NewsTicker

Mantan Menteri Oposisi Ungkap Koalisi Saudi Berusaha Hancurkan Yaman

Mantan Menteri Oposisi Ungkap Koalisi Saudi Berusaha Hancurkan Yaman Mohamed al-Maytami

Arab Saudi – Seorang menteri dari bekas pemerintahan Yaman dukungan Saudi yang membangkang, mengungkap upaya negara-negara dalam koalisi pimpinan rezim Saudi untuk menghancurkan negara yang dilanda perang itu dengan memecah belahnya.

Berbagai media melaporkan bahwa Mohamed al-Maytami, yang pernah menjadi menteri perindustrian dan perdagangan Hadi, memutuskan aliansi dengan mantan presiden Yaman itu pada hari Minggu kemarin.

Baca Juga:

“Negara-negara regional, yang beberapa di antaranya berada dalam koalisi pimpinan Arab Saudi berusaha dua puluh empat jam setiap hari untuk memecah belah Yaman,” katanya dalam catatan keberangkatannya.

Hadi mengundurkan diri dan melarikan diri ke Riyadh pada 2015 di tengah krisis politik. Arab Saudi kemudian menyerbu Yaman dalam upaya untuk mengembalikannya ke kekuasaan.

Namun, perang terhenti dari tujuannya karena koalisi tak kunjung menang. Agresi justru menyebabkan ratusan ribu warga Yaman tewas dan mendorong seluruh negara itu ke ambang jurang kelaparan. Beberapa waktu setelah kampanye militer dimulai, pertikaian justru meletus antara militan yang didukung Saudi dan separatis yang didukung UEA di Yaman selatan.

Para separatis kini mendeklarasikan apa yang disebut pemerintahan sendiri di selatan, dan yang paling akhir melakukan kudeta di pulau Socotra Yaman, yang dulunya dikendalikan oleh militan dukungan Saudi.

Baca Juga:

Al-Maytami menyebut Hadi dan kawan-kawan mantan pejabatnya tidak efisien, dengan mengatakan bahwa dia tidak tahan lagi terhadap penolakan rezim lama (Hadi) untuk mengambil sikap resmi pada upaya koalisi Saudi itu.

Keputusannya dilaporkan diikuti oleh pengunduran diri yang serupa oleh beberapa pejabat Hadi lainnya.

Kantor berita Turki Anadolu melaporkan pada hari Sabtu bahwa sekutu Hadi meminta koalisi yang dipimpin Saudi untuk membantu “menghentikan kekacauan, dan agresi yang dilakukan oleh milisi (dukungan UEA) dan menerapkan ketentuan-ketentuan perjanjian Riyadh.

Dicapai tahun lalu di ibukota Saudi, Riyadh, kesepakatan itu seharusnya memungkinkan konsiliasi antara pasukan yang didukung Saudi dan yang didukung UEA, dan membawa pemerintahan yang dipimpin Hadi untuk memerintah di kota selatan Aden. Akan tetapi, kota ini ironisnya adalah markas besar kaum separatis yang dipimpin oleh Emirat. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: