Negara-negara Arab Diktator Relatif Berhasil Cegah Wabah, Tapi Gagal Urus Ekonomi

Negara-negara Arab Diktator Relatif Berhasil Cegah Wabah, Tapi Gagal Urus Ekonomi
Abdel Bari Atwan

Lebanon  Tidak ada perselisihan bahwa mayoritas negara-negara Arab diperintah oleh rezim diktator, hanya saja bervariasi dalam tingkatannya. Tetapi harus diakui, seperti yang diakui oleh beberapa pengamat Barat, bahwa kediktatoran ini terbukti efektif dalam menghadapi wabah coronavirus dan menahan penyebarannya. Mereka memberlakukan tindakan keras seperti keadaan darurat dan jam malam di samping menutup toko, bisnis dan tempat-tempat ibadah. Akibatnya, tingkat infeksi di sebagian besar negara di Timur Tengah yang otoriter lebih rendah daripada di wilayah ‘demokratis’ seperti Eropa.

Negara-negara seperti Yordania dan Arab Saudi menerjunkan tentara ke jalan-jalan untuk menangkap pelanggar jam malam, sementara yang lain seperti Aljazair dan Maroko telah menahan orang-orang yang dituduh menyebarkan desas-desus tentang virus yang menimbulkan khawatiran dan menyebabkan kepanikan di kalangan masyarakat.

Baca Juga:

Ironisnya, pandemi ini telah menyelamatkan beberapa pemerintah Arab dari protes massal, melarang mereka dengan alasan mereka melanggar peraturan darurat dan berisiko menyebarkan penularan di antara para demonstran. Ini terjadi di Lebanon (walaupun protes kecil-kecilan terhadap krisis ekonomi kembali terjadi beberapa hari yang lalu), Aljazair, Irak dan Yordania.

Di seluruh dunia, jumlah orang yang terinfeksi oleh virus ini telah mencapai sekitar tiga juta lebih, termasuk satu juta di Amerika Serikat, yang mengakibatkan 228.000 kematian, mayoritas di AS dan Eropa. Tetapi tingkat kematian di dunia Arab jauh lebih rendah. Mesir dengan populasi 100 juta telah mencatat kurang dari 400 kematian. Itu kontras dengan lebih dari 26.000 kematian di Inggris dan sekitar 24.000 di Spanyol dan Prancis. Demikian pula, Aljazair dan Maroko, dengan populasi sekitar 45 juta, telah melaporkan masing-masing 444 dan 168 kematian, sementara Arab Saudi melaporkan 175 kamatian. Jordan berada di urutan paling bawah dalam daftar, dengan hanya delapan kematian yang dikonfirmasi.

Baca Juga:

Angka-angka ini bisa jadi sangat rendah karena berbagai faktor, termasuk pengujian dan pelaporan yang tidak memadai. Sejumlah pemerintah Arab dituduh dengan sengaja menyembunyikan angka sebenarnya untuk menjaga populasi mereka tenang dan mencegah kepanikan. Beberapa, seperti Mesir, telah mendeportasi wartawan asing yang melaporkan kecurigaan semacam itu. Tetapi jika tingkat kematian sebenarnya jauh lebih tinggi, mereka tetap sederhana dibandingkan dengan di negara-negara Barat yang mendukung transparansi. Langkah tegas yang diberlakukan oleh sebagian besar pemerintah Arab tampaknya telah efektif dalam menahan wabah.

Ini sama sekali bukan dukungan kediktatoran atau rezim represif yang mempraktikkannya. Demokrasi terbuka juga mampu mengadopsi langkah-langkah ketat seperti penguncian, pelarangan pertemuan, penutupan bisnis dan restoran, dan menangguhkan acara olahraga.

Selain itu, keberhasilan relatif dunia Arab dalam menangani virus corona tidak berarti mengakhiri masalah pemerintah mereka. Dengan ekonomi macet, pariwisata dihentikan dan harga minyak dan pendapatan turun lebih dari setengah, masalah mereka yang sebenarnya baru saja dimulai. Ini adalah hal yang lebih menakutkan setelah pandemi berakhir. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

About Arrahmahnews 26671 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.