NewsTicker

“Virus China” Istilah Rasis Trump untuk Tutupi Kegagalan AS Tanggapi Covid-19

Amerika Serikat – Presiden AS Donald Trump dan sekutu-sekutunya dari Partai Republik menggunakan rasisme untuk mencoba mengalihkan perhatian dari kegagalan AS terhadap persiapan dan tanggapan terhadap bencana pandemi virus corona. Alih-alih mengambil tanggung jawab dan mengatasi kegagalan awal, mereka menyalahkan krisis ini terhadap China.

Dalam hitungan minggu, Trump langsung berubah dari yang sebelumnya memuji China atas tanggapan negara itu terhadap COVID-19, menjadi bersikeras menyebut virus itu sebagai “virus China.” Virus ini berasal dari Wuhan, China, tetapi telah menyebar ke setidaknya 160 negara dan wilayah.

 

Trump pada akhir Januari mencuitkan: “China telah bekerja sangat keras untuk mengendalikan Virus Corona. Amerika Serikat sangat menghargai upaya dan transparansi mereka. Semuanya akan berjalan dengan baik. Khususnya, atas nama Rakyat Amerika, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Xi!”

Baca Juga:

Tapi saat konferensi pers Gedung Putih pada hari Kamis (19/03) kemarin, presiden AS itu menyanyikan lagu berbeda.

“Kami melanjutkan upaya tanpa henti kami untuk mengalahkan virus China,” kata Trump pada awal briefing. Trump bersikeras bahwa China yang harus disalahkan atas pandemi ini.

“Itu bisa saja hanya terjadi pada satu daerah di China di mana ini dimulai, dan tentu saja dunia membayar harga yang sangat besar untuk apa yang mereka lakukan,” kata Trump menyalahkan China.

Foto-foto pernyataan Trump untuk konferensi pers hari Kamis menunjukkan ia mencoret “virus korona” dan menggantinya dengan “virus China.”

Baca Juga:

Bahkan, orang Spanyol kesal dengan hal ini dan beberapa sejarawan mengatakan pandemi tersebut mungkin berasal dari pangkalan militer di AS.

Di masa sekarang, Partai Republik tidak menyebutnya sebagai “virus China” hanya untuk menyoroti asal-usul geografis dari coronavirus, mereka melakukannya untuk menyalahkan kelompok tertentu, dan Trump telah menjelaskan hal ini melalui retorikanya.

Menurut Business Insider, tuduhan menyalahkan ini memiliki konsekuensi negatif di AS, karena orang-orang Asia dan Asia-Amerika melaporkan bahwa mereka menghadapi diskriminasi dan serangan verbal di depan umum karena pandemi ini.

Awal pekan ini, seorang reporter Asia-Amerika mengatakan bahwa seorang pejabat Gedung Putih menyebut coronavirus sebagai “Kung-Flu” di hadapannya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah mendesak masyarakat Amerika agar tidak menstigmatisasi orang-orang China ditengah perang melawan pandemi ini.

Robert Redfield, direktur CDC, awal bulan ini mengatakan bahwa “benar-benar salah dan tidak pantas” untuk menyebut COVID-19 sebagai “virus China”.

Selain itu, situs web CDC menyatakan: “Orang-orang di AS mungkin khawatir atau cemas tentang teman dan kerabat yang tinggal di atau mengunjungi daerah-daerah di mana COVID-19 menyebar. Beberapa orang khawatir tentang penyakit ini. Ketakutan dan kecemasan dapat menyebabkan sosial stigma, misalnya, terhadap orang China atau Asia Amerika lainnya atau orang-orang yang berada di karantina … Stigma ini menyakiti semua orang dengan menciptakan lebih banyak ketakutan atau kemarahan terhadap orangnya, alih-alih penyakitnya yang menyebabkan masalah”.

Baca Juga:

Sebelumnya Pejabat China juga mengecam Trump karena menyebut virus corona sebagai “virus China”.

“AS pertama-tama harus mengurus masalahnya sendiri,” kata Geng Shuang, juru bicara kementerian luar negeri China, NBC News melaporkan.

Fokus untuk menyalahkan China dalam hal ini, dilakukan ditengah upaya Trump untuk membenarkan tanggapan lambatnya terhadap penyebaran virus corona di AS, dimana ia sebelumnya meremehkan dampak yang bisa terjadi.

Dalam tweet yang terang-terangan palsu pada hari Rabu, presiden AS itu mengatakan: “Saya selalu memperlakukan Virus China dengan sangat serius, dan telah melakukan pekerjaan yang sangat baik sejak awal.”

AS saat ini menghadapi kekurangan alat pengujian, CDC mengirimkan alat yang salah pada Februari, dan ada tanda-tanda yang berkembang bahwa rumah sakit AS tidak memiliki peralatan medis atau pasokan yang cukup untuk menangani skala wabah ini. (ARN)

Sumber: www.businessinsider.com

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: