Artikel

Update Berita Iran-Irak, Rekam Jejak Hitam AS di Timur Tengah

Jakarta – Hari Sabtu (04/01/2020), pejabat militer Iran (IRGC), Brigadir Ali Fadavi, menyatakan bahwa pemerintah AS telah mengirim pesan (via Kedubes Swiss di Tehran) yang isinya: permintaan agar konflik diselesaikan dengan diplomasi dan jika Iran mau membalas dendam, ‘lakukan balasan sesuai apa yang kami lakukan’ (maksudnya, AS bilang, “kalau ente mau balas dendam, ya jangan keras-keras lah”).

Jawaban dari Iran, “Amerika Serikat harus bersiap menunggu pembalasan dendam yang keras; yang tidak hanya dilakukan Iran. Jenderal Qassem Soleimani bukan sekedar anggota Pengawal Revolusi Islam Iran, tetapi juga anggota front besar perlawanan (resistensi/muqawamah) yang lintas-batas negara dan mereka semua siap melakukan balas dendam yang keras. Pembalasan itu pasti akan dilakukan pada saat terbaik dan dengan cara sebaik mungkin”.

Baca: Irak: Kedutaan Amerika Sarang Kejahatan dan Surga Intelijen AS-Israel di Kawasan

Hari Minggu (05/01), Parlemen Irak merilis resolusi, isinya antara lain meminta pemerintah Irak agar “mengakhiri keberadaan pasukan asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, wilayah udara, atau air dengan alasan apapun”.

PM sementara Irak, Adel Abdul-Mahdi, menjawab akan segera menyiapkan langkah-langkah hukum dan prosedural untuk mengimplementasikan resolusi tersebut.

Resolusi itu juga akan berlaku untuk tentara negara lain. Selain tentara AS, ada beberapa negara asing yang juga mengirim tentara ke Irak dalam koalisi internasional melawan ISIS (koalisi ini dibentuk AS pada 2014 dengan persetujuan pemerintah Irak).

Pemerintah Jerman sudah merespon, “Kehadiran militer Jerman hanya dilanjutkan jika pemerintah Irak menginginkan itu”.

Baca: Diusir Parlemen, Menhan AS Ngotot Tak Mau Tarik Pasukan dari Irak

Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi mengatakan kepada parlemen bahwa Jenderal Qassem Soleimani datang ke Irak untuk menemuinya, dalam rangka menyampaikan tanggapan Iran terhadap pesan Saudi (=akan melakukan upaya negosiasi dengan Saudi dengan dimediasi Irak). Artinya, Jenderal Soleimani datang sebagai tamu negara, mendarat di bandara sipil (bukan militer), dengan cara terbuka (bukan diam-diam).

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Irak sudah mengeluarkan pernyataan bahwa pembunuhan terhadap Qassem Soleimani itu merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak dan bertentangan dengan misi yang disepakati koalisi internasional. Kemenlu Irak juga sudah mengajukan pengaduan resmi dengan Sekretaris Jenderal PBB dan Dewan Keamanan atas serangan ini.

Baca: Guardian: Rincian Kunjungan Soleimani Bocor Sebelum Serangan

Apa tanggapan Trump? Tadi malam (Minggu 05/01/2020) dia bilang:

  1. Akan memberi Irak sanksi “yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya”.
  2. Tentara Amerika Serikat di Irak tidak akan pergi sebelum Irak membayar ganti rugi pembangunan semua pangkalan militer itu. Kata Trump, pangkalan militer itu biayanya “miliaran dolar”.

Catatan sejarah:

Tahun 2003, Presiden Bush menginvasi Irak tanpa seizin PBB dengan alasan “ada senjata pembunuh massal” dalam rangka “Perang Melawan Teror”. Perang ini dicanangkan Bush pasca serangan 9/11 WTC (2001). Setelah Presiden Irak (Saddam Husein) tumbang, terbukti alasan itu hoax belaka. Pada 2006, Bush secara resmi mengakui tidak ada senjata pembunuh massal itu, juga serangan ke Irak tidak ada kaitan dengan 911 atau Al Qaeda.

Baca: Analis: Arab Saudi, Amerika, Israel Gunakan Serangan 9/11 untuk Menipu Dunia

Sejak 2003, ratusan ribu pasukan AS bercokol di Irak, sampai akhirnya pada 2011 AS menarik sebagian besar tentaranya dari Irak, menyisakan 20.000 staf di kedutaan AS (kedutaan terbesar yang dimiliki AS di dunia, luasnya 42 hektar) dan sekitar 4500 staf keamanan swasta. Tapi 2014, AS punya alasan untuk kirim tentara lagi ke Irak: untuk perang melawan ISIS. Saat ini ada 5200 tentara AS di Irak, tersebar di 12 pangkalan militer. (ARN)

Penulis : Dina Sulaeman

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: