NewsTicker

Siapa Shadow Commander yang Dibunuh oleh Amerika?

Siapa Shadow Commander yang Dibunuh oleh Amerika? Shadow Commander

Jakarta  Mayor Jenderal Qasem Soleimani gugur syahid dalam serangan udara AS di Baghdad. Inilah biografi singkat tentang komandan militer Iran yang dibunuh oleh Amerika. Soleimani, lahir pada tahun 1957, bergabung dengan Garda Revolusi pada 1979 setelah Revolusi Islam Iran.

Karier Militer yang Memukau 

Dia dengan cepat naik tangga karier, menjadi komandan Divisi Sarallah ke-41 saat masih berumur di bawah 30 dan pada pertengahan 80-an dia mendirikan misi rahasia di Irak untuk berjuang melawan rezim Saddam Hussein, bergabung dengan upaya-upaya Kurdi Irak.

Baca: IRGC Konfirmasi Kematian Jenderal Qassem Solaimani

Setelah perang, ia menjadi komandan Pengawal Revolusi di rumahnya di provinsi Iran, Kerman, tempat ia berperang melawan perdagangan opium dari seberang perbatasan Afghanistan.

Dia memenuhi peran sampai tahun 2002, ketika beberapa bulan sebelum invasi AS ke Irak, Soleimani didaulat untuk memimpin Pasukan Quds, unit militer elit Iran yang bertugas menyebarkan kebijakan Republik Islam di luar Iran – salah satu alasan mengapa komandan sering menjadi bidikan Washington.

Pada 2011, Jenderal David Petraeus, mantan direktur CIA, mengatakan bahwa Soleimani dan Pasukan Quds-nya telah merusak banyak pekerjaan Washington dan telah membatalkan upaya diplomatik dan militer AS di Lebanon.

Baca: Live Update: Kematian Jenderal Qassem Solaimani dalam Serangan Udara AS

Pada tahun 2011, Soleimani dipromosikan menjadi Mayor Jenderal Pengawal Revolusi Iran oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, dan menjuluki jenderal bayangan itu sebagai “martir yang hidup”.

Target AS 

Mantan Duta Besar Iran untuk Yordania, Mostafa Moslehzadeh, mengungkap bahwa AS selama 14 tahun telah gagal dalam berbagai siasat licik mereka untuk membunuh Komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Qassem Soleimani, yang juga dijuluki sebagai Jendral Bayangan.

“Berdasarkan dokumen-dokumen AS, Amerika telah berusaha untuk membunuhnya (Jendral Soleimani) sejak tahun 2003. Plot ini telah resmi diangkat di Kongres AS. Juga telah dikatakan bahwa penculikan sejumlah diplomat Iran di luar negeri dilakukan karena para penculik mengira bahwa Jenderal Soleimani ada di antara mereka,” jelas Moslehzadeh, yang saat ini telah menjadi dosen di universitas, dalam sebuah forum di Teheran.

Moslehzadeh menekankan bahwa AS menganggap Jenderal Soleimani sebagai penyebab kekalahan dan kegagalan mereka di kawasan.

Komandan Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qassem Soleimani juga pernah mambuat AS gigit jari karena gagal mengetahui kunjungannya ke Moskow untuk bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin serta para komando tingkat tinggi Rusia.

Baca: Sputnik: Wakil Pemimpin Hasdh al-Shaabi dan Jenderal Qassem Sulaimani Tewas dalam Serangan Roket di Bandara Baghdad

Jenderal Soleimani mengadakan pertemuan dengan Presiden Putin dan para pejabat militer dan keamanan berpangkat tinggi Rusia selama tiga hari kunjungan pekan lalu untuk membahas isu yang berkembang selama pertemuan antara Putin dan Pemimpin Tertinggi Agama Iran Ayatullah Ali Khamenei (akhir November lalu di Teheran).

Beberapa hari setelah Rusia memasuki perang melawan terorisme di Suriah, beberapa media Barat mengklaim bahwa Jenderal Soleimani telah mengunjungi Moskow untuk mendorong Putin agar mau bergabung dalam perang melawan teroris di Suriah.

Jenderal Soleimani tiba di Moskow pada tanggal 24 Juli untuk pertemuan dengan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu dan Presiden Rusia, Putin, demikian dilaporkan laporan media-media Barat pada bulan Agustus.

Di Suriah, Pasukan Quds – yang bertanggung jawab langsung kepada pemimpin tertinggi Iran – diyakini terlibat dalam menekan pemberontakan dan terorisme di Suriah – sebuah langkah yang melahirkan sanksi AS yang dijatuhkan pada Soleimani, serta seluruh IRGC.

Tepat sebelum pembunuhannya di Bandara Baghdad, jenderal besar mengeluarkan peringatan setelah Washington memukul mundur serangan terhadap Kedutaan Besar Amerika di ibukota Irak, dan menegaskan Iran tidak bergerak menuju perang, tetapi tidak takut potensi konflik.

Klimaks Ketegangan

Sebagaimana dikonfirmasi oleh Pentagon, Komandan Pasukan Quds dari Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, terbunuh oleh serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad, ketika pasukan AS melakukan “pertahanan yang menentukan untuk melindungi personil AS di luar negeri, atas arahan presiden”.

Pembunuhan Soleimani terjadi beberapa saat setelah ia bersama rombongan turun dari pesawat dan mobil yang membawanya sedang keluar dari bandara. Serangan drone atau udara yang dilakukan oleh Amerika menghancurkan kendaraan yang membawanya.

Serangan ini terkait erat dengan serangan AS sebelumnya yang menargetkan 5 pangkalan Brigade Hizbullah dari Unit Mobilisasi Populer Irak.

Martir Soleimani adalah tokoh perlawanan internasional, dan semua pengagumnya menuntut pembalasan atas darahnya. Semua teman – dan juga musuh – perlu tahu bahwa jalan jihad dalam perlawanan akan berlanjut dengan motif berlipat ganda dan bahwa kemenangan yang menentukan akan menjadi masa depan para pejuang di jalan yang diberkati ini. Kepergian pemimpin di tengah kita, korban, adalah tragedi yang pahit, tetapi kelanjutan perjuangan dan pencapaian kemenangan akhir akan lebih pahit bagi para pembunuh dan penjahat.

Bangsa Iran akan memuliakan nama dan monumen dari martir tingkat tinggi Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan para martir yang bersamanya, terutama pejuang besar Islam, Sayyid Abu Mahdi Al-Muhandis. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: