ISIS

Niluh Djelantik: Nyawa 600 WNI Eks ISIS Apakah Lebih Berharga Dibanding 270 Juta Rakyat Indonesia?

Niluh Djelantik

Jakarta – Ide pemulangan 600 Eks WNI yang bergabung dengan teroris ISIS membuat warganet gerah dan merasa ketakutan, karena para kombatan ISIS ini adalah orang-orang yang sudah di cuci otak sedemikian rupa, mereka adalah predator yang siap membunuh siapa saja yang tak sejalan dengan agendanya. Virus radikalisme yang menancap di kepala mereka sulit untuk diobati kecuali mereka bisa menerima orang lain.

Salah satu pegiat medsos asal Bali, Niluh Djelantik dalam akun facebooknya memberikan sebuah penolakan tentang pemulangan mereka.

Baca Juga:

Niluh, sekalian saja siapkan karpet merah, disambut meriah, diarak keliling Indonesia pakai perayaan mewah. Inisiasi siapapun yang memulangkan mereka adalah sebuah keputusan yang sangat kusesalkan.

Eks ISIS ? Mereka telah membakar paspor mereka sendiri. Artinya apa? Mereka dengan sadar telah memilih jalan hidupnya. Mereka adalah bibit-bibit kehancuran negeri ini.

Kusarankan, siapapun yang menginisiasi kepulangan mereka, ada baiknya nyobain dulu tinggal bareng anggota ISIS selama sebulan saja. Aku siap nyumbang tiket pesawat sekali jalan. Kesayangan ada yang mau bantuin aku?

Baca Juga:

Jika ada yang berpikir 600 nyawa jauh lebih berharga dibandingkan 270 juta nyawa dan masa depan negeri ini. Mungkin jidatnya habis kebentur dinding. Jadi agak pusing dan gak bisa mikir dengan pikiran dingin.

Yang setuju anggota ISIS dari Indonesia gak usah dipulangkan mana suaranya?

Kebayang kejahatan kemanusiaan dan kekejaman mereka yang rekam jejaknya bisa kamu cek sendiri di mana-mana. Aku sih BIG NO, Kalau kamu?. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: