Internasional

PM Baru Irak Bertemu dengan Dubes Iran dan Amerika

IRAK – Mustafa al-Kadhimi, perdana menteri baru Irak, mengadakan pertemuan terpisah dengan para duta besar Iran dan AS pada awal masa jabatannya.

Dalam pertemuan pada Sabtu malam, PM Al-Kadhimi dan duta besar Iran untuk Baghdad Iraj Masjedi membahas kerja sama, kolaborasi perbankan, jalur kereta api yang menghubungkan Khorramshahr Iran ke Basra Irak, dan penerbitan visa untuk warga negara kedua negara.

Mereka juga berunding tentang kelanjutan implementasi Perjanjian Aljir 1975, sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh negara-negara tetangga pada 13 Juni 1975 untuk mengakhiri sengketa wilayah kedua belah pihak, terutama mengenai Sungai Arvand.

Baca:

Dalam pertemuannya dengan Masjedi, yang diadakan beberapa jam setelah pertemuan resmi pertama pemerintah baru Irak, Al-Kadhimi memuji upaya Teheran dalam memerangi teroris Daesh di wilayah tersebut, kata duta besar Iran di akun Twitter-nya.

Perdana menteri juga menggambarkan Iran dan Irak sebagai dua negara yang bersahabat dan persaudaraan, serta menyatakan minat Baghdad dalam menciptakan hubungan terbaik dengan Republik Islam dan semua negara tetangga lainnya.

Pada hari yang sama, perdana menteri Irak juga menerima duta besar AS untuk Irak Douglas A. Silliman.

Dalam pertemuan itu, Al-Kadhimi mengatakan kepada duta besar Amerika bahwa Irak tidak akan mengizinkan negaranya digunakan untuk menyerang negara tetangga atau negara sahabat.

Dia juga menyoroti perlunya menjaga keamanan regional dan menjaga wilayah dari bahaya.

Duta Besar AS, pada gilirannya, mengklaim bahwa Washington akan mendukung Irak dan siap membantu negara itu untuk menyelesaikan masalah ekonomi dan untuk melawan pandemi coronavirus.

Pertemuan itu dilatarbelakangi oleh seruan berbagai kelompok Irak dan tokoh-tokoh untuk pengusiran segera pasukan Amerika dari tanah Irak.

Menyusul persetujuan Parlemen Irak atas kabinet Al-Kadhimi pada hari Rabu, Grand Mufti Irak Mahdi al-Sumaidaie mengatakan perdana menteri baru harus “mengimplemantasikan pengusiran pasukan Amerika dari Irak, karena mereka telah menyerang pasukan Irak yang kuat dan dapat dipercaya. “

Pemimpin shalat Jumat, Sayed Yasin al-Mousavi juga mengatakan bahwa pasukan Amerika tidak berniat meninggalkan wilayah Timur Tengah dan harus diusir dengan perlawanan.

Organisasi Badr Irak juga telah menekankan bahwa kabinet baru harus menerapkan RUU yang disahkan oleh Parlemen Irak terkait pengusiran pasukan asing. (ARN)

Comments
Arrahmahnews AKTUAL, TAJAM DAN TERPERCAYA

Facebook

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 2.779 pelanggan lain

Pengunjung

  • 51.976.022 hit

Copyright © 2020 Arrahmahnews.com All Right Reserved.

To Top
%d blogger menyukai ini: