NewsTicker

Beijing Puji Usul Putin Gelar KTT Virtual guna Hindari Konfrontasi soal Nuklir Iran

Beijing Puji Usul Putin Gelar KTT Virtual guna Hindari Konfrontasi soal Nuklir Iran Xi Jinping dan Putin

China, ARRAHMAHNEWS.COM Dalam konferensi pers rutinnya kemarin, Senin (17/08), juru bicara China mengatakan bahwa Beijing menyambut baik usulan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengadakan pertemuan puncak para pemimpin dunia guna menghindari “konfrontasi” atas ancaman AS untuk memicu apa yang disebut mekanisme “snapback” yang ditetapkan dalam JCPOA, yang akan memulihkan semua sanksi PBB terhadap Iran.

“China menyambut baik usulan Rusia untuk mengadakan pertemuan video tentang masalah nuklir Iran, dan memuji upaya Rusia dalam mengurangi ketegangan tentang masalah ini serta kontribusinya terhadap keamanan regional”, kata Zhao.

BACA JUGA:

Ia menekankan bahwa Beijing dengan tegas mendukung kesepakatan nuklir penting itu dan “Tetap berkomitmen untuk menegakkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah”.

“Kami siap bekerja sama dengan pihak terkait untuk menjaga komunikasi dan koordinasi yang erat serta memperoleh penyelesaian politik tentang nuklir Iran,” tandasnya.

Pernyataan itu muncul setelah Trump mengatakan bahwa ia mungkin tidak akan berpartisipasi dalam KTT semacam itu.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Putin mengusulkan pertemuan video dengan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, Jerman dan Iran, mengatakan, “Ini Masalah Darurat”.

Putin menambahkan bahwa akibat dari semua ini adalah “hanya peningkatan ketegangan lebih lanjut, meningkatkan risiko konflik, sebuah skenario seperti itu harus dihindari”.

Sehari setelah AS mengalami kekalahan yang memalukan di Dewan Keamanan, Trump berjanji untuk menggunakan teknik snapback yang kontroversial, dengan mengatakan, “Kami akan melakukan snapback. Anda akan melihatnya minggu depan”.

BACA JUGA:

“Snapback” dianggap bisa dilakukan jika Iran terbukti melanggar JCPOA yang sudah ditinggalkan Trump secara sepihak pada Mei 2018.

AS mengedarkan memo enam halaman pada Kamis lalu dari pengacara Departemen Luar Negeri, mengklaim bahwa Amerika Serikat tetap menjadi bagian dari Resolusi Dewan Keamanan 2015 2231, dan masih memiliki hak untuk menggunakan ketentuan snapback.

Namun, juru bicara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan pada hari Minggu bahwa Amerika Serikat bukan lagi pihak JCPOA dan oleh karena itu tidak dapat memaksakan penerapan kembali sanksi PBB terhadap Iran. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: