NewsTicker

Tulisan Menohok Dina Sulaeman: Kasihan Anak-anak ISIS?

Nyanyian Anak Suriah

Jakarta – Pemerintah tak perlu tergesa-gesa menerima kembali warga negara Indonesia di Timur Tengah, termasuk anak-anak mereka, yang menjadi simpatisan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Pemerintah mesti selektif dalam memutuskan siapa saja yang boleh kembali, sembari menyiapkan program deradikalisasi khusus.

Setidaknya dapat digunakan dua filter. Pertama, pengadilan internasional. Sebagai kelompok teror, ISIS terlibat berbagai serangan teror dan perang. Sebagai non-state actors dalam hukum internasional, rezim hukum internasional berlaku bagi ISIS. Mereka yang terbukti melanggar hukum dan terlibat dalam kejahatan hak asasi manusia jangan diizinkan kembali.

Baca Juga:

Adapun yang non-kombatan, seperti anak-anak dan perempuan, biarlah sementara ditangani dulu oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sembari pemerintah menyiapkan mekanisme filter Kedua untuk memilah mana anggota keluarga yang ikut aktif menjadi kombatan dan mana yang tidak. Perlu dipertimbangkan bahwa keberangkatan mereka ke Suriah tidak semuanya bermotif perang dan rencana mendirikan khilafah. Ada juga yang pergi karena iming-iming ekonomi.

Namun alangkah baiknya kita cermati komentar pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman mengenai hal ini, bahwa kita harus melihat terbalik kalau kita merasa kasihan dengan anak-anak kombatan ISIS kenapa kita tidak pernah kasihan juga kepada anak-anak Suriah yang menjadi korban kebengisan ISIS.

Baca Juga:

Menurut Dina, perdebatan soal pemulangan ISIS (meski pemerintah sudah memutuskan, tidak ada pemulangan) masih terus bergulir. Ada yang mempertanyakan kepada saya, bagaimana dengan anak-anak mereka? Kan kasian, kan mereka itu korban?

Ini pertanyaan yang sangat tidak mudah dijawab (pemerintah yang didukung staf ahli bejibun dengan gaji tinggi aja bingung kok).

Tapi mungkin yang bisa saya sampaikan: mulai sekarang pemerintah perlu menyusun metode/program deradikalisasi yang jelas dan matang. Targetnya bukan cuma anak-anak ISIS (kalau anak-anak ini dipulangkan), tapi semua anak di Indonesia ini. Karena, survei PPIM UIN Jakarta (2017) menemukan bahwa lebih dari 50% pelajar dan mahasiswa Indonesia punya opini radikal.

Baca Juga:

Paradigma yang dipakai dalam program deradikalisasi ini apa, metodenya seperti apa, jaminan keberhasilannya seperti apa, pelaksananya siapa, dll. semua diungkapkan ke publik dengan transparan. Sejauh ini, saya pernah melakukan sedikit riset, saya temukan bahwa semua itu masih simpang siur, ga jelas.

Kalau intoleransi masih dibiarkan seperti sekarang, para pengungsi internal masih diabaikan (misal, kaum Ahmadiyah dan Syiah sudah bertahun-tahun hidup di pengungsian, terusir dari kampung halaman karena aksi intoleransi massa, karena dilabeli “kafir”), bagaimana rakyat bisa percaya bahwa pemerintah sanggup mengurus anak-anak yang sejak kecil sudah melihat langsung bagaimana orang-orang yang dianggap “kafir” dipenggal lehernya di jalanan? Ngerinya, parameter “kafir” kaum radikalis ini benar-benar semau mereka; pokoknya kalau “bukan kami”, maka kafir.

Masyarakat perlu jaminan rasa aman (freedom from fear).

Nah, Anda-Anda yang “kasihan” pada anak-anak ISIS itu, apakah pernah kasihan pada anak-anak Suriah?

Di vlog ini saya jelaskan bagaimana kronologi konflik ini, kok sampai ada anak-anak teroris yang jadi pengungsi; dan dampaknya pada anak-anak Suriah, lalu ada klip nyanyian anak-anak Suriah (produksi UNICEF). (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: