NewsTicker

Anggap Iran Lemah Ditengah Wabah Covid-19, Perang AS di Irak akan Jadi Kesalahan Besar

Anggap Iran Lemah Ditengah Wabah Covid-19, Perang AS di Irak akan Jadi Kesalahan Besar Anggap Iran Lemah Ditengah Wabah Covid-19, Perang AS di Irak akan Jadi Kesalahan Besar

Amerika Serikat – Rencana administrasi Trump saat ini untuk menghancurkan Unit Mobilisasi Populer Irak karena menganggap posisi Iran sedang lemah ditengah pandemi virus corona adalah salah besar dan hanya akan menimbulkan pertumpahan darah besar-besaran yang merugikan Amerika Serikat sendiri. Sebuah opini yang dimuat oleh Kantor Berita Russia Today pada Rabu (01/04) menguraikan hal ini.

Militer AS saat ini tengah mengerahkan lebih banyak pasukan secara strategis di Irak, termasuk pengerahan rudal darat-ke-udara yang tentu saja penjelasan logis dari hal ini adalah untuk memperkuat pertahanan mereka terhadap ancaman rudal balistik Iran. Pergerakan militer Amerika Serikat ini telah memperkuat kekhawatiran bahwa beberapa orang di pemerintahan Trump mungkin berusaha untuk mengeksploitasi kelemahan yang tengah dialami Iran disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Baca Juga:

Namun menurut Scott Ritter, mantan perwira intelijen Korps Marinir AS yang menuliskan opini ini, kenyataannya jauh berbeda: Iran sangat siap untuk membela diri menggunakan totalitas sumber daya pertahanannya. Setiap langkah AS melawan Iran akan menjadi kesalahan perhitungan dengan hasil yang menghancurkan.

Tingkat keparahan akibat wabah Covid-19 di Iran telah ditafsirkan oleh beberapa pembuat kebijakan di dalam pemerintahan Trump sebagai bukti bahwa kampanye berkelanjutan “tekanan maksimum,” berdasarkan penerapan sanksi ekonomi yang ketat, telah berhasil. Orang-orang yang sama ini, yang termasuk diantaranya Sekretaris Negara Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional Robert O’Brien menganggap situasi ini sebagai kesempatan baik untuk melancarkan serangan.

AS telah lama merasa sangat terganggu dengan pengaruh Iran yang semakin besar di Irak, khususnya pada peran yang dimainkan oleh pasukan dukungan Iran yang beroperasi di bawah payung Unit Mobilisasi Populer atau Hashd al-Shaabi.

AS sebelumnya telah menuduh salah satu cabang PMU, Kataib Hezbollah, melakukan serangkaian serangan rudal di pangkalan AS di Irak. Pemimpin garis keras dalam pemerintahan Trump, yang dipimpin oleh Pompeo dan O’Brien, kemudian mempertimbangkan operasi militer yang lebih besar yang dirancang untuk menghancurkan Kataib Hizbullah. Beberapa orang percaya bahwa, mengingat respons Iran yang tak terhindarkan, Pompeo dan O’Brien merencanakan operasi militer yang lebih besar yang akan mencakup serangan besar terhadap Iran yang dapat mengarah pada perubahan rezim di Iran.

Baca Juga:

Langkah-langkah militer baru-baru ini mengindikasikan bahwa AS sedang mempersiapkan semacam aksi besar di Irak. Selama beberapa minggu terakhir, AS telah mengkonsolidasikan pasukannya di Irak, menarik diri dari beberapa pangkalan yang lebih terisolasi dan memusatkan pasukan di dua kompleks pangkalan yang lebih besar, satu di dekat Al Qaim dan yang lainnya di Pangkalan Udara Ain Al Asad. AS telah mulai mengerahkan unit rudal Patriot ke Al Qaim dan Al Asad, seolah-olah untuk melindungi terhadap serangan rudal dari Kataib Hizbullah dan Iran.

Adanya kemungkinan pembalasan besar-besaran Kataib Hizbullah dan Iran terhadap serangan AS ke pasukan PMU di Irak telah membuat komandan AS di Irak, Letnan Jenderal Robert White, mengeluarkan peringatan keras kepada Pentagon bahwa serangan semacam itu akan “mengharuskan pengiriman ribuan pasukan Amerika” lagi ke Irak dan memusatkan seluruh pasukan hanya untuk satu misi ini saja.

Faktanya, peringatan tumpul Jenderal White ini diremehkan. Dalam ketergesa-gesaan mereka untuk mempromosikan perubahan rezim di Iran, garis keras administrasi Trump seperti Pompeo dan O’Brien telah melebih-lebihkan teori tentang kelemahan Iran karena pandemi virus corona yang sedang berlangsung, dan menganggap kecil potensi ancaman balik Iran terhadap pasukan AS di Irak.

Baca Juga:

Serangan rudal balasan Iran terhadap pangkalan udara Al Asad pada bulan Januari lalu telah membuka kenyataan bahwa kekuatan rudal balistik negara itu memiliki kemampuan serangan presisi. Rudal yang digunakan dalam serangan ini adalah varian yang lebih tua; Iran sekarang telah meluncurkan rudal baru dengan kemajuan teknologi yang mencakup hulu ledak bermanuver yang dirancang untuk menghindari pertahanan rudal AS. Kemampuan rudal balistik Iran adalah nyata, dan ancamannya untuk meluncurkan rudal-rudal itu dalam menanggapi setiap serangan AS bukanlah gertakan.

Konfrontasi antara AS dan PMU Irak yang membawa-bawa Iran akan berubah menjadi pertumpahan darah bagi semua yang terlibat. Untuk bagiannya, Iran telah menunjukkan kemampuannya untuk berjalan dan mengunyah permen karet pada saat yang sama, yang berarti bahwa mereka dapat secara bersamaan mengatasi wabah Covid-19 dan mempersiapkan perang yang lebih luas dengan AS di Irak. Hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk administrasi Trump.

Dalam kesimpulannya Ritter mengatakan, “Semoga kepala yang lebih waras akan menang, dan Gedung Putih akan mengindahkan nasihat peringatan Jenderal White. Alternatif lain hanya akan membawa bencana”. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: