NewsTicker

Amerika Langgar 70 Konvensi Jenewa Selama Pertempuran di Fallujah

LONDON – Surat kabar Inggris ‘Morning Star’ pada hari Selasa (04/02/2020) mengungkapkan bahwa media arus utama mengabaikan kejahatan Amerika-Inggris di Irak, dan sengaja menghilangkan bukti terkait kejahatan ini selama periode invasi Irak.

Laporan mengungkap bahwa Amerika melanggar 70 ketentuan Konvensi Jenewa selama pertempuran Fallujah.

Morning Star mengutip sejarawan Amerika Howard Zain yang mengatakan bahwa “masalah utama terkait integritas sejarah bukanlah kebohongan, melainkan kelalaian atau pengabaian data penting secara sengaja. Contoh yang paling baik dari kebenaran yang tak terbantahkan ini adalah saksi sejarah yang diterbitkan oleh BBC, di mana Kolonel Andrew Melbourne menceritakan bagaimana dia berperang dalam pertempuran Fallujah di Irak pada tahun 2004.

BacaVIDEO Tentara Suriah Kepung Pos Militer Turki di Idlib

Dia menambahkan bahwa “pertempuran yang diluncurkan di kota itu untuk menaklukkan perlawanan, dengan melibatkan 20.000 tentara Amerika yang didukung oleh tank dan pesawat tempur. Sementara populasi kota Fallujah sekitar 250.000 orang dan hanya memiliki 2.500 pejuang pada saat serangan itu terjadi.”

Laporan itu menambahkan bahwa menurut “kesaksian Melbourne yang dibuat-buat, dia mengatakan bahwa hanya ada sekitar 20.000 hingga 30.000 warga sipil, dan menyangkal keberadaan warga sipil lainnya di kota itu. Tetapi dia ingat, setelah berakhirnya pertempuran, dimana kerusakan yang ditimbulkannya seperti Perang Dunia II, atau seperti yang terjadi di kota Dresden Jerman atau Stalingrad Soviet pada saat itu.”

Laporan tersebut menyatakan bahwa, “setelah analisis mendalam dari liputan media di Fallujah, menjadi jelas bahwa jumlah total kematian warga sipil lebih dari 2.000 orang. Sebagai contoh, pada Januari 2005, direktur rumah sakit utama di Fallujah melaporkan bahwa hanya 700 mayat yang ditemukan dari sepertiga kota, 550 di antaranya adalah wanita dan anak-anak.”

Terlebih lagi, laporan tersebut tidak menyebutkan aspek terpenting dari pembantaian itu – bahwa pasukan AS melakukan sesuatu yang dianggap sebagai kejahatan perang jika dilakukan oleh negara-negara yang bermusuhan secara resmi seperti Iran, Suriah, atau Rusia. Faktanya, menurut akademisi dan penulis Amerika Jonathan Holmes, Amerika Serikat telah melanggar 70 Konvensi Jenewa di kota Fallujah.

Dan Korps Marinir Michael Leduc mengatakan dalam kesaksiannya tentang pertempuran pada 2008 bahwa “aturan keterlibatan telah berubah untuk militer AS. Kadang kami berasumsi bahwa semua orang adalah musuh dan batalion Marinir memerintahkan para prajurit untuk membunuh semua orang yang membawa ponsel. Amerika Serikat juga memberlakukan jam malam yang ketat, membunuh siapa pun atau apa pun yang bergerak di malam hari.”

BacaSudan-Israel Gelar Pembicaraan Rahasia, Palestina: Ini Tikaman dari Belakang

Sersan Angkatan Darat AS David Bellavia menekankan dalam catatannya “Setiap senjata yang tersedia di gudang senjata selain senjata nuklir, telah digunakan di Fallujah, bahkan amunisi fosfor putih.”

Dia juga menegaskan “jika negara-negara Barat atau sekutu adalah pelaku pelanggaran hak asasi manusia, media mereka menggunakan lebih sedikit antusiasme untuk menyelidiki laporan ini dan tidak ada langkah yang diambil untuk menghentikan pelanggaran tersebut.” (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: