NewsTicker

Tanpa Trump, Bin Salman Tak Punya Masa Depan

Tanpa Trump, Bin Salman Tak Punya Masa Depan Foto MbS dan Trump

Arab Saudi, ARRAHMAHNEWS.COM – Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, menangani masalah domestik dan luar negeri Arab Saudi dengan mentalitas seorang pemimpin Mafia. Dalam kamusnya, tidak ada yang bisa menghentikannya untuk mencapai tujuan.

Dengan uang dan pembunuhan, dia seenaknya memaksakan kehendak. Dalam salah satu langkahnya, ia menculik Perdana Menteri negara lain, yaitu Lebanon, dan memaksanya mundur. Kejahatannya yang brutal juga termasuk memotong-motong tubuh lawan dan mencairkannya dengan asam di negara lain, membantai seorang ulama, Baqir al-Nimr, hanya karena dia menyatakan pendapat politik. Bin Salman bahkan menangkap ratusan pengusaha dan pangeran saudara-saudaranya sendiri serta menjarah kekayaan mereka hanya karena ia meragukan kesetiaan mereka kepadanya. Ia mengirim banyak aktivis ke penjara hanya karena mencuitkan sesuatu di twitter.

BACA JUGA:

Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin seorang pemuda, yang belum lagi berusia tiga puluh tahun ketika ayahnya mencalonkan dia sebagai putra mahkota, bisa melakukan kekejaman luar biasa ini? Ia bahkan berani merebut kekuasaan dari puluhan pangeran keluarga Al Saud, meskipun mereka lebih tua dan berpengalaman, termasuk banyak paman dan sepupunya. Bagaimana ia melakukan semua kejahatan ini seolah tanpa tantangan di dalam Arab Saudi, atau dikecam atau ditegur di tingkat internasional?

Jawaban atas pertanyaan ini hanya satu kata: Trump!

Karena Presiden AS, Donald Trump, yang memanfaatkan kepribadian keji yang memang dimiliki Mohammed bin Salman. Maka pangeran Mahkota Saudi itu melakukan apapun yang ia mau untuk mendapatkan kekuasaan. Tapi kemudian terlalu jauh melainkan batasnya hingga menjadi seperti pemimpin geng.

Di sisi lain, Bin Salman menemukan dalam kepribadian Trump tangga yang dengan mudah bisa ia naiki untuk mencapai takhta. Yaitu selama ia bisa memenuhi tujuan utama Trump yang ia upayakan dengan seluruh kekuatannya selama masa kepresidenannya; yang pertama adalah mendapatkan jumlah uang sebesar mungkin dan memompanya ke dalam ekonomi Amerika, dan yang kedua adalah menghancurkan perjuangan Palestina.

BACA JUGA:

Dan demi untuk mencapai dua tujuan ini Bin Salman mengosongkan perbendaharaan Saudi dan memompa ratusan miliar dolar ke saku Trump. Ia juga mengesampingkan semua kesepakatan umat Islam dan Arab tentang masalah Palestina. Bahkan sampai-sampai ia mengabaikan sikap penjahat Netanyahu, terhadap Palestina. Media-media Saudinya melawan bangsa Palestina lebih keras dari pada entitas Zionis itu sendiri. Dia, sebagai tambahan, mengambil bagian aktif dalam “kesepakatan abad ini” yang dibuat Trump untuk menyelesaikan masalah Palestina.

Dukungan luar biasa dari Trump ini, yang bahkan mengabaikan laporan CIA yang menganggap bin Salman bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi, membuat bin Salman melangkah lebih jauh untuk mengulangi kejahatan keji atas Khashoggi terhadap mantan intelijen Saudi dan tangan kanan Mohammad bin Nayef, yang mencari perlindungan di Kanada.

Masalah ini mendorong sang intelijen untuk mengungkapkan tentang situasi diseputar upaya pembunuhannya, mengajukan pengaduan ke pengadilan federal AS, yang mengeluarkan perintah pengadilan untuk memanggil bin Salman dan 13 orang lainnya.

BACA JUGA:

Jurnalis Inggris, David Hearst, menulis, dalam sebuah artikel untuk surat kabar Middle East Eye, dengan judul “Saad al-Jabri: Warga Saudi yang bisa menjatuhkan Mohammed bin Salman,” mengungkapkan bahwa mantan pejabat intelijen Saudi, Saad Al-Jabri , Siap untuk konfrontasi komprehensif dengan rezim Saudi. Dia menjadi lebih berbahaya bagi Putra Mahkota, Mohammed bin Salman, daripada yang bisa dilakukan jurnalis, Jamal Khashoggi. Hantu Khashoggi menolak untuk bersembunyi, dan Jabri bertekad untuk menghentikan si pembunuh menikmati rampasan kekuasaan. Semua ini mengarah pada satu kesimpulan: MBS sekarang menghadapi tantangan eksternal terbesar dalam upayanya untuk merebut takhta.

Hearst percaya bahwa: “Satu-satunya harapan calon raja yang masih bocah itu untuk menghindari malapetaka adalah kemenangan Trump. Jika Trump kalah, hampir semua hal di sekitar Trump ikut hancur. MBS akan sangat beruntung jika bisa bertahan, karena apa pun yang ia lakukan, ia membutuhkan dukungan militer AS . Ini bukan sesuatu yang bisa ditukar dalam semalam dengan dukungan Putin atau China.” (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: