NewsTicker

Langkah Jokowi SMACKDOWN Corona, bukan LOCKDOWN

Langkah Jokowi SMACKDOWN Corona, bukan LOCKDOWN Langkah Jokowi SMACKDOWN Corona, bukan LOCKDOWN

Jakarta – Ego sebagai manusia mendadak terusik terkait pendemi Corona yang menyebar hampir di dua pertiga negara di dunia. Covid-19 termasuk kategori virus canggih yang mudah tersebar pada benda/manusia yang sengaja atau tidak sengaja kita sentuh. Cara menekan penyebaran yang terpenting adalah meminimalisir interaksi sosial sesama manusia agar tidak bersentuhan. Manusia sebagai mahluk sosial dipaksa menjauh dari sesamanya demi keselamatan hidupnya, itu bukan persoalan sesederhana suami istri pisah ranjang.

Beberapa negara menyadari dahsyatnya penyebaran virus dengan melakukan Lockdown (isolasi area) demi memutus penyebaran ke daerah lain. Melarang penghuninya keluar dan orang lain masuk dalam area punya konsekuensi sosial ekonomi yang rumit. Pemerintah mesti menanggung urusan perut semua manusia yang dibatasi ruang geraknya. Bagaimana dengan Indonesia?

Baca Juga:

Penyebaran virus di Indonesia sudah merata di 22 propinsi. Siapkah pemerintah memberi makan jutaan orang di 22 wilayah itu? Sebagai catatan, cadangan devisa kita hanya sebesar 17% dari APBN. Silahkan hitung sendiri jika itu harus dialokasikan untuk mengatasi Lockdown,  yang menurut hitungan penulis meyakini tidak cukup.

Beda Indonesia berbeda pula dengan Singapore, Malaysia, Italia atau Wuhan yang memutuskan Lockdown. Jumlah mulut yang harus dikasih makan tidak sebanyak di Indonesia. Belum lagi di Republik ini terkait ego privasi dibatasi aktifitas hidupnya. Dilarang ke Masjid, kumpul Tabligh Akbar, dilarang mudik hingga nongkrong di cafe. Menjadi masalah baru saat mereka berbondong-bondong protes menuduh pemerintah kafir.

Pertanyaan muncul: Apa langkah pemerintah menyikapi dilema wabah Covid-19 ini?

Yang sudah dilakukan pemerintah hingga detik ini antara lain menyiapkan fasilitas kesehatan secara maksimal. Dari impor peralatan sampai pembelian 5 juta obat. Dari menyiapkan Pulau Galang sebagai area isolasi hingga menyulap Wisma Atlet menjadi Covid-19 Center. Dari himbauan menahan diri rumah hingga memperbanyak konsumsi vitamin penambah stamina. Pemerintah tidak menyiapkan pasukan khusus penjaga perbatasan daerah tertentu atau melarang pegawai yang diliburkan pulang kampung. Pemerintah hanya menghimbau kesadaran kita untuk mengurangi aktifitas bertemu orang lain. Pemerintahan Jokowi sedang melakukan SLOWDOWN (memperlambat), bukan LOCKDOWN.

Baca Juga:

Memperlambat aktifitas menjadi upaya paling bijak mencegah kecepatan virus menyebar. Berbeda dengan skema Lockdown yang punya daya rusak yang dahsyat pada sisi ekonomi, meskipun itu skema yang terbukti jitu mengatasi Wuhan sebagai akar pendeminya. 270 juta penduduk Indonesia yang tersebar di ribuan pulau bukan perkara mudah mengisolasinya.

Kita tidak pernah tahu, virus itu sekarang sedang berada dimana. Bisa saja ada di sekeliling kita, atau hinggap di makanan yang kita konsumsi. Atau di pakaian, uang, pakaian yang kita kenakan. Hingga menurut prediksi para ahli dengan kebijakan Slowdown pada akhirnya 60% dari jumlah penduduk Indonesia harus rela terpapar virus. Tidak semua yang terpapar virus lantas sakit, tergantung daya imunitas masing-masing. 270 juta kali 60% sama dengan 162 juta. Jumlah tersebut jangan dibayangkan mati mendadak, kejang-kejang seperti dalam share video penyebar ketakutan. Mereka yang hanya terpapar dan punya daya imun masih bisa beraktifitas normal hingga batas waktu inkubasi virus 14 hari.

Dari 162 juta diprediksi “hanya” 10% yang kemudian harus dirawat. 90% lainnya mengkarantina diri di rumah. Dan endingnya dari 10% yang diobati, 3% nya diprediksi meninggal karena berbagai faktor, salah satunya usia dan penyakit bawaan. Maka akan didapat korban meninggal sejumlah 48.600.

Baca Juga:

Sebegitu banyaklah korban jiwa di negeri ini? Hitungan matematika akan berubah saat ada faktor intervensi muncul.

Jika kita mengikuti himbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah menunggu masa inkubasi virus 14 hari akan mati dengan sendirinya. Jika kita mau memperkuat daya tahan tubuh dengan extra asupan vitamin selama di rumah secara mandiri. Dan jika 48.600 orang “calon” korban meninggal itu tertangani dengan pengobatan extra dari pemerintah, maka tidak mustahil Indonesia berhasil melewati masa krisis wabah secara cepat dengan “hanya” menyisakan korban meninggal tak lebih dari 500 orang.

Korban jiwa mustahil dihindarkan, kita hanya bisa menekan. Namun Perekonomian pasca wabah tetap terjaga lalu kita bangkit lagi dengan pola hidup yang lebih baik. Dan wabah dunia ini menjadi pelajaran paling berharga dari sejarah hidup manusia. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: