Internasional

Aktivis HAM: Penjara Rahasia UEA Jadi Tempat Penyiksaan Sadis ‘Pembangkang Yaman’

Aktivis HAM: Penjara Rahasia UEA Jadi Tempat Penyiksaan Sadis ‘Pembangkang Yaman’

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COM Pengacara, aktivis HAM, dan kepala Yayasan Pembelaan untuk Hak dan Kebebasan Yaman,  Huda al-Sarari, mengungkap keberadaan penjara-penjara rahasia yang dijalankan oleh Uni Emirat Arab di kota-kota Aden dan Mukalla dan penjara lain di luar Yaman yang digunakan untuk menahan dan menyiksa orang-orang Yaman yang dianggap melawan UEA dan pasukannya. Keberadaan penjara-penjara ini adalah sebuah kejahatan yang sangat melanggar hak asasi manusia mereka.

Pada Hari Selasa (28/07) jaringan berita Al-Masirah Yaman memberitakan laporan Al-Sarari dimana ia mengatakan berhasil menemui sejumlah tahanan Yaman yang telah menghilang secara paksa dan diculik selama lima tahun di penjara rahasia di Aden dan Mukalla dan dipindahkan ke penjara-penjara yang dikelola oleh UEA di luar Yaman, dalam kondisi yang bahkan tidak memenuhi standar kemanusiaan terendah, dan tidak memiliki akses ke pengadilan.

BACA JUGA:

“Kami berhasil menghubungi sejumlah dari mereka yang mengungkap bahwa mereka telah mengalami penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi di penjara-penjara yang dikelola UEA di luar Yaman”, katanya. “Mereka mengatakan bahwa mereka tidak dirujuk ke pengadilan dan hanya petugas dan tentara bayaran UEA yang menginterogasi mereka”.

“Mereka dibebaskan dengan syarat mereka tidak berbicara dengan media. Selama tahun-tahun penghilangan paksa dan penyiksaan mereka, mereka ditekan untuk bekerja untuk penculik mereka atau akan tetap menghilang”, ungkapnya.

Al-Sarari menyoroti bahwa kejahatan terhadap orang-orang ini tidak memandang bulu, dan Emirat akan menangkap siapapun yang dianggap melawan.

BACA JUGA:

Al-Sarari lebih lanjut mencatat bahwa beberapa tahanan yang saat ini berhasil dibebaskan, semuanya  membutuhkan rehabilitasi psikologis pasca berbagai siksaan dan tekanan yang mereka terima agar bisa kembali ke masyarakat.

Pengacara Yaman Huda al-Sarari, yang putranya Mohsen dibunuh pada awal April 2019, oleh milisi yang Dewan Transisi Selatan yang berafiliasi dengan Emirate, berjanji bahwa “para pelanggar HAM dan pendukung mereka ini akan dituntut”. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: