NewsTicker

Iran, Rusia, Turki Kembali Tekankan Proses Astana Solusi Terbaik Krisis Suriah

Suriah – Para menteri luar negeri dari Iran, Turki dan Rusia menekankan perlunya untuk melanjutkan konsultasi dan koordinasi di antara tiga penjamin proses Astana sebagai format paling efektif untuk penyelesaian krisis di Suriah.

Pertemuan tiga pihak antara Mohammad Javad Zarif dari Iran, Sergei Lavrov dari Rusia dan Mevlut Cavusoglu dari Turki itu diadakan melalui teleconference pada hari Rabu (22/04) untuk membahas perkembangan terakhir di Suriah dan kawasan.

Tiga diplomat penting itu berunding tentang berbagai masalah, termasuk situasi di provinsi Idlib yang dikuasai militan di barat laut Suriah, Komite Konstitusi Suriah, perlunya pencabutan sanksi sepihak di tengah pandemic virus corona, situasi kemanusiaan di Suriah, dan pemulangan pengungsi ke negara Arab itu.

Baca: Bashar Assad: Pelanggaran Turki atas Perjanjian Astana dan Sochi Ungkap Niat Asli Ankara

Mereka menekankan bahwa kemerdekaan, kedaulatan nasional, dan integritas wilayah Suriah harus dijaga sementara menekankan pada kebutuhan untuk membedakan teroris dari kelompok-kelompok oposisi karena pertempuran melawan militan akan terus berlanjut di seluruh negara itu.

Dalam pertemuan itu, diplomat tertinggi Iran, yang awal pekan ini melakukan kunjungan ke Suriah di mana ia mengadakan pembicaraan dengan Presiden Bashar al-Assad dan rekannya Walid al-Muallem, menyentuh perkembangan terakhir di Idlib dan menegaskan kembali perlunya melindungi kedaulatan negara yang dilanda perang itu, sambil mempertahankan pertempuran anti-teror.

Menteri luar negeri Iran, Rusia dan Turki juga menekankan perlunya melanjutkan konsultasi trilateral di semua tingkatan dan mengadakan KTT keenam Proses Astana di Iran setelah normalisasi situasi yang diciptakan oleh wabah virus corona.

Baca: Putin-Rouhani Minta Turki Tepati Kesepakatan Astana

Turki, bersama dengan Rusia dan Iran, memasuki dua kerangka kerja negosiasi yang berfokus pada Suriah yang menghasilkan dua perjanjian.

Kesepakatan pertama ditandatangani di ibu kota Kazakhstan, Nur Sultan, yang sebelumnya bernama Astana, mengatur penciptaan zona de-eskalasi di seluruh Suriah, termasuk di bagian Idlib. Yang kedua yang muncul di kota peristirahatan Sochi di Rusia memungkinkan Ankara untuk membawa sejumlah kecil pasukan ke pos-pos pengamatan untuk memastikan de-eskalasi.

Baca: SOHR: Turki Kembali Kirim Pasukan ke Idlib Suriah

Ankara, bagaimanapun, tak mematuhi komitmen dari kedua kesepakatan dengan gagal memisahkan antara teroris dari apa yang disebutnya kelompok oposisi “moderat” di zona Idlib dan dengan mengirim ribuan tentara dan perangkat keras militer ke provinsi dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendukung para militan. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: