Arab Saudi

Mengapa MbS Begitu Memusuhi Para Pangeran Saudi yang Lain?

Arab Saudi  Sejak Raja Salman bin Abdulaziz mencapai takhta pada Januari 2015, putranya Mohammed bin Salman (MbS) terus berusaha memanjat pundak ayahnya untuk mencapai tujuannya dan melampaui semua sepupu dan pamannya yang memiliki hak lebih atas kedudukan putra mahkota dan takhta kerajaan. MbS mengambil keuntungan dari kedudukan ayahnya dan mulai mendeportasi siapa pun yang membahayakannya, tanpa peduli dengan adat dan tradisi kerajaan.

Oleh karena itu ide penangkapan dengan berbagai alasan dan dalih dimulai untuk mengamankan MbS dari para pesaingnya. Tahun 2017 menjadi tahun penangkapan besar-besaran terhadap para pangeran, dan di tahun yang sama dia mengambil posisi pangeran mahkota dari sepupuhnya Mohammed bin Nayef.

Baca Juga:

Organisasi internasional yang peduli dengan hak asasi manusia mengatakan bahwa pemerintah Saudi menangkap Pangeran Faisal bin Abdullah dan mengisolasinya dari dunia luar, karena pemerintah menolak untuk mengungkapkan lokasi atau statusnya, menurut sumber yang terkait dengan keluarga yang berbicara dengan Human Rights Watch.

Pihak berwenang di Arab Saudi tidak mengomentari tuduhan yang datang setelah laporan sebelumnya tentang penahanan Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan mantan Pangeran Mahkota Muhammad bin Nayef, di samping penangkapan sejumlah pengkhotbah, intelektual dan aktivis hak asasi manusia.

Meskipun Pangeran Faisal bin Abdullah dan Mohammed bin Nayef menderita masalah kesehatan, pihak berwenang Saudi tidak memperhatikan masalah tersebut. Keluarga Pangeran bin Abdullah juga menyatakan keprihatinan tentang status kesehatannya karena menderita penyakit jantung.

Adapun Bin Nayef, Arab Saudi pada hari Minggu 10 Mei 2020, mengumumkan bahwa mantan Pangeran Mahkota itu mengalami serangan jantung di penjara, dan pengumuman itu juga termasuk pengakuan resmi pertama dari Riyadh dalam penangkapan Bin Nayef, dua bulan setelah pihak berwenang bungkam atas Laporan yang mengkonfirmasi penangkapan sang pangeran bersama dengan yang lain pada bulan Maret 2020.

Baca Juga:

Kondisi kesehatan Bin Nayef memburuk yang menyebabkannya dipindahkan ke perawatan intensif, dan ini diungkapkan oleh Direktorat Jenderal Penjara Arab Saudi, yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, yang mengatakan di Twitter bahwa bin Nayef dipindahkan ke perawatan intensif setelah menderita serangan jantung.

Selain itu, MbS juga melakukan penangkapan terhadap para putri kerajaan. Pada 15 April 2020, akun Twitter milik Putri Basma bint Saud, 56, yang merupakan putri almarhum Raja Saud, menerbitkan serangkaian tweet yang menyatakan bahwa putrinya ditahan tanpa tuduhan di Penjara Al-Ha’ir selatan Riyadh, dan kesehatannya memburuk, tetapi tweet itu hilang setelah beberapa jam. Pada 5 Mei, AFP melaporkan bahwa sejak tweet dihapus, anggota keluarga belum menerima informasi tentang kondisinya.

Mohammed bin Salman tampaknya menikmati penyiksaan kerabatnya, ketika sebuah laporan New York Times pada Maret 2018 menyatakan bahwa 17 orang perlu dirawat di rumah sakit karena perlakuan sewenang-wenang oleh otoritas Saudi di Ritz-Carlton pada 2017, dan Mayor Jenderal Ali al-Qahtani – asisten Pangeran Turki – meninggal dalam tahanan.

Apa yang dikejar Ibn Salman dari penangkapan ini?

Pertama, Ibn Salman tahu bahwa ada orang-orang yang lebih berhak untuk naik takhta kerajaan dan mereka lebih berpengalaman, dan beberapa dari mereka memiliki popularitas besar di dalam dan di luar negeri, di antara mereka adalah Pangeran Mohammed bin Nayef. Bin Nayef dianggap berbahaya karena sejak 1999, ia diangkat sebagai Asisten Menteri Dalam Negeri untuk Urusan Keamanan, dan pada November 2012 ia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri.

Baca Juga:

Mohammed bin Nayef sangat disukai oleh pemerintah Barat dan dianugerahi medali “George Tenet” oleh CIA pada Februari 2017.

Kedua, Ibn Salman tahu bahwa kebijakannya yang ceroboh akan membawa kehancuran pada kerajaan, terutama ketika ia menyimpang dari aturan klasik yang mengatur para raja sebelumnya, dan ia menjadi lebih ekstrem setelah dianggap oleh banyak orang lebih terbuka. Sebagai akibat dari kebijakannya kerajaan tenggelam dalam masalah ekonomi, sosial dan politik, terutama berkaitan dengan Kebijakan luar negeri seperti perang Yaman dan blokade Qatar, masalah hak asasi manusia seperti penuntutan aktivis, pemenjaraan pelanggar, dan kejahatan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Istanbul pada awal Oktober 2018, di samping radikalisme dalam mengambil keputusan sosial yang bertentangan dengan sifat masyarakat konservatif, dan akhirnya hukuman penjara terhadap kelompok masyarakat konservatif. Di antara para pangeran berpengaruh di keluarga kerajaan mengklaim bahwa mereka sedang mempersiapkan kudeta, yang dipimpin oleh pamannya Pangeran Ahmed bin Abdul Aziz dan Pangeran Mohammed bin Nayef. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Comments
Arrahmahnews AKTUAL, TAJAM DAN TERPERCAYA

Facebook

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 2.776 pelanggan lain

Pengunjung

  • 51.974.159 hit

Copyright © 2020 Arrahmahnews.com All Right Reserved.

To Top
%d blogger menyukai ini: