NewsTicker

Profesor John Hopkins: Mungkin Ada 50.000 hingga 500.000 Kasus Virus Corona di AS

Coronavirus

Amerika Serikat – Seorang profesor medis di Universitas Johns Hopkins mendesak warga Amerika untuk tidak mempercayai angka rendah yang diberikan oleh pemerintah mengenai kasus-kasus infeksi virus corona yang dikonfirmasi di Amerika Serikat, memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya orang yang terjangkit virus itu mungkin “antara 50.000 hingga 500.000”.

Marty Makary mengatakan kepada Yahoo Finance “On the Move” bahwa ia yakin jumlah kasus virus corona jauh lebih tinggi daripada kasus dan kematian terkonfirmasi yang dilaporkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Baca Juga:

“Saya pikir kita memiliki antara 50.000 hingga setengah juta kasus sekarang, yang berjalan-jalan di Amerika Serikat,” tambahnya.

Profesor itu mencatat bahwa rumah sakit Amerika akan kewalahan oleh masuknya banyak orang, mengatakan sebagian besar unit perawatan intensif sudah beroperasi dalam kapasitas penuh.

“Kita hanya memiliki 100.000 tempat tidur ICU di Amerika Serikat. Kita bisa melihat 200.000 hingga 2 juta pasien baru yang membutuhkan perawatan kritis, ”katanya.

Bertentangan dengan klaim professor itu, sebelumnya badan kesehatan negara bagian dan lokal, pemerintah dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengumumkan bahwa ada kurang dari 3.000 kasus virus corona di Amerika Serikat. Mereka telah menyatakan bahwa 60 pasien telah meninggal karena penyakit mematikan, sejauh ini.

Baca Juga:

Mengutip CDC, The New York Times telah melaporkan bahwa sebanyak 1,7 juta orang di seluruh AS terancam meninggal akibat virus corona.

Sebuah artikel di surat kabar itu pada hari Jumat menyebut bahwa antara 160 juta hingga 214 juta orang di AS dapat terinfeksi dari epidemi ini dan sebanyak 200.000 hingga 1,7 juta orang terancam meninggal dalam skenario terburuk.

Menurut laporan oleh The Washington Post banyak orang Amerika yang sakit dan ingin melakukan tes virus corona terus ditolak, menciptakan masalah yang menjengkelkan bagi pasien dan pejabat kesehatan ketika virus makin menyebar. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: