NewsTicker

Sirkuit Balap 2024: Adu Popularitas Ala Gabener

Sirkuit Balap 2024: Adu Popularitas Ala Gabener Formula E

Jakarta – Balapan Formula E sebenarnya bisa “digagalkan” secara massif. Sayangnya event bergengsi tingkat dunia tersebut sudah terlanjur masuk lingkaran transaksi bisnis. Siapapun yang coba-coba menghalangi atau minimalnya mempersulit, mereka berani “membayar” untuk segera diam.

Terpilihnya Jakarta sebagai lokasi balapan mobil listrik bukan proses sebulan dua bulan. Bagi pihak yang tidak sepakat acara kebut-kebutan berbiaya 1,3 Tenggo, wajib hukumnya “mencurgai” saat Abas merebut kursi DKI 1 ada keterkaitan dengan event tersebut. Bahkan sah saja menuduhkan suksesi Gabener 2017 lalu mendapat sponsor dari produser balapan. Mengapa harus di Monas, bukan di Jonggol, mengapa ngotot di Jakarta bukan di Bali, butuh daya nalar diluar batas untuk menelisiknya.

Baca Juga:

Jakarta punya ikon bersejarah yang menarik. Monas sama dengan menara Eiffel menjadi karya langka peninggalan arsitektur. Yang sayangnya sedang dalam rangka dikorbankan untuk kepentingan bisnis hiburan. Dengan mengatas namakan tekhnologi masa depan, peninggalan masa lalu menjadi background pertunjukan balapan.

Cagar budaya telah diperkosa demi kepentingan bisnis. Kalau Monas bisa dipakai untuk sholat berjamaah dan reuni 212, harusnya bisa juga untuk acara hiburan lain kalau sama-sama untuk mengumpulkan 7 juta pengunjung? Bisa jadi ide balapan di Monas terinspirasi dari event 212 yang hingga tahun ini masih berlanjut seri tiap tahunnya.

Akan lain ceritanya seandainya BTP yang menjadi Gubernurnya. Monas tetaplah menjadi cagar budaya yang mesti dijaga dan dirawat, bukan direvitalisasi untuk kepentingan balapan mesin beroda. Monas sudah menjadi obyek vital, tidak semestinya direvitalisasi lagi, kecuali sudah serupa waduk Pluit atau atau Lokalisasi Kalijodo yang butuh ditata ulang.

Baca Juga:

Apapun polemiknya, balapan tetap harus terjadi. Kontrak bisnis sudah ditandatangani dengan konsekuensi jika batal, Indonesia bakal dipermalukan di komunitas perbalapan sedunia dan akhirat. Begitulah cara cerdas Gabener menyandera Monas dan seisinya. Kontroversi sengaja dibuat dalam rangka promo gratis, sambil membangun gengsi. Sebagian kita sedang dijebak gengsi klas. Balapan mobil listrik yang kabarnya tiket termurah festival alias standing party, dibandrol harga 500ribu menciptakan gengsi tersendiri bagi yang kebagian tiketnya.

Ini lho event yang diributkan kemarin, gue berhasil menjadi salah satu penontonnya. Yang pada protes kemarin cukup lihat kemacetan dari jauh, atau ngintip postingan dari penonton yang melihat langsung. Demikian sebagian isi kepala penonton yang sudah termakan gengsi sosial. Anies sedang membagi kelas di masyarakat. Yang berduit dimanja tontonan bergengsi, yang tak berduit cukup jualan Aqua teh botol atau jaga parkir diluar arena balap. Semua senang semua gembira dalam rangka menjadi saksi cagar budaya yang sedang diperkosa diinjak injak kepentingan komersil.

Kemudian seusai acara modus keberpihakan semakin semena-mena mendapat legitimasi. Usai Monas giliran Taman Ismail Marzuki yang dipermak habis terkomersilkan mengatas namakan revitalisasi. Berpihak kepada siapa, yang pasti bukan pada para pendahulu beserta pencinta cagar budaya. Sebuah warisan ide kerakyatan yang sudah bergeser pada rakyat tertentu pelaku pengeruk keuntungan.

Baca Juga:

Banyak jalan untuk membangun kota besar, salah satunya dengan berkawan erat dengan para pemodal. Melayani kebutuhan mereka yang tak pernah ada batasnya. Sementara rakyat sebagai penghuninya tanpa sadar dipaksa membeli apapun isi pajangan etalase menggiurkan bernama kota Megapolitan.

Jalan lain adalah bernegosiasi dengan cukong kapitalis untuk sedikit peduli pada rakyat. Keuntungan bisnis mereka dipotong untuk membangun fasilitas umum, suatu kebutuhan masyarakat yang tidak harus mereka bayar saat menikmatinya.

Anies memilih jalan yang pertama sedangkan Ahok sepakat di jalan kedua.

Jakartalah barometer baik buruknya penataan sebuah kota seukuran Megapolitan. Segudang permasalahan Gubernurnya selalu asik untuk dianalisa. Celakanya si Gabener keasikan menikmati popularitas dari hal hal negatif. Entah itu bagian dari strategi jangka panjang, serupa antitesis mantan Gubernur Ahok.

Sebelumnya banjir pujian, hanya butuh satu momen SARA yang sukses menghapus segudang prestasi. Kini Gabener sedang banjir caci maki, suatu saat datang satu momen dramatis, cukup mengguyur aneka keburukan disematkannya.

Gabener yang sengaja berbuat salah agar dinistakan. Beradu cepat dengan waktu, hingga lap terakhir di putaran ke 2024 mendadak menyalip di tikungan menjadi juaranya. Siapa bilang itu mustahil. Karenanya kita tak boleh putus untuk waspada. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Penulis: Abu Nawas

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: