NewsTicker

Aramco Bangkrut, Visi “NEOM” 2030 MbS Hancur

Aramco Bangkrut, Visi Aramco, Saudi

Arab Saudi, ARRAHMAHNEWS.COM Kerugian yang dialami eksportir minyak mentah terbesar dunia, Aramco, dan perang harga minyak Rusia-Arab Saudi telah melemahkan rencana dan visi 2030 Mohammed bin Salman (MbS). Rencana yang bertujuan untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Perekonomian Saudi saat ini mengalami kerugian besar akibat penurunan harga bahan baku. Upaya Riyadh untuk mengakhiri perang di Yaman kemungkinan besar bersifat ekonomi, Kas Saudi sudah terkuras untuk perang bertahun-tahun yang tidak membuahkan hasil bagi mereka ini.

BACA JUGA:

Menurut laporan Kementerian Keuangan Saudi yang diterbitkan pada 28 Juli lalu, Arab Saudi mencatat defisit 29,12 miliar dolar, dengan pendapatan minyak turun 45 persen pada kuartal kedua tahun ini menjadi 25,5 miliar dolar. Pendapatan total turun 49 persen menjadi hampir 36 miliar dolar.

Menurut Carnegie Institute, anjloknya harga minyak, bersama dengan pandemi Covid-19, telah memberikan tekanan luar biasa pada ekonomi Saudi. Pada bulan Maret, aset asing bersih Saudi turun hampir 27 miliar dolar menjadi 464 miliar dolar, terendah dalam 19 tahun. Kementerian Keuangan telah meningkatkan plafon utangnya dari 30 persen dari PDB menjadi 50 persen.

Krisis di dua cabang penghasilan kerajaan ini mengguncang keuangan Kerajaan, memaksakan pemotongan anggaran. Pendapatan minyak mewakili lebih dari 40 persen PDB Saudi dan hampir 80 persen ekspor, mempekerjakan dua pertiga dari populasi.

BACA JUGA:

Ketika defisit anggaran negara meningkat, Kerajaan telah mengambil langkah-langkah penghematan yang tidak disambut baik oleh masyarakat umum. Arab Saudi menaikkan PPN dari lima menjadi 15 persen pada 1 Juli, membuat konsumen bergegas ke pusat perbelanjaan untuk menimbun barang karena takut harga-harga segera melambung. Harga bensin juga naik 34 persen di bulan Juli, dengan bensin 91 sekarang berharga 0,34 dolar per liter, naik dari  0,26 dolar sebelumnya.

Di tengah semua langkah penghematan, rencana pengembangan Saudi Vision 2030 yang mahal dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman, di berbagai sektor seperti infrastruktur, pariwisata, dan hiburan, berisiko ditunda atau dibatalkan sama sekali. Salah satu tujuan visi yang paling terkenal itu adalah pembangunan kota besar senilai 500 miliar dolar yang disebut NEOM, dengan luas 26.500 kilometer persegi, NEOM diperkirakan berukuran 33 kali luas Kota New York. Kota Masa depan yang direncanakan itu mungkin tidak akan pernah terwujud.

“Saya pikir Visi 2030 kurang lebih sudah berakhir”, kata Michael Stephens, seorang analis Timur Tengah di Royal United Services Institute of London. “Saya pikir sudah selesai”.

Setelah tertunda hampir empat tahun, penjualan saham Aramco yang menjadi salah satu pilar diwujudkannya Visi 2030, tahun lalu diluncurkan. Alih-alih lima persen dari yang semula direncanakan, hanya 1,5 persen saham Aramco yang berhasil dijual, itupun hanya di bursa domestik Tadawal. Pelanggannya juga domestik dengan laporan bahwa banyak investor dipaksa untuk berinvestasi.

Saudi Aramco, perusahaan publik terbesar di dunia, melaporkan penurunan laba bersih 25 persen pada kuartal pertama tahun 2020.

BACA JUGA:

Penjualan saham Aramco tahun lalu tidak berjalan dengan baik karena berbagai alasan, termasuk pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi pada Oktober 2018 di Konsulat Saudi di Istanbul, serangan kapal tanker di Teluk Persia musim panas lalu, serangan 14 September terhadap fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia di Abqaiq dan Khurais (yang dimiliki oleh Aramco), juga perang Yaman yang sekarang telah membuat jutaan orang disana dalam risiko kelaparan dan oleh PBB telah diidentifikasi sebagai krisis kemanusiaan terburuk di zaman sekarang.

Menurut perkiraan dana moneter internasional, defisit anggaran kerajaan Arab Saudi diperkirakan akan membengkak hingga hampir 13 persen dari output. Terlepas dari langkah-langkah penghematan Saudi, defisit anggaran akan meningkat menjadi 50 miliar dolar pada 2020 dari 35 miliar dolar pada 2019.

Tindakan penghematan yang dilakukan kerajaan juga dapat memperburuk ketegangan dan ketidaksetaraan masyarakat yang sudah ada sebelumnya di Kerajaan. Pada bulan Januari, otoritas Saudi menangkap 11 pangeran karena memprotes langkah-langkah penghematan sebuah istana kerajaan di ibukota Riyadh. Meskipun, ada perbedaan langkah-langkah penghematan bagi para pangeran kaya itu masih menjadi pertanyaan.

Raja Salman bin Abdulaziz yang berusia 84 tahun yang pemerintahannya dimulai pada Januari 2015, pertama kali terancam pada tahun 2018 oleh protes besar-besaran terhadap penghematan, yang diikuti dengan tindakan keras militer, dengan laporan tentang eksekusi massal dan pemenggalan. Sekarang kerusakan yang terjadi di masa pemerintahan raja yang kini sakit itu sudah berada pada tahap tidak dapat diperbaiki, dengan perkiraan bahwa dia akan mangkat, meninggalkan rumah Saud hancur tidak dapat diperbaiki.

Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) sudah terlanjur menggunakan berbagai metode yang paling memalukan terhadap saingan-saingannya, sebuah tindakan yang mungkin akan terus menghantuinya di masa depan bahkan jika dia berhasil memperoleh tahta. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: