NewsTicker

Rusia: Turki Membiarkan Pos-pos Militernya di Idlib Jadi Benteng Teroris

Rusia: Turki Membiarkan Pos-pos Militernya di Idlib Jadi Benteng Teroris Perang Suriah

Rusia  Moskow menyatakan Ankara gagal memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan untuk menegakkan zona demiliterisasi di Idlib, dan mengecam militer Turki yang membiarkan pos-pos pengamatannya bergabung dengan benteng teroris di provinsi barat laut Suriah.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Rabu, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov mengecam Turki karena mengumpulkan pasukan di Idlib, sementara negara-negara Barat menutup mata terhadap pembangunan militer yang melanggar hukum.

Baca Juga:

“Tidak seorang pun di Barat memperhatikan tindakan Turki, yang melanggar hukum internasional, mengerahkan kekuatan divisi mekanis ke Idlib,” katanya.

Benteng-benteng teroris telah bergabung dengan pos-pos Turki di Idlib, kata pejabat itu, seraya menambahkan bahwa “serangan dan tembakan artileri massal ke permukiman-permukiman tetangga dan pangkalan udara Rusia di Khmeimim berubah dari sporadis menjadi harian”.

“Di tengah sinisme total dan kekhawatiran palsu Barat atas situasi kemanusiaan di zona de-eskalasi Idlib, hanya pusat rekonsiliasi Rusia dan pemerintah Suriah yang sah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang dibebaskan, yang diperlukan untuk penduduk setempat setiap harinya,” tegasnya.

“Semua permintaan resmi Rusia kepada PBB dan negara-negara Barat – untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan melintasi perbatasan Turki dan semuanya tidak untuk para pengungsi, tetapi untuk para teroris – tetap tidak terjawab. Yang kami dengar hanyalah ratapan tentang perlunya “melestarikan perjanjian Sochi dengan segala cara,” tambahnya.

Baca Juga:

Pada bulan September 2018, Turki dan Rusia menandatangani perjanjian di Sochi, di mana Ankara diminta untuk mendirikan pos-pos pengamatan di Idlib yang dikontrol militan dan memisahkan teroris ekstrimis dari oposisi bersenjata lainnya yang bersedia terlibat dalam pembicaraan perdamaian dengan pemerintah Suriah.

Turki juga diwajibkan untuk mengambil langkah-langkah efektif untuk memastikan gencatan senjata yang abadi di wilayah tersebut.

Namun, saat ini, teroris yang didukung asing berkuasa di Idlib dalam jarak yang cukup dekat dengan pasukan Turki. Mereka juga terus menargetkan pasukan Suriah dan personil sekutu Rusia.

Suriah meluncurkan serangan kontra-terorisme di Idlib dan daerah-daerah tetangga sejak Desember lalu, tetapi kampanye tersebut bertepatan dengan penyebaran pasukan dan peralatan militer besar-besaran oleh Turki, yang jelas-jelas kecewa dengan perubahan kondisi di lapangan.

Pekan lalu, pemerintah Turki mengizinkan pengungsi masuk ke Eropa, setelah menuduh Eropa tidak berbuat cukup untuk membantunya dalam menangani para pengungsi dan juga karena Eropa gagal menghentikan operasi militer Suriah dan Rusia di Idlib. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: