Nasional

Wahyu Sutono: Musni Umar Rektor Ngaco dan Catut Nama ITB

Wahyu Sutono: Musni Umar Rektor Ngaco dan Catut Nama ITB

Jakarta – Tulisan satire pegiat medsos Wahyu Sutono di akun fanpage Facebooknya yang ditujukan kepada Rektor Ibnu Chaldun Musni Umar “Rektor Paling Jenius di Indonesia”.

Musni Umar membuat Narasi-narasi sesat dan sangat kelihatan sekali kalau dia memang ingin memainkan opini ke publik tentang kegagalan pemerintah saat ini. Apalagi melihat cuitan dia mencatut nama besar ITB padahal ITB yang dimaksud adalah ITB-AD Institut Tekhnologi dan Bisnis Ahmad Dahlan, hal-hal seperti ini yang bisa membuat masyarakat tertipu.

Musni Umar yang beberapa kali kena semprot netizen, apalagi oleh penulis yang sumpah sungguh swear mules setiap baca cuitannya yang ngawur bin ngaco, kini tidak terima dirinya disebut sebagai rektor bodoh.

Baiklah kalau begitu mulai hari ini dia akan kita sebut saja sebagai rektor paling jenius, walau masalah sepelepun Rektor Universitas Ibnu Chaldun ini tidak bisa membedakannya.

Baca Juga:

Kali ini dia tidak tahu bedanya antara ITB atau Institut Teknologi Bandung, dengan ITB-AD atau Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan yang kampusnya berada di Tangerang Selatan, yang lokasinya tak jauh dari rumah penulis. Sebelumnya dia juga tak bisa membedakan antara hoax yang biasa dia sebar, dengan apa yang dinamakan kritik.

“Memang untuk menjadi bodoh jauh lebih mudah, karena cukup modal berani. Beda kalau ingin cerdas, harus disertai dengan berfikir”.

Bukan begitu wahai murid baru? Lagian ‘Basi’ isu ‘Utang’ dijadikan senjata untuk menyerang pemerintah yang sah, apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini dimana semangat persatuan perlu dibangun untuk melawan musuh bersama yang bernama Covid-19. Catat ya para rektor yang hobby nyinyir. Indonesia sudah utang sejak era Bung Karno, bahkan sejak era Hindia Belanda sekalipun.

Jadi belum ada satu era kepemimpinan di tanah air ini yang tidak berutang, bahkan di era eyang Habibie yang hanya setahun saja tetap utang. Utang terbesar pun bukan di era Jokowi. Tapi kalian diam kan? Sedangkan di era Jokowi yang digunakan untuk membangun negeri secara merata mengapa kalian jadi rewel? Apa Jokowi minta kalian untuk membayarnya?

Begini ya Tor (para rektor), mengapa kalian tak berhenti mempermalukan diri sendiri, keluarga, lembaga, dan mahasiswa kalian? Perlu menjadi catatan bahwa untuk bicara masalah politik itu tidak cukup hanya bermodalkan berani dan asal mangap penuh kedengkian saja, tapi harus didukung pula dengan pemahaman politik yang benar, beserta keilmuan lain yang menyertainya, seperti hukum, ekonomi, khususnya ekonomi makro, lebih khususnya terkait kebijakan fiskal, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Kalian berdua perlu penulis ajari sedikit tentang utang.

Pertama, utang itu bersifat legal dan diatur dalam undang-undang tersendiri, yakni Undang-undang Keuangan Negara nomor 17 tahun 2003, yang menurut Pasal 12 ayat 3 besarannya maksimal 60% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun idealnya batas psikologisnya adalah maksimal 30%, dan hingga saat ini utang Indonesia berada di kisaran 29%, sehingga rasio utang tersebut masih cenderung terkontrol dibandingkan dengan negara-negara lainnya

Kedua, utang negara itu tidak diputuskan secara sepihak oleh eksekutif, baik Presiden maupun Menteri Keuangan. Namun melalui satu pembahasan khusus bersama DPR RI, yang itu artinya kebijakan utang menjadi keputusan bersama antara eksekutif dan legeslatif yang isinya mewakili semua partai, termasuk partai oposisi yang mewakili kalian.

Ketiga, Mayoritas negara yang ada di dunia ini umumnya juga utang, dan hanya menyisakan 5 negara kecil saja yang tidak utang (Macau, Kepulauan Virgin Britania Raya, Palau, Liechtenstein, dan Brunei Darussalam) karena ke-lima negara tersebut memang belum memerlukannya, selain negaranya makmur.

Baca Juga:

Jadi, jangankan negara berkembang seperti Indonesia, negara maju seperti halnya Jepang, dan negara adidaya seperti Amerika saja utang dengan nilai yang sangat fantastis, yakni di atas 200% dari nilai PDB-nya, namun tak satu negara pun yang rakyatnya rewel menggoreng isu utang untuk menyerang pemerintahnya.

Untuk sementara, itu saja dulu. Nanti bila ada pertanyaan, silahkan layangkan lewat cuitan kalian, dan jangan sungkan-sungkan tujukan langsung kepada penulis. Percayalah tidak akan penulis rundung, karena sebagai seorang guru penulis harus bisa memberikan contoh yang baik kepada muridnya, terlebih kalian sudah pada berumur kan..

Ah untung Iwan Fals membuat lagunya untuk Umar Bakri, tak tertukar dengan Musni Umar. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Comments
Arrahmahnews AKTUAL, TAJAM DAN TERPERCAYA

Facebook

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 2.764 pelanggan lain

Pengunjung

  • 51.949.094 hit

Copyright © 2020 Arrahmahnews.com All Right Reserved.

To Top
%d blogger menyukai ini: