NewsTicker

Jelang Pertemuan Trump-Modi, Kerusuhan Pecah di Delhi; 5 Tewas, 70 Terluka

Jelang Pertemuan Trump-Modi, Kerusuhan Pecah di Delhi; 5 Tewas, 70 Terluka India Rusuh

India – Delhi menjadi saksi bentrokan terburuk dalam beberapa waktu belakangan ini, ketika dua komunitas saling melempar batu dan bom molotov sejak Senin kemarin. Meskipun memberlakukan tindakan keras, kerusuhan masih belum dapat dihentikan, hingga mengakibatkan bentrokan semalam di berbagai bagian kota.

Seorang perwira polisi dan lima warga sipil tewas, dan 70 orang lainnya terluka ketika ribuan demonstran menentang undang-undang kewarganegaraan bentrok di New Delhi pada hari Senin. Kerusuhan itu terjadi beberapa kilometer dari tempat Presiden AS Donald Trump yang akan mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, pada hari Selasa.

Menurut laporan resmi, petugas polisi Ratan Lal, dan warga sipil Mohammed Furqan, Mohammed Shahid, Rahul dan Vinod tewas dalam bentrokan di bagian timur Delhi. Catatan menunjukkan bahwa setidaknya 45 orang dirawat di Rumah Sakit Guru Teg Bahadur, sementara 15 lainnya dirawat di Rumah Sakit Jag Parvesh di Delhi. Enam petugas polisi dirawat dalam kondisi serius di Rumah Sakit Max.

Baca Juga: 

Video dari tempat-tempat bentrokan memperlihatkan orang-orang melempar batu, membakar kendaraan, pompa bensin dan toko-toko. Sumber-sumber kementerian dalam negeri India mengatakan bahwa pasukan paramiliter tambahan telah dikerahkan ke wilayah tersebut.

Meskipun memberlakukan larangan pertemuan besar-besaran, orang-orang terus turun ke jalan di daerah-daerah sensitif seperti Gokulpuri Bhajanpura, Maujpur, dan Jaffrabad. Kendaraan, toko, dan bangunan dibakar di kawasan itu dalam semalam.

Demonstran mengadakan protes besar di Delhi sejak Desember 2019, setelah pemerintah Modi mengamandemen undang-undang kewarganegaraan yang telah berusia enam dekade.

Undang-undang kewarganegaraan yang diubah memberikan kewarganegaraan kepada non-Muslim dari tiga negara tetangga yang didominasi Muslim – Pakistan, Afghanistan dan Bangladesh.

Orang-orang Muslim menuduh pemerintah merusak tradisi sekuler, dan meminta agar undang-undang tersebut diamandemen untuk memasukkan lagi persyaratan Muslim sebagai warga negara. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: