NewsTicker

Sudah Tinggal di Gua, Keluarga Palestina ini Tetap akan Diusir Israel

Sudah Tinggal di Gua, Keluarga Palestina ini Tetap akan Diusir Israel Warga Palestina tinggal di Gua

Palestina, ARRAHMAHNEWS.COM Rumah Ahmed Amarneh, dengan pintu kayu yang langsung mengarah ke ruangan tengah bukanlah kediaman Palestina pertama di wilayah pendudukan Tepi Barat yang menerima pemberitahuan pembongkaran dari ‘Israel’.

Tapi itu mungkin rumah yang dibangun di dalam gua pertama yang diancam akan dihancurkan oleh ‘Israel’.

Amarneh, seorang insinyur sipil berusia 30 tahun, tinggal bersama keluarganya di desa Farasin di Tepi Barat utara, di mana ‘Israel’ memaksakan penduduk disana untuk meminta izin rezim pendudukan jika ingin membangun tempat tinggal baru dan akan meruntuhkan rumah yang dibangun tanpa izin.

“Saya mencoba dua kali untuk membangun [rumah], tetapi otoritas pendudukan mengatakan kepada saya bahwa dilarang membangun di daerah tersebut,” kata Amarneh sebagaimana dikutip Al-ahed news, Rabu (12/08).

BACA JUGA:

Kesepakatan Oslo pada 1990-an memberi Palestina pemerintahan sendiri di beberapa bagian Tepi Barat. Namun, sekitar 60 persen wilayah yang dijuluki Area C, tempat Farasin berada, tetap berada di bawah kendali penuh ‘Israel’.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menganggap Area C sebagai wilayah milik Palestina yang diduduki Israel. Tetapi ‘Israel’ semakin banyak mencaplok tanah di sana untuk pembangunan permukiman ilegal Yahudi.

Yakin bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan izin ‘Israel’ untuk membangun rumah di desanya, Amarneh kemudian memanfaatkan sebuah gua di kaki bukit yang menghadap ke desanya, Farasin.

Amarneh mengatakan bahwa ia mengira karena itu adalah sebuah gua yang sudah berada disana sejak semula, maka Israel tidak mungkin membantah bahwa itu dibangun secara ilegal, sementara Otoritas Palestina sudah memberi izin untuk mendaftarkan tanah itu atas namanya.

Amarneh menutup mulut gua dengan dinding batu dan memasang pintu kayu di tengahnya. Ia membuat dapur, ruang tamu, dan ruang tidur untuk dirinya sendiri, istrinya yang sedang hamil, dan putri kecil mereka. Bahkan ada ruang untuk tamu.

Setelah tinggal di sana selama satu setengah tahun, ia menerima pemberitahuan pembongkaran dari otoritas ‘Israel’ pada bulan Juli bersama dengan 20 keluarga Palestina lainnya di Farasin.

Cabang militer ‘Israel’ yang bertanggung jawab atas urusan sipil di Tepi Barat yang diduduki, COGAT, mengatakan pemberitahuan pembongkaran diberikan ke beberapa tempat tinggal di Farasin karena “struktur yang dibangun secara ilegal, tanpa izin dan persetujuan yang diperlukan”.

Amarneh mengatakan dia “terkejut” dengan surat itu karena ia tidak membangun sesuatu secara ilegal.

“Saya tidak membuat gua itu. Gua itu sudah ada sejak jaman dahulu,” katanya sambil menggendong putrinya yang masih kecil.

BACA JUGA:

“Saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa mencegah saya untuk tinggal di gua. Hewan saja bisa hidup di dalam gua dan tidak diusir. Jadi biarkan mereka memperlakukan saya seperti binatang dan biarkan saya tinggal di dalam gua,” katanya.

Buldoser ‘Israel’

“Penduduk Arab mendirikan desa Farasin pada 1920,” kata ketua dewan lokal, Mahmud Ahmad Nasser.

Desa itu ditinggalkan selama Perang 1967, tahun pendudukan ‘Israel’ di Tepi Barat dimulai. Namun sejak 1980-an, bekas warga mulai kembali ke daerah tersebut. Nasser menyebutkan populasinya saat ini sekitar 200 orang.

Farasin tidak terlihat seperti desa namun lebih merupakan sekumpulan kecil rumah-rumah yang jaraknya sangat jauh.

“PA secara resmi mengakui komunitas Farasin pada bulan Maret, tetapi krisis virus korona telah mencegah mereka menyediakan listrik untuk daerah itu,” kata dewan setempat.

BACA JUGA:

COGAT mengindikasikan pada bulan April pihaknya mungkin menangguhkan beberapa pembongkaran yang dijadwalkan karena pandemi.

Namun, menurut kelompok kampanye anti-pemukiman ‘Israel’ B’Tselem, ‘Israel’ menghancurkan 63 bangunan Palestina pada bulan Juni.

Sekitar 450.000 pemukim ilegal Israel tinggal di Tepi Barat yang diduduki, bersama dengan sekitar 2,7 juta warga Palestina.

Penduduk Farasin mengkhawatirkan kedatangan buldoser ‘Israel’ selama berminggu-minggu, kata Amarneh.

Baru-baru ini tentara datang dan memberi tahu orang-orang Palestina bahwa “mereka hanya punya waktu satu menit untuk mengambil semua barang mereka” dan meninggalkan rumah mereka, katanya.

“Mereka menyuruh kami, tanpa rasa malu, untuk meninggalkan desa.”

Amarneh takut rumah gua keluarganya bisa menjadi target berikutnya, menambahkan bahwa istri dan putrinya ” sangat terkejut dengan hal ini. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: