Amerika

Ngotot Masih Jadi Anggota JCPOA, Zarif: Pejabat AS Biasa Buat Klaim Bodoh

Iran – Menteri luar negeri Iran mengecam para pejabat AS karena membuat klaim “bodoh” tentang kesepakatan nuklir 2015 dan resolusi PBB yang mendukungnya. Mohammad Jawad Zarif mengatakan bahwa wajar bagi mereka yang menyarankan suntikan disinfektan sebagai langkah pencegahan terhadap virus korona baru untuk mengklaim bahwa mereka masih menjadi pihak di dalam perjanjian yang telah mereka tinggalkan.

“Membuat klaim bodoh bagi para pejabat AS bukanlah hal yang baru,” kata Zarif kepada wartawan, Rabu (13/05), bereaksi terhadap pernyataan utusan khusus AS untuk Iran, Brian Hook, yang baru-baru ini mengatakan dalam sebuah pidato kepada calon presiden AS Joe Biden bahwa “tidak ada yang tersisa dari JCPOA sampai anda kembali ke sana”.

Baca Juga:

Hook merujuk pada perjanjian nuklir dengan akronim dari nama resminya, Joint Comprehensive Plan of Action. Iran menandatangani perjanjian dengan enam negara utama dunia, termasuk AS, pada 2015, tetapi Washington di bawah Trump kemudian keluar dari perjanjian, yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB itu.

Biden dalam pidato pemilihan umumnya berbicara tentang akan kembalinya Washington ke JCPOA dengan syarat tertentu jika ia memenangkan pemilihan presiden. Calon presiden itu mengatakan bahwa syarat pertama Amerika Serikat untuk kembali ke JCPOA adalah agar Iran memperbarui komitmennya terhadap kesepakatan nuklir. Biden berjanji kepada para pendukungnya untuk memperkuat dan memperluas JCPOA bekerja sama dengan sekutu AS.

Baca Juga:

“Bukan urusan Brian Hook untuk mengatakan ‘tidak akan ada yang tersisa dari JCPOA.’ Yang penting adalah antara Iran dan pihak-pihak yang tersisa di JCPOA,” kata Zarif.

Diplomat top Iran itu mengatakan bahwa “kami telah melakukan semua langkah kami dalam kerangka JCPOA,” menyerukan kepada para penandatangan yang tersisa dari kesepakatan untuk mengubah perilaku mereka sehingga Teheran dapat kembali ke implementasi penuh dari perjanjian tersebut.

Zarif menyebut JCPOA sebagai “dokumen kuat,” mengatakan, Amerika akan menyadari di masa depan bahwa tindakan bermusuhan yang telah mereka ambil untuk merusak perjanjian ini akan merugikan mereka sendiri”. (ARN)

Ikuti Update Berita di Channel Telegram Arrahmahnews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: