pak. 30 detik. 10, 9, 8 … ‘”

“Lalu tiba-tiba, boom,” lanjut Trump “‘Mereka tewas Pak. Tercerai berai!

Baca Juga: 

AS telah melakukan serangan drone di beberapa negara. Serangan udara, yang diprakarsai oleh mantan Presiden AS George W. Bush pada 2004, meningkat di bawah mantan Presiden Barack Obama.

Organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan Human Rights Watch mengatakan para pejabat AS melakukan kejahatan perang karena melakukan serangan pesawat tak berawak dan harus diadili.

Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei mengatakan, pada Hari Jumat, pembunuhan itu membuat AS malu karena Washington harus mengakui tindakan “teroris” dan melihat citranya mendapat pukulan balasan Iran.

“Hari dimana rudal Korps Pengawal Revolusi Islam menghancurkan pangkalan AS adalah salah satu dari hari-hari Tuhan. Respons Garda Revolusi merupakan pukulan besar bagi citra negara adidaya Amerika yang menakutkan,” kata pemimpin itu kepada sejumalah besar jamaah di Teheran pada hari Jumat.

Iran menggempur dua pangkalan AS di Irak dengan rudal sebagai pembalasan atas pembunuhan Jenderal Soleimani.

“Hari Tuhan berarti melihat tangan Tuhan dalam suatu peristiwa, hari ketika puluhan juta warga di Iran dan ratusan ribu di Irak dan beberapa negara lain datang ke jalan-jalan untuk menghormati darah komandan Pasukan Quds,” ujarnya. (ARN)

Ikuti Update berita klik Join Telegram ArrahmahNews

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: