Headline News

Sanksi Keras AS Jadikan Iran Tak Terpengaruh Anjloknya Harga Minyak Dunia

Sanksi Keras AS Jadikan Iran Tak Terpengaruh Anjloknya Harga Minyak Dunia

Iran Wakil Presiden Pertama Iran, Es’haq Jahangiri, mengatakan bahwa sanksi keras Amerika yang menargetkan sektor ekonomi dan energi Iran telah membantu Republik Islam itu beradaptasi dengan anjloknya harga minyak yang untuk pertama kalinya dalam sejarah telah membuat minyak mentah AS jatuh di bawah nol.

“Krisis dan sanksi [yang dijatuhkan oleh] Amerika Serikat telah memungkinkan kita untuk mengembangkan kesiapan yang diperlukan untuk menjalankan urusan negara dalam situasi saat ini,” kata Jahangiri dalam pertemuan dengan para manajer senior Kementerian Jalan dan Pengembangan Kota Iran pada Hari Selasa (21/04).

Baca Juga:

“Teheran telah menyusun rencana khusus dan berhasil menyesuaikan anggarannya dengan nol pendapatan minyak,” Jahangiri menambahkan.

Minyak berjangka AS terus diperdagangkan di wilayah negatif pada hari Selasa, setelah ditutup turun hampir 40 dolar pada Hari Senin, penurunan pertama di bawah nol dikarenakan kekhawatiran tumbuh bahwa Amerika Serikat akan kehabisan tempat penyimpanan untuk kelebihan yang disebabkan oleh lockdown akibat virus corona baru.

Benchmark global, minyak mentah Brent juga turun tajam sebagai tanggapan terhadap jatuhnya permintaan menyusul berkurangnya aktivitas ekonomi.

Keruntuhan itu terjadi setelah produsen minyak kehabisan ruang untuk menyimpan kelebihan pasokan minyak mentah yang diakibatkan oleh pandemi virus corona yang telah menghantam hampir semua negara di dunia.

Jahangiri lebih lanjut mengatakan bahwa ekonomi AS, yang memiliki 25 persen dari produk dunia bruto (GWP), telah menjual berjangka minyak mentahnya di wilayah negatif sejak semalam dan “ini menunjukkan bahwa negara-negara lain dunia pasti akan terpengaruh oleh konsekuensi ekonomi dari pandemi virus corona.

Baca Jug:

Ia menambahkan bahwa negara-negara penghasil minyak, seperti Arab Saudi, pasti akan menghadapi masalah serius dengan minyak mentah yang diperdagangkan di bawah 70 dolar per barel.

Wakil presiden Iran itu mencatat bahwa bahkan kesepakatan yang diumumkan pekan lalu antara OPEC dan produsen independen untuk memangkas produksi sekitar 10 juta barel perhari yang akan di mulai pada bulan Mei gagal mencegah penurunan harga minyak.

Ia memperingatkan bahwa bisnis lain yang bergantung pada minyak, seperti industri petrokimia dan logam, akan menderita konsekuensi ekonomi dari pandemi virus corona, meminta universitas Iran dan pusat-pusat ilmiah untuk menghadirkan solusi ilmiah dalam hal ini.

Jahangiri juga mendesak badan-badan administratif untuk mengembangkan rencana yang tepat guna menghadapi keadaan saat ini.

Iran telah berada di bawah sanksi “terberat” AS sejak Mei 2018, ketika Washington membatalkan perjanjian nuklir dengan Republik Islam itu dan lima negara lainnya.

Setelah berhenti dari kesepakatan, AS di bawah Presiden Donald Trump mengeluarkan kampanye “tekanan maksimum” yang terutamanya ditujukan untuk melumpuhkan sektor perbankan Iran dan mendorong “nol” ekspor minyaknya, sumber pendapatan utama negara itu.

Menghadapi rintangan yang telah diciptakan AS dalam hal penjualan minyaknya, Teheran telah meningkatkan upaya untuk melepaskan ketergantungan negara dari pendapatan minyak dan mendiversifikasi ekonominya. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: