Arab Saudi

MbS Coba Kembalikan Citra Media Saudi dengan Launching Stasiun TV Baru

Arab Saudi – Pangeran Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman berusaha untuk menghidupkan kembali citra media negara itu dengan meluncurkan saluran TV berita baru dalam waktu dekat, bernama Asharq. Saluran TV ini bekerja sama dengan jaringan TV AS, Bloomberg. MbS juga meluncurkan tampilan baru untuk saluran TV Al Arabiya pada Jumat malam (25/04).

Saluran TV Asharq dikelola oleh Saudi Research and Marketing Group, yang juga menerbitkan surat kabar Asharq Al-Awsat dan majalah Sayidaty, dan didukung oleh saudara laki-laki Mohammad Bin Salman, Ahmad. Saluran ini awalnya diputuskan untuk dinamai Bloomberg, lalu Bloomberg Al-Arab, dan kemudian Bloomberg Asharq, sebelum akhirnya diputuskan untuk melepaskan nama internasional dan menamainya saluran Asharq.

Dalam beberapa tahun terakhir, media Arab Saudi telah mengalami serangan yang parah, terutama setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, karena media Saudi tetap menyangkal adanya pembunuhan selama 18 hari. Begitu mereka mulai melaporkan soal pembunuhan, hal itu disambut dengan ejekan habis-habisan, karena beberapa dari media Saudi itu justru mengajukan hipotesis aneh, seperti menuduh bahwa Qatar bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan Khashoggi.

Baca: Kelompok HAM: Putra Mahkota Saudi Tak Lolos Tes Kepemilikan Klub Bola Inggris

Dalam beberapa tahun terakhir, media-media internasional juga lebih menyoroti agresi Saudi-Emirat terhadap Yaman dan pembantaian di dalamnya, serta perselisihan dalam keluarga kerajaan Arab Saudi, dan masalah-masalah ini sepertinya tidak akan mungkin diatasi oleh saluran baru.

Disaat media Internasional sibuk memberitakan pembunuhan Khasoggi, media Saudi benar-benar seperti buta, dan menolak untuk meliputnya sebelum kemudian pihak kerajaan mengakuinya dan peliputan dilakukan demi kepentingan penguasa.

Bagaimanapun juga jika dilihat dari nama-nama yang berada dibalik saluran TV baru itu, tidak ada perubahan besar dalam strategi media Saudi yang akan datang, melainkan pengulangan dari percobaan Al Arabiya dan upaya untuk mereproduksi pengalaman Sky News Arabia dengan menyembunyikan propaganda tertentu mengatasnamakan berita internasional.

Baca: Penyelidik PBB Percaya MbS Dalang Pembunuhan Khashoggi

Saluran ini dijalankan oleh profesional media Palestina Nabeel Al-Khatib, yang berasal dari Al Arabiya, sementara layar medianya dilaksanakan oleh profesional media Suriah, Zeina Yazji, yang berasal dari Sky News Arabia, dan Hadeel Alyan Palestina, yang berasal dari Al -Hadath, serta mungkin Suhair Al-Qaisi Irak, yang meninggalkan Al Arabiya tahun lalu setelah beberapa perselisihan.

Saluran TV Al Arabiya akan meluncurkan tampilan baru pada Jumat malam, yang telah ditunda selama lebih dari sebulan, termasuk studio utama dan logo saluran.

Baca: Para Ahli: Strategi Cacat bin Salman Seret Saudi ke Dalam Rawa Yaman

Al Arabiya diluncurkan pada tahun 2003, menjelang invasi ke Irak. Saluran ini dianggap sebagai salah satu saluran berita Saudi yang paling menonjol dalam mempromosikan agenda pemerintahannya. Ini telah terbukti dalam beberapa liputan berita, termasuk pengunduran diri misterius Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri pada tahun 2017 yang dilakukan hanya melalui saluran itu, sementara kemudian ternyata ia diculik dengan sekelompok pangeran Saudi.

Al Arabiya dibuat untuk menjadi pesaing utama jaringan Al Jazeera milik Qatar, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi bersaing dengan Sky News Arabia, dan perang “penculikan” antara para penyiar dan pekerja terjadi di antara mereka. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: