Nasional

Pemulangan WNI Eks ISIS Cara Kelompok Radikal Bikin Gaduh Negeri

Pemulangan WNI Eks ISIS Cara Kelompok Radikal Bikin Gaduh Negeri
WNI Vs Eks ISIS

Jakarta – Dalam sebuah video yang kabarnya diproduksi oleh BBC terlihat anak-anak para petempur ISIS merengek minta pulang ke Indonesia. Duh, kasihan anak-anak ini. Mereka hanya digunakan oleh para orang tua mereka sebagai alat untuk meraih simpati publik tanah air.

Terlepas dari pro-kontra pemulangan WNI ISIS, pemerintah justru tidak hadir di negeri sendiri. Khususnya kementerian agama yang abai terhadap hak-hak warga Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya sendiri sejak Agustus 2012 dan Ahmadiyah NTB yang terusir dari rumahnya sendiri sejak Mei 2018.

Baca Juga:

Kenapa segerombolan politisi memalukan itu menyuarakan kemanusiaan dan HAM untuk memulangkan WNI Eks ISIS, sementara status hukum kewarganegaraannya telah dinyatakan gugur berdasarkan Pasal 23 UU Kewarganegaraan 2016 huruf (d) dan huruf (f)? Kenapa para politisi senayan tidak menyuarakan kemanusiaan dan HAM terhadap pengungsi Syiah Sampang dan Ahmadiyah NTB yang jelas-jelas kehilangan hak-haknya sebagai warga negara?

Seharusnya DPR, Kementerian terkait dan Pemerintah lebih memperhatikan dan menjamin warga negara yang hadir dan setia terhadap ibu pertiwi bukan kepada mereka yang telah berkhianat terhadap negara.

Konstitusi memerintahkan negara untuk melindungi setiap warganya. Pada konteks itu, sudah semestinya pemerintah memastikan tidak ada warga negara yang telantar di mana pun berada. Namun, perlu digarisbawahi, amanah itu tak lagi mengikat buat bekas anggota ISIS dan Eks WNI.

Sebaliknya negara seharusnya hadir, khususnya menteri agama untuk memastikan perlindungan dan menjamin keamanan pemulangan warga Syiah Sampang dan Ahmadiyah NTB yang terlantar hingga hari ini.

Terlepas dari pro-kontra pemulangan WNI ISIS, pemerintah justru tidak hadir di negeri sendiri. Khususnya kementerian agama yang abai terhadap hak-hak warga Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya sendiri sejak Agustus 2012 dan Ahmadiyah NTB yang terusir dari rumahnya sendiri sejak Mei 2018.

Baca Juga:

Kenapa segerombolan politisi memalukan itu menyuarakan kemanusiaan dan HAM untuk memulangkan WNI Eks ISIS, sementara status hukum kewarganegaraannya telah dinyatakan gugur berdasarkan Pasal 23 UU Kewarganegaraan 2016 huruf (d) dan huruf (f)? Kenapa para politisi senayan tidak menyuarakan kemanusiaan dan HAM terhadap pengungsi Syiah Sampang dan Ahmadiyah NTB yang jelas-jelas kehilangan hak-haknya sebagai warga negara?

Seharusnya DPR, Kementerian terkait dan Pemerintah lebih memperhatikan dan menjamin warga negara yang hadir dan setia terhadap ibu pertiwi bukan kepada mereka yang telah berkhianat terhadap negara.

Konstitusi memerintahkan negara untuk melindungi setiap warganya. Pada konteks itu, sudah semestinya pemerintah memastikan tidak ada warga negara yang telantar di mana pun berada. Namun, perlu digarisbawahi, amanah itu tak lagi mengikat buat bekas anggota ISIS dan Eks WNI.

Sebaliknya negara seharusnya hadir, khususnya menteri agama untuk memastikan perlindungan dan menjamin keamanan pemulangan warga Syiah Sampang dan Ahmadiyah NTB yang terlantar hingga hari ini.

Baca Juga:

WNI Eks ISIS Dipulangkan, WNI di Negeri Sendiri Terlantar, Kemana Menteri Semua Agama?

Rengekan mereka segera disambut riuh oleh beberapa kalangan dan politisi negeri ini, yang notabene itu-itu juga (para pendukung alumni demo monas). Alasannya, mereka adalah saudara sebangsa yang sudah semestinya dimaafkan (dirangkul).

Saya sangat tidak setuju dengan pemulangan mereka. Ini bukan soal memaafkan. Melainkan, ini soal “melawan lupa”. Saat para pendukung ISIS itu dulu berangkat ke Suriah, mereka dengan bangga dan congkak menghina negeri ini sebagai kafir, taghut, dsb. Sehingga, mereka berharap bisa menegakkan pemerintahan khilafah ISIS diluar sana. Bahkan tanpa ragu mereka membakar paspor-paspor mereka sebagai simbol perpisahan dengan NKRI.

Sekarang setelah ISIS kalah dan gagal total, tiba-tiba mereka ingin balik ke Indonesia. Aneh sekali. Kita jangan percaya begitu saja. Ini hanyalah strategi untuk mengalihkan perjuangan ISIS ke tanah air, setelah gagal di Irak dan Suriah.

Mereka ini telah terlatih untuk membuat bom, menggunakan senjata, menggorok leher, dan aksi-aksi teroris lainnya. Termasuk melatih dan mendoktrin anak-anak mereka. Kepulangan mereka hanya akan menghidupkan dan menggairahkan sel-sel tidur terorisme dan benih-benih baru radikalisme. Yang ada di dalam negeri saja sudah merepotkan, apalagi bila ditambah para teroris yang sudah terlatih tersebut.

Selain itu, kita juga mesti melihat fakta bahwa upaya deradikalisasi masih jauh dari kata berhasil. Karena, mereka para gerombolan itu sudah terlanjur “mati otak”. Sulit untuk menyadarkan orang yang sudah berlagak sebagai tuhan. Buktinya, radikalisme sudah menjadi kanker di negeri ini, menjalar kemana-mana, termasuk ke sekolah-sekolah dan universitas-universitas negeri serta lembaga-lembaga pemerintah.

Kalau ada beberapa gelintir radikalis atau teroris yang menyatakan tobat, itu belum menjadi ukuran keberhasilan. Boleh jadi itu cuma kamuflase saja, supaya bisa segera menghirup udara bebas. Terbukti banyak para ex-napi terorisme yang melakukan teror lagi (setelah bebas dari penjara).

Apalagi, faktanya para gerombolan garis keras itu dimanfaatkan pula oleh para politisi busuk. Akibatnya, semakin sulit untuk mengukur keberhasilan upaya deradikalisasi. Oleh sebab itu, cara yang lebih tepat saat ini adalah tindakan tegas terhadap mereka, dari semua elemen waras di negeri ini. Jangan ada lagi “mayoritas diam” (silent majority).

Alhasil, lebih baik pemerintah memikirkan saja bagaimana memulangkan WNI yang berprestasi unggul di luar negeri, demi berkiprah di sini. Kalau ini, saya setuju sekali. (ARN)

Penulis: M Anis

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: