NewsTicker

Penyiksaan Luar Biasa Dialami Assange Selama Sidang Ekstradisi

INGGRIS – Di hari kedua sidang ekstradisi Julian Assange di London pada hari Selasa (25/02), selain tim pembela mengangkat sejumlah masalah mengenai kesehatan mental pendiri WikiLeaks dan kemungkinan risiko bunuh dirinya, mereka juga mengungkap bahwa motif politik di sekitar kasus ini telah menghadirkan pandangan suram bagi Assange, yang menghadapi ancaman 175 tahun penjara jika dikirim ke AS.

Analis dan produser berita Sputnik, Walter Smolarek, bergabung dengan Radio Sputnik’s Loud and Clear pada hari Selasa melalui telepon dari Woolwich Crown Court (tempat persidangan Assange) di London untuk menyampaikan apa yang telah dilihatnya di persidangan dan memberikan wawasan baik mengenai apa yang terjadi di dalam gedung pengadilan maupun pada protes di luar gedung.

“Julian Assange telah diperlakukan sangat buruk selama seluruh proses ini,” kata Smolarek kepada pembawa acara Brian Becker dan John Kiriakou, sehubungan dengan apa yang telah dialami pendiri WikiLeaks selama dua hari terakhir saja.

Baca:

Aktivis hak asasi manusia dan mantan Duta Besar Inggris untuk Uzbekistan Craig Murray merinci dalam sebuah artikel hari Selasa di situs webnya bahwa Assange “dikurung di kotak kaca anti peluru” dimana selama persidangan Assange menyatakan beberapa kali bahwa hal ini membuat sangat sulit baginya untuk melihat dan mendengar proses yang berlangsung. ” Ketika masalah ini diajukan kepada Hakim Vanessa Baraitser, dia berpendapat bahwa kesulitan mendengar itu karena para demonstran di luar, bukan kotak.

Smolarek mengatakan bahwa selain dipaksa berdiri sepanjang persidangan di kotak kaca, Assange juga “dilecehkan secara buruk oleh otoritas penjara di dalam Penjara Belmarsh malam sebelum sidang.”

Ia menjelaskan bahwa dokumen pengadilan Assange disita oleh otoritas penjara, dan pendiri WikiLeaks itu dilaporkan dipindahkan di antara kamar-kamar dalam upaya “untuk melecehkannya” dan “membuatnya tidak mampu untuk benar-benar membela diri di pengadilan.”

Kondisi-kondisi ini, bersama dengan Assange yang telah menjadi sasaran penggeledahan, dicatat oleh hakim selama persidangan hari Selasa. Namun menurut Smolarek, hakim mengatakan bahwa tindakan otoritas penjara bukan urusan pengadilan.

“Ini adalah pelecehan yang luar biasa terhadap seorang tahanan, seseorang yang seharusnya memiliki dugaan tidak bersalah, tapi jelas itu tidak diindahkan dalam kasus ini,” katanya.

Murray sendiri berpendapat bahwa seseorang “sudah dianggap bersalah dan di penjarakan begitu datang” di Woolwich Crown Court dan menyamakan antara gedung pengadilan dan penjara disana dengan Teluk Guantanamo dan Departemen Kehakiman AS.

Sputnik melaporkan bahwa pihak pembela berpendapat bahwa akan “tidak adil dan menindas” jika Assange diekstradisi ke AS, karena ia berada pada “risiko bunuh diri yang tinggi.” Selain itu, pengacara Assange, Edward Fitzgerald, mengklaim bahwa penuntutan kliennya di AS dilakukan sesuai dengan “motif politik tersembunyi dan tidak dengan itikad baik.” (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: