NewsTicker

Rakyat Kuwait dan Parlemen Kutuk Normalisasi dengan Zionis Israel

KUWAIT – 41 deputi (dari 50) di Majelis Nasional Kuwait menandatangani pernyataan yang menegaskan bahwa Kuwait tidak akan menerima mundur dari komitmen pemerintah yang memperjuangkan Palestina, meskipun ada pengumuman perjanjian normalisasi antara UEA dan Israel di bawah naungan Amerika.

Pernyataan itu yang dikutip oleh KUNA menekankan bahwa rakyat Kuwait “akan terus memperkuat kepemimpinan politik dengan sikap berani, tegas, dan berkelanjutan terhadap masalah ini selama bertahun-tahun.”

Pernyataan itu juga menekankan bahwa “kejahatan pendudukan Zionis tidak dapat dihilangkan dengan normalisasi.”

Baca:

Rakyat Kuwait menggelar aksi pada Selasa malam di depan Kedutaan Besar Palestina di Kuwait, untuk menyatakan dukungan mereka pada perjuangan rakyat Palestina dan penolakan terhadap normalisasi UEA dengan Zionis.

Aktivis Kuwait juga menyatakan penentangan terhadap normalisasi, dan menganggap mereka yang meletakkan tangan di tangan Zionis sebagai “pengkhianat.”

Posisi yang sama juga ditunjukkan oleh mahasiswa di Kuwait, yang menolak normalisasi dengan entitas Zionis. Para Mahasiswa meminta Majelis Nasional dan pemerintah untuk memberlakukan undang-undang yang mengkriminalisasi normalisasi.

Dalam sebuah pernyataan, Mahasiswa Kuwait menganggap normalisasi mengabaikan hak Palestina, dan memberikan legitimasi kepada Zionis perampas kriminal atas kejahatan mereka.

Normalisasi jelas merupakan pelanggaran terhadap Islam, Arab dan Teluk. Jalan keluar yang jelas adalah posisi bersatu antara negara-negara Islam, Arab dan Teluk dalam melawan Zionis Israel.

Mahasiswa menghargai sikap resmi Kuwait yang menolak normalisasi, dan menekankan perlunya melanjutkan sikap yang mewakili posisi populer di semua spektrum dan komponennya yang menolak untuk mengakui normalisasi.

Pada 16 Agustus, 31 masyarakat dan asosiasi Kuwait mengumumkan penolakan mereka terhadap normalisasi dengan pendudukan Zionis, dengan menggambarkan normalisasi sebagai “tusukan di belakang rakyat Palestina dan Arab.”

Ketua Majelis Nasional Kuwait, Marzouq Al-Ghanim, menyatakan penentangannya terhadap kesepakatan abad ini, yang bertujuan untuk melemahkan perjuangan Palestina, sebelum konferensi darurat Uni Parlemen Arab yang diadakan pada bulan Februari di ibu kota Yordania, Amman.

Baca:

Ketika itu ia membuang salinan kesepakatan ke tempat sampah, dan menekankan bahwa kesepakatan itu “lahir dan mati” dan “tempatnya adalah tong sampah,” dan hari ini memperbarui penolakannya terhadap normalisasi dengan “Israel”.

Perlu dicatat bahwa Kuwait telah berkomitmen sejak tahun 1967 untuk menganggap entitas Zionis sebagai musuh sesuai dengan Dekrit Amiri yang dikeluarkan oleh Sheikh Sabah Al-Salem Al-Sabah pada saat itu, yang menyatakan bahwa negara berada dalam perang defensif dengan Zionis di Palestina. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: