NewsTicker

Kekayaan 1,4 Triliun Dolar dan Pemborosan Kerajaan Saudi

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman

Arab Saudi – Selain mempertahankan gaya hidup mewah, monarki Saudi telah banyak mengeluarkan kekayaannya yang banyak untuk memicu perang Timur Tengah.

Keluarga kerajaan Arab Saudi yang berkuasa memiliki kekayaan bersih sekitar 1,4 triliun dolar, yang berarti 16 kali lebih banyak dari keluarga kerajaan Inggris.

Monarki yang berkuasa ini mendapatkan sebagian besar pendapatannya dari cadangan minyak besar yang didirikan 75 tahun lalu, mengubah kekayaan negara dan menjadikan House of Saud keluarga terkaya di dunia.

Baca Juga:

Menurut House of Saud, kekayaan 1,4 triliun dolar itu dimiliki oleh hampir 15.000 anggota keluarga kerajaan yang tinggal di istana mewah. Perusahaan minyak milik negara, Saudi Aramco, yang merupakan salah satu perusahaan paling bernilai dan menguntungkan di dunia, merupakan tulang punggung kekayaan keluarga kerajaan yang luas.

Keluarga ini terkenal karena mempertahankan gaya hidup yang membuat iri, yang telah mendapat kritik keras pada beberapa kesempatan karena boros dan penuh keangkuhan. Dengan naiknya Muhammad bin Salman MbS) ke posisi pangeran mahkota secara kontroversial, beberapa tahun terakhir telah menjaditahun sulit untuk keluarga.

MBS menangkap beberapa anggota keluarganya, termasuk sepupu-sepupu pertamanya, dalam apa yang tampaknya merupakan perebutan kekuasaan yang terjadi layaknya serita di buku fiksi dan serial TV Game of Thrones.

Tetapi budaya pengeluaran yang boros dan gegabah tumbuh subur di tengah-tengah politik ambisi dan balas dendam. Dari menghabiskan ratusan juta untuk kemewahan mewah seperti kapal pesiar super dan jet pribadi hingga memicu perang di Timur Tengah, inilah sekilas kehidupan keluarga yang berkuasa di Arab Saudi itu.

Kemewahan yang tak terkira

Dari super yacht bertatahkan emas, jet pribadi, dan istana hingga furnitur yang terbuat dari emas, keluarga kerajaan bahkan menggunakan kertas tisu yang diambil dari dispenser tisu berlapis emas.

Baca Juga:

Pada tahun 2017, Pangeran Mahkota yang berusia 34 tahun, Mohammed bin Salman, yang juga dikenal sebagai MBS, menghabiskan 450,3 juta dolar untuk lukisan Leonardo da Vinci yang berusia 500 tahun, ‘Salvator Mundi’, yang dibelinya melalui seorang proxy.

Penjualan lukisan, yang juga dikenal sebagai ‘Jesus Christ’ itu adalah rekor untuk pelelangan seni. Pangeran telah membayar lebih dari 300 juta dolar untuk Chateau Louis XIV, yang terletak di Prancis, yang disebut “rumah termahal di dunia” oleh majalah Fortune.

Chateau ini memiliki 10 kamar tidur, kolam renang indoor dan outdoor bersama dengan bioskop, gudang anggur, dan parit dengan ruang bawah air transparan.

“Saya orang kaya dan bukan orang miskin. Saya bukan Gandhi atau Mandela. Saya anggota keluarga yang berkuasa yang sudah ada selama ratusan tahun sebelum Arab Saudi didirikan,” sesumbar MBS kepada CBS ketikan berkomentar mengenai pengeluaran dan kehidupan pribadinya.

Putra mahkota itu dilaporkan berusaha membeli klub sepak bola Newcastle United, di Liga Premier, setelah gagal mengakuisisi Manchester United. Banyak organisasi hak asasi manusia telah menghubungi Liga Premier, bersikeras untuk memblokir penjualan klub Inggris mana pun kepada putra mahkota, mengingat catatan buruk hak asasi manusianya, termasuk pembunuhan pembangkang Saudi, Jamal Khashoggi.

Pembeli senjata terbesar dunia

Arab Saudi sejauh ini merupakan “pemboros militer terbesar” di Timur Tengah menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Kerajaan juga dikenal sebagai importir senjata terbesar di dunia, menghabiskan puluhan miliar dolar.

Baca Juga:

Penguasa Saudi menghabiskan total 67,6 miliar dolar pada 2018 di mana negara itu memimpin koalisi yang memicu perang di Yaman.

Menyulut perang di Yaman dan menggoyahkan Timur Tengah

Pada 2015, Arab Saudi, bersama-sama dengan UEA, meluncurkan kampanye militer di negara Arab termiskin, Yaman, yang seolah-olah bertujuan memulihkan pemerintahan Yaman.

Meskipun memiliki kekuatan udara yang luar biasa, namun setelah konflik selama lima tahun, aliansi ini gagal menguasai sebagian besar negara itu dari kaum revolusioner Ansarullah.

Tidak puas dengan agenda hanya mengusir Ansarullah, UEA juga telah mendukung separatis di selatan, dalam upaya mereka untuk mendirikan negara sendiri, bebas dari kendali pemerintah Yaman.

Sebagian karena intervensi oleh negara-negara Teluk, Yaman berada di ambang kelaparan dan menghadapi krisis kolera.

Sejak konflik meningkat pada Maret 2015, sekitar dua juta anak di bawah lima tahun menderita kekurangan gizi akut dan memerlukan perawatan. Lebih dari 100.000 orang tewas dalam perang di Yaman, termasuk warga sipil yang terbunuh oleh serangan udara Saudi.

Baca Juga:

Pada tahun 2018, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengomentari sebuah bus sekolah yang terkena serangan udara Saudi.

“Saya pikir ini situasi yang mengerikan. Saya benci melihat apa yang terjadi dengan bus dan anak-anak – karena mereka murni, itu adalah pertunjukan horor ketika Anda melihat hal seperti itu, Anda melihat bus.”

“Itu pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak tahu cara menggunakan senjata, yang mengerikan.”

Penguasa Saudi tidak hanya terlibat dalam perang di Yaman tetapi juga berkontribusi terhadap ketidakstabilan di Timur Tengah dengan melibatkan Qatar, Mesir, dan Libya.

Sejarah kelam tentang penculikan anggota keluarga kerajaan

Monarki kaya minyak itu juga telah melihat beberapa pergolakan internal di dalam keluarga selama bertahun-tahun.

Ada banyak bukti bahwa anggota keluarga kerajaan Arab Saudi yang hilang telah diculik dan ditawan dari negara lain dan dibawa kembali ke Riyadh.

Secara historis, para pejabat Saudi telah membantah semua tuduhan tentang nasib pangeran yang dan orang lain hilang yang mereka tuduh penculikan.

Pangeran Sultan bin Turki, Pangeran Turki bin Bandar, Pangeran Saud bin Saif diculik oleh keluarga kerajaan Saudi karena kritik mereka terhadap aturan Riyadh.

Pembunuhan Jamal Khashoggi

Wartawan terkemuka Saudi Jamal Khashoggi dibunuh oleh agen Saudi di dalam konsulat kerajaan di Istanbul pada Oktober 2018.

Setelah beberapa bulan penyangkalan, Riyadh mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di dalam konsulat Saudi dan mengumumkan surat perintah penangkapan untuk 18 orang yang diduga terlibat dalam kejahatan tersebut.

Namun, sebuah laporan oleh Human Rights Watch [HRW] menyatakan: “Pernyataan [yang dibuat oleh otoritas Saudi] tampaknya dirancang untuk menyelamatkan Putra Mahkota Mohammad bin Salman dari penyelidikan lebih lanjut atas pembunuhan tersebut.”

Baca Juga:

CIA pada bulan November memberi pengarahan singkat kepada Gedung Putih bahwa Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memerintahkan pembunuhan.

Temuan CIA yang pertama kali dilaporkan oleh Washington Post ini, adalah penilaian AS yang paling definitif hingga saat ini yang menghubungkan penguasa de facto Arab Saudi secara langsung dengan pembunuhan tersebut.

Senat AS itu juga menerima resolusi pada 13 Desember yang menuntut Putra Mahkota Mohammed bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: